Bankir Akui Masih Sulit Turunkan Bunga - BI RATE TURUN JADI 6%

Jakarta - Meski Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) sudah memutuskan untuk memangkas suku bunga acuannya yaitu BI Rate sebesar 50 bps menjadi 6%, sepertinya masyarakat masih bermimpi untuk mendapatkan tingkat suku bunga kredit “single digit”. Seperti diakui Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI Wimboh Santoso, biasanya akan ada jeda waktu (time leg) tiga bulan penurunan bunga kredit setelah BI Rate turun.

NERACA

“Ketika BI Rate naik serta merta memang bank biasanya langsung menaikkan suku bunganya. Naik itu memang lebih mudah daripada turun. Banyak faktornya bank untuk menurunkan bunga kredit," ungkap Wimboh di Jakarta, Kamis (10/11).

Simak saja pernyataan Ketua Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas) Sigit Pramono yang menyebutkan bahwa jangan berharap dalam waktu dekat pasca BI Rate turun perbankan akan menurunkan suku bunga kreditnya.

Pasalnya, lanjut Sigit, ada empat faktor yang mendorong penurunan suku bunga dasar kredit (SDBK). "Pertama, jika suku bunga tabungan, giro, dan deposito lebih dulu diturunkan. Ketiga hal itu kan ibaratnya kulakan kami. Kalau tiga hal itu belum turun jangan berharap bunga kredit akan turun," ujarnya kemarin.

Alasan kedua, adanya persaingan yang wajar di industri perbankan. Jika sebuah bank sudah menurunkan suku bunga tabungan, giro, dan deposito bank-bank lain otomatis juga akan mengikuti. "Ketiga, kemampuan perbankan melakukan efisiensi sebaik mungkin. Dengan begitu, perbankan bisa mengurangi beban biaya (cost of fund) dan ujung-ujungnya bisa menjual produk lebih murah," papar Sigit.

Ada pun pertimbangan keempat adalah faktor premi risiko yang akan sangat bergantung kepada kondisi makro perekonomian dalam negeri. "Semakin baik kondisi makro, maka makin baik pula premi risiko dan berdampak pada penurunan bunga kredit. Secara jangka panjang penurunan BI Rate dan SBDK inline. Hanya saja, tidak serta-merta. Ada rentang waktunya yang tidak bisa langsung dipastikan," jelas Sigit.

Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti pun mengamini alasan Sigit. Menurut Destry, penurunan BI Rate itu tidak serta-merta suku bunga kredit turun karena perbankan harus mereview terlebih dahulu. “Paling cepat tiga bulan dan paling lama enam bulan. Ada banyak faktor seperti faktor premi risiko dan dampak BI Rate turun ke perusahaan bagaimana,” katanya, Kamis.

Destry menambahkan, khusus Bank Mandiri, ada penilaian dari komite kredit internal terkait turunnya BI Rate ini. Alasannya, keputusan naik atau tidaknya SBDK, tidak bisa dari satu pihak saja melainkan melibatkan beberapa pihak yang antara lain divisi risk management, korporasi, dan legal.

Mengenai premi risiko, lanjut Destry, akan sangat bergantung kepada kondisi makro perekonomian dalam negeri. Sementara terkait dampak, lebih kepada bagaimana kemampuan perbankan melakukan efisiensi. “Seperti mengurangi beban biaya (cost of fund),” kata dia.

Sementara dalam hitungan ekonom Bank Rakyat Indonesia (BRI) Irianto, penurunan BI Rate biasanya diikuti dengan suku bunga penjaminan LPS turun terlebih dahulu, sehingga suku bunga counter rate deposito akan turun. Pada gilirannya suku bunga pinjaman komersial pun akan turun. “Saat ini, persaingan memperoleh dana masih ketat sehingga kalau dari supply demand bunga dana sepertinya agak sulit turun”, katanya.

Menurut Irianto, kendala bank belum mau menurunkan suku bunga karena inflasi dan cerminan dari BI Rate yang turun baru satu sisi dalam pricing. Sementara masih ada supply demand yang tercermin dengan ketatnya persaingan perolehan dana murah, sehingga bunga over the counter untuk dana masih tinggi. “Hampir mirip kejadian krisis 2008,” ujarnya.

