Asia Pasifik Jadi Harapan Ekonomi Dunia

NERACA

Jakarta----Pertemuan APEC tampaknya merespon terkait perkembangan ekonomi beberapa negara Asia Pasifik. Alasanya pertumbuhan ekonomi, khususnya Asia mengalami perkembangan yang cukup significant. Apalagi Indonesia diramal pada abad ke-21 memiliki potensi ekonomi yang tumbuh cepat dan memiliki strategis dalam peta dunia. "Saat ini, daerah Asia Pasifik yang menghubungkan Asia dan Amerika dan meliputi Samudera Pasifik dan Hindia, tumbuh dengan cepat menjadi tumpuan strategis dan ekonomis dunia," kata Presiden SBY di AS, Minggu (13/11)

Kepala Negara kemudian menggarisbawahi Abad Pasifik ini tidak akan terjadi begitu saja. Namun harus diperjuangkan setiap langkahnya. Bahkan Indonesia memiliki startegi mengedepankan 4 langkah yang dapat diambil untuk mencapai tujuan ini.

Langkah pertama, kata SBY, abad Asia Pasifik harus menjadi pusat bagi usaha-usaha pertumbuhan ekonomi dunia yang kuat, stabil, berkesinambungan, dan inklusif. Lalu langkah kedua, kata SBY, untuk menjadi abad Asia Pasifik, SBY menyampaikan setiap negara harus mendefinisikan ulang arsitektur regional menjadi terbuka, efektif, inklusif, dan transparan.

Ketiga, lanjut SBY, keharusan akan adanya sebuah evolusi keseimbangan yang dinamis. "Kita beruntung bahwa untuk pertama kalinya sejak waktu yang lama, hubungan antara kekuatan-kekuatan besar ditandai dengan kedamaian, stabilitas dan kerja sama, tetapi kekuatan-baru sedang tumbuh dan hubungan antarkekuatan berubah sehingga menjadi lebih cair," jelasnya

Dan keempat, SBY menekankan pentingnya agar abad Asia Pasifik dibangun atas dasar kondisi sosial yang cepat berubah. "Kita hidup di jaman konektivitas, jaman informasi dan keterbukaan, hirarki tradisional dipasangkan dengan jaringan baru individu dan organisasi di dunia tanpa batasan," jelas SBY.

Ditempat terpisah, Dana Moneter Internasional (IMF) kembali mengingatkan negara-negara maju. Karena tidak tertutup kemungkinan negara-negara maju tersebut kembali terkena resesi, kecuali para pembuat kebijakan bergerak cepat untuk menyepakati kebijakan dalam meningkatkan pertumbuhan.

Dalam catatan yang disiapkan untuk pertemuan puncak G20 di Cannes, Prancis, pekan lalu, IMF mengatakan pemulihan ekonomi di negara maju berada di level terbawah. Dalam rilis IMF yang dikutip dari Reuters mengungkapkan kebijakan pemerintah yang lumpuh dan inkoherensi telah berkontribusi memberi ketidakpastian, kehilangan kepercayaan, dan stres yang tinggi di pasar keuangan

Di samping itu, IMF juga mengatakan bila ekonomi negara maju sangat perlu untuk membuat rencana fiskal yang kredibel dalam jangka menengah. Oleh karena itu perlu kerangka reformasi sektor keuangan lebih lanjut yang terpadu guna menghadapi serangan krisis. Sementara di dalam ekonomi negara berkembang, pemerintah harus lebih cepat mengapresiasi nilai tukar mata uang.

Secara khusus, IMF mengatakan apabila ketidakpastian yang cukup besar tentang bagaimana keberlanjutan fiskal ini akan dicapai di Amerika Serikat (AS), Jepang, dan beberapa negara kawasan Euro. "Untuk mengurangi ketidakpastian ini, perekonomian negara-negara kawasan tersebut perlu bergerak cepat untuk menempatkan rencana konsolidasi jangka menengah yang kredibel, yang akan membantu melestarikan ruang dalam jangka pendek sehingga menyokong dukungan fiskal untuk membantu pemulihan," tambahnya.

Pembahasan dalam KTT G20 kali ini mencoba untuk mencegah melelehnya zona euro, khususnya di Yunani dan Italia. **cahyo

BERITA TERKAIT

Harapan KPK Mendatang

Setelah berkiprah selama hampir 16 tahun, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memang telah berbuat banyak dalam memberantas korupsi di negeri ini.…

Jokowi & Ekonomi Syariah

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Akhirnya usai sudah pergulatan politik nasional di tanah air kita  dan pada lima…

Beban Ekonomi Akibat DBD Capai US$ 381 Juta

    NERACA   Jakarta - Indonesia telah melawan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) sudah mencapai 50 tahun, akan tetapi…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

LG Kampanyekan Teknologi TrueSteam

  NERACA   Jakarta - PT. LG Electronics Indonesia (LG) bekerjasama dengan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Hermina Bekasi…

Masih Banyak Perusahaan Publik Tak Peduli HAM - Studi FIHRRST

      NERACA   Jakarta - The Foundation for International Human Rights Reporting Standards (FIHRRST), salah satu organisasi masyarakat…

Menkeu Proyeksi Defisit APBN Capai Rp310,8 Triliun

  NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memproyeksikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 berpotensi…