Takkan Ada Insentif Tambahan Buat Asing

NERACA

Jakarta---Pemerintah menegaskan tidak akan memberikan insentif tambahan untuk meningkatkan investasi asing yang masuk ke Indonesia. Hal ini semata-mata guna memacu pergerakan ekonomi industri di 2012. "Untuk mengerakkan sektor industri pada 2012, yang ada di tengah ketidakpastian ekonomi global, pemerintah tidak akan menambah insentif apapun," kata Deputi Menko Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan Edy Putra Irawady kepada wartawan di Jakarta.

Menurut Edy, terkecuali hal itu sudah di tetapkan dalam undang-undang. Misalnya PP 62/2009 tentang insentif sektor dan wilayah tertentu. Apalagi ruang fiskal yang disediakan dalam 2012 sudah cukup untuk memberikan insentif bagi industri dalam negeri.

Lebih jauh Edy menambahkan pemerintah juga tidak akan memberikan insentif tambahan untuk penanam modal baik domestik maupun asing yang akan masuk ke Indonesia. Mengingat hingga kini insentif yang ditawarkan pemerintah sudah cukup banyak dan menjanjikan.

Ditempat terpisah, anggota Komisi XI DPR, Kemal Azis Stamboel meminta pemerintah tetap memperhatikan kualitas dari upaya mempercepat realisasi penyerapan anggaran tahun 2011. “Kalau penyerapan dan kualitas belanja pemerintah baik seharusnya laju pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal III-2011 bisa diatas 6,5%.

Oleh karena itu, kata Kemal, pihaknya berharap belanja pemerintah bisa naik guna mendongkrak pertumbuhan. Namun jangan sekarang menghabiskan anggaran. “Kita berharap ada peningkatan belanja pemerintah yang lebih baik di kuartal IV, sehingga bisa mendorong pembangunan dan pertumbuhan lebih baik. Tetapi upaya ‘kebut’ anggaran di dua bulan terakhir yang biasa terjadi ini juga harus tetap memperhatikan kualitas. Jangan hanya asal menghabiskan anggaran”, tuturnya

Sebagaimana diketahui, menjelang akhir tahun 2011, surplus anggaran pemerintah berpotensi semakin besar karena realisasi penyerapan anggaran pemerintah belum maksimal. Diperkirakan dari anggaran belanja pemerintah pusat sebesar Rp717,9 triliun tahun ini, hanya 90 persen yang dapat diserap.

Oleh karena itu, pemerintah melalui Menteri Keuangan Agus Martowardojo kembali meminta kementerian/lembaga dan Pemda untuk merealisasikan pencairan anggaran tepat waktu. Adapun sampai akhir September ini, penyerapan anggaran pemerintah baru tercapai 54,4 persen dari target atau Rp717,9 triliun. Hal ini membuat APBN-P 2011 masih mengalami surplus Rp72 triliun. “Yang lebih disayangkan lagi realisasi belanja modal lebih rendah dibawah 30 persen. Padahal penyerapan anggaran ini sangat penting untuk mendorong laju pembangunan ekonomi nasional," katanya.

Menurut dia, surplus anggaran yang nantinya menjadi Sisa Lebih Penggunaan Anggaran (Silpa) yang terlalu besar tentu tidak baik. Karena ada pembangunan infrastruktur yang seharusnya selesai menjadi terbengkalai. Padahal setiap kemunduran realisasi pembangunan infrastruktur akan mengurangi daya dukung untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, pembukaan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan rakyat.

"Kita tentu tidak menginginkan itu. Sayang sekali kalau alokasi yang sudah tersedia ini tidak dioptimalkan. Pemerintah pusat dan pemda harus mencari terobosan”, ujarnya.

Kemal kembali mengingatkan, di tengah ancaman krisis dan resesi global maka pemerintah harus secara serius mengambil langkah-langkah antisipatif. Selain penyerapan dan kualitas realiasi belanja APBN yang sangat penting, pemerintah juga perlu memperbaiki kebijakan perdagangan, investasi dan industri domestik. **cahyo

BERITA TERKAIT

Menhub: Takkan Subsidi Tiket Pesawat

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memastikan tidak akan mensubsidi tiket pesawat niaga berjadwal untuk menekan harga tiket pesawat yang selama…

MAHASISWA BELAJAR BUAT WAYANG

Mahasiswa menyelesaikan pembuatan wayang kulit berbahan karton saat mengikuti praktik kewirausahaan di tempat kerajinan wayang kulit di Kota Madiun, Jawa…

Ada Kartel Tiket Pesawat?

KPPU tidak pernah setuju penetapan tarif batas bawah ini karena akan menutup perusahaan lain yang efisien untuk bersaing secara sehat.…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Anehnya Boikot Uni Eropa Terhadap Sawit Indonesia

      NERACA   Jakarta – Industri kelapa sawit Indonesia menjadi penopang terhadap perekonomian. Data dari Direktorat Jenderal Pajak…

Meski Naik, Struktur Utang Indonesia Dinilai Sehat

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menilai struktur utang luar negeri (ULN) Indonesia yang naik 4,8 miliar…

Pentingnya Inklusivitas Sosial untuk Pertumbuhan Berkualitas

    NERACA   Jakarta - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyatakan, inklusivitas sosial atau memastikan seluruh warga mendapatkan…