Akal-Akalan Grup Bakrie Dibalik Perseteruan Rothschild

NERACA

Jakarta - Perseteruan antara grup Bakrie dengan Nathaniel Philip Victor James Rothschild kini semakin meruncing. Apalagi dikabarkan investor asing itu tengah melancarkan aksi "kudeta" di Bumi Plc terhadap PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) untuk merebut tampuk kursi direktur utama.

Permasalahan ini mencuat ke permukaan setelah muncul protes Rothschild terhadap PT Bumi Resources Tbk (Bumi), terkait pembayaran utang ke China Investment Corporation (CIC) sebesar US$ 600 juta atau Rp 5,1 triliun. Menurut Rothschild, pelunasan lebih awal dalam rangka mengurangi beban utang BUMI tersebut dianggap tidak transparan.

Seperti dikutip laman Financial Times, Kamis (10/11) kemarin, Rothschild kemudian mengirimkan surat protesnya kepada Chief Executive Officer (CEO) Bumi, Ari Hudaya, yang isinya mempertanyakan kenapa perusahaan tambang yang banyak utang itu tidak menyelesaikan terlebih dulu utangnya US$ 500 juta kepada Bumi Plc.

Menyikapi hal tersebut Kepala Riset Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo menilai, kesalahan ini terletak pada Rothschild sendiri. Pasalnya, pasca-IPO Vallar di Juli 2010, lalu pada November 2010, hampir mayoritas saham perusahaan tambang batu bara asal Amerika Serikat (AS) itu diserahkan begitu saja ke Bumi. “Ibaratnya, perusahaan kosong terus diisi uang US$ 1,07 miliar terus dikasih Bakrie. Menurut saya, itu sama saja namanya setor nyawa,” ujar Satrio kepada Neraca, Kamis (10/11).

Selain itu, lanjut dia, mungkin saja ada kesepakatan tersirat namun tidak tersurat yang tidak dipenuhi oleh Bakrie, sehingga membuat Rothschild kecewa. “Saya kira ini hanya akal-akalan Bakrie saja supaya bisa punya akses di Bursa Efek London. Dan dia (Rothschild) baru sadar terus komplain sekarang,” jelasnya.

Meski begitu, Satrio melihat tindakan Rothschild ini menjadi sia-sia sebab kepemilikan saham dia di Bumi Plc sekarang hanya 11%. “Dengan kisruh ini, jangan sampai investor luar negeri menyimpulkan, oh, begini model orang Indonesia berbisnis? Ini tidak ada kaitannya. Mereka harus melihat, ini hanya masalah antara Bakrie dan Rothshild,” ungkap Satrio.

Senada dengan Satrio. Pengamat pasar modal dari Financorpindo Nusa, Edwin Sinaga mengatakan, ketidaktransparanan Bakrie dalam membayar utangnya kepada CIC terlebih dahulu, dinilainya bukan masalah. Secara logika, Bakrie harus membayar utang yang memiliki bunga lebih besar dahulu.

Edwin juga menuturkan, dirinya tidak bisa menyalahkan siapa pun dalam kasus ini. Sebab, yang mengetahui akar permasalahan hanya kedua belah, sehingga, perlu pemeriksaan lebih jauh. “Persoalan ini sangat njelimet, jadi perlu dianalisa lebih dalam lagi,” imbuh dia, kemarin.

Bahkan, langkah Bumi ini diapresiasi Direktur Capital Bridge Indonesia, NS Aji Martono, yang mengatakan Bumi mempunyai itikad baik untuk membayar utang. ”Jadi dalam hal ini, saya tidak melihat adanya niat dari Bumi untuk ngemplang utang itu,” katanya kemarin.

Menurut dia, mungkin pembayaran utang kepada CIC itu disesuaikan dengan kemampuan cash flow yang sedang berjalan. “Tentu dalam membayar utang, Bumi mempunyai skala prioritas sesuai dengan arus kas perusahaan,” ujarnya. Aji Martono menambahkan, secara kronologis Bumi lebih dulu berutang kepada CIC, sehingga wajar sekali kalau Bumi membayar lebih dulu ke perusahaan investasi itu.

Dirinya yakin, Bumi akan meneruskan pembayaran utangnya karena return yang diperoleh dari anak usaha, PT Kaltim Prima Coal, cukup besar jumlahnya. Lain halnya, kalau Bumi dalam keadaan default, baru dipertanyakan kondisi keuangan perusahaan.

Isu gagal bayar

Aksi Nathaniel Rothschild tidak berhenti disini. Dia juga telah menyebarkan isu gagal bayar (default) utang BNBR ke publik dalam upayanya tersebut. Namun, grup Bakrie menyambut rencana penggulingan ini dengan membatalkan divestasi 75% saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).

Mereka melihat gelagat Rothschild yang dianggap sengaja menurunkan harga saham Bumi Plc untuk merebutnya dari tangan grup Bakrie. Dengan turunnya harga saham Bumi Plc tersebut maka status utang Bakrie Brothers (BNBR) menjadi tinggi dan bisa terjadi default. Pada saat kondisi makin parah, disitulah Rothschild akan masuk.

Memang, sejak Agutus 2011 hingga sekarang, harga saham Bumi Plc terus tergerus hingga lebih dari 30%. Ini membuat BNBR terpaksa menyerahkan tambahan saham Bumi Plc untuk top up. Dengan pembatalan divestasi saham BRMS ini, grup Bakrie masih punya peluang memperoleh pinjaman untuk mengatasi utang senilai US$ 1,34 miliar kepada 10 kreditur yang di fasilitasi Credit Suisse.

Grup Bakrie sendiri tidak berniat menambah kepemilikan saham di Bumi Plc, yang saat ini dikuasai sekitar 47,6% bersama Long Haul Holdings Ltd dan BORN. iwan/agus/ahmad/ardi/bani

BERITA TERKAIT

Dibalik Aset Kelolaan Tumbuh 12% - Perayaan HUT BUMN Catatkan Rekor MURI

Rangkaian kegiatan dalam rangka peringatan HUT ke21 BUMN juga dilakukan di Semarang, Jawa Tengah. Hal yang berbeda pada perayaan HUT…

OJK Dorong Grup Konglomeasi Go Public

Dorong pertumbuhan emiten baru di pasar modal, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bakal menyasar pembayar pajak besar atau anak perusahaan grup…

Tiket Kembali Mahal, Tarif Promo Garuda Hanya Akal-Akalan Manajemen

Tiket Kembali Mahal, Tarif Promo Garuda Hanya Akal-Akalan Manajemen NERACA Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan telah menetapkan batas bawah…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Investor Tidak Perlu Khawatirkan Situasi Politik

NERACA Jakarta – Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengimbau investor dan dunia usaha di Indonesia tidak perlu mengkhawatirkan situasi politik saat…

HASIL SEMENTARA PASLON JOKOWI-MA’RUF AMIN UNGGUL - Pemilu Aman, Citra Indonesia Makin Baik

Jakarta-Hingga Pk. 16.00 kemarin (17/4) proses perhitungan cepat (Quick Qunt) dari empat lembaga survei menunjukkan paslon Jokowi-Ma’ruf Amin untuk sementara…

Akuisisi Bank Permata Sejalan Aturan "Single Presence Policy"

NERACA Jakarta – Tren maraknya perbankan merger ataupun diakuisisi perbankan asing, tentunya memberikan gambaran ketatnya persaingan industri perbankan dalam negeri.…