Terlebih lagi, kata Irianto, BI belum punya payung hukum untuk “memaksa” bank-bank menurunkan suku bunga kredit. “Itu kan mekanisme pasar. Bank Indonesia hanya mengumpulkan bank-bank yang menguasai pasar lalu membuat komitmen bersama. Tapi, kalau pasar dana sedang ketat yang pasti ada saja bank yang break the commitment”, ungkapnya.

Meski begitu, Irianto mengakui bahwa BI Rate sangat berarti karena sangat berpengaruh pada counter rate, kalau yang suku bunga nego hanya pada nasabah-nasabah tertentu di suatu bank, karena pemilik dana besar kan sudah diluar atau diatas maksimal penjaminan, sehinga posisi tawar mereka sangat kuat dalam posisi pasar ketat.

Kurangi Dampak Buruk

Yang jelas, Rapat Dewan Gubernur BI memandang penurunan BI Rate ini sejalan dengan tekanan inflasi ke depan yang semakin rendah sekaligus sebagai langkah perbaikan terhadap struktur suku bunga jangka pendek, menengah dan penjang. "Penurunan tersebut juga dimaksudkan untuk mengurangi dampak memburuknya prospek ekonomi global terhadap perekonomian Indonesia," demikian hasil Rapat Dewan Gubernur BI yang disampaikan oleh Juru Bicara BI Difi Johansyah di Gedung BI,Jakarta, Kamis.

BI memandang, indikator produksi dan konsumsi negara-negara maju masih terus melambat, sementara pasar keuangan global masih cenderung volatile meski sempat rebound. "Sementara itu kondisi pasar keuangan domestik semakin stabil disertai sentimen pasar yang positif seiring dengan berbagai kebijakan yang ditempuh BI bersama dengan pemerintah," jelasnya.

Ke depan, Dewan Gubernur terus mewaspadai perkembangan ekonomi global, yang masih diliputi ketidakpastian, seiring belum solidnya penyelesaian masalah utang dan fiskal di Eropa dan AS. "Dewan Gubernur akan menempuh respon suku bunga serta bauran kebijakan moneter dan makroprudensial lainnya untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan memitigasi potensi penurunan kinerja perekonomian Indonesia dengan tetap mengutamakan pencapaian sasaran inflasi, yaitu 5 plus minus 1% pada tahun 2011 dan 4,5 plus minus 1 % di 2012," papar Difi.

Dewan Gubernur juga menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tetap kuat meskipun kekhawatiran terhadap prospek ekonomi dunia masih tinggi. "Secara keseluruhan tahun 2011 pertumbuhan ekonomi diprakirakan mencapai 6,5%," tutur Difi.

BI mengharapkan dengan suku bunga acuan BI yang turun ini diharapkan diikuti oleh suku bunga perbankan khususnya suku bunga kredit. "Kita harapkan industri perbankan dapat melihat lebih jauh impact dari penurunan ini," tandas Difi. sahlan/bari/ardi/rin

BERITA TERKAIT

Laba Bersih Tower Bersama Turun 4,10%

PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) mencetak laba bersih yang didistrisbusikan kepada entitas induk di kuartal III 2018 sebesar Rp…

The Fed Tahan Suku Bunga

    NERACA   Jakarta – Bank sentral Amerika Serikat, The Fed mempertahankan suku bunga utamanya. Hal itu sejalan dengan…

BI Diprediksi Naikkan Bunga Acuan Lagi

      NERACA   Jakarta – Bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed berencana untuk menaikkan suku bunga acuannya…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

PENYEBAB TINGGINYA HARGA JAGUNG DI DALAM NEGERI - Kementan: Pasokan Jagung Dikuasai ‘Feed Mill’ Besar

Jakarta-Kementerian Pertanian mengungkapkan, pasokan jagung di Indonesia kebanyakan dikuasai oleh perusahaan pabrik pakan besar (feed mill). Penguasaan tersebut menjadi salah…

ASEAN Perlu Bekerjasama dalam Pembangunan Berkelanjutan

NERACA Jakarta - Peneliti UI yang tergabung dalam Center for Sustainable Infrastructure Development (CSID) Fakultas Teknik UI menyatakan perlu kerja…

AKIBAT PRODUKTIVITAS TERTINGGAL DARI NEGARA LAIN - Bappenas: Pertumbuhan RI Relatif Stagnan

Jakarta-Pejabat Bappenas mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai relatif stagnan dan masih jauh di bawah rata-rata. Salah satu faktor penyebabnya adalah…