Perlu Didukung “Pengecilan” BUMN di PPA

NERACA

Jakarta---Rencana Kementerian BUMN memperkecil jumlah BUMN yang ditangani PT Perusahaan Pengelola Aset/PPA (Persero) agak perlu mendapat dukungan. Alasanya, pasalnya, dana yang dimiliki PPA tidak mencukupi untuk merestrukturisasi dan merevitalisasi sejumlah BUMN yang ditanganinya. "PPA dibentuk untuk melakukan restrukturisasi dan revitalisasi BUMN dengan dua kategori," kata Mantan Sekretaris Menteri BUMN Said Didu kepada wartawa di Jakarta,10/11

Lebih lanjut kata Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Kategori pertama, BUMN yang memiliki prospek bisnis baik, namun menghadapi masalah keuangan. Kategori kedua, BUMN yang mendapat penugasan khusus, seperti PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan MNA.

Dengan demikian, kata Said lagi, BUMN di luar dua kategori tersebut bukan menjadi tugas PPA untuk menyehatkannya. "Di luar kategori itu diselesaikan oleh pemegang saham," kata dia.

Yang jelas, kata Said, alternatif penyehatan BUMN bisa dilakukan dengan lima cara, yakni diberikan penyertaan modal negara (PMN), dimerger, diakuisisi, dikembalikan ke negara menjadi Badan Layanan Umum (BLU) atau dilikuidasi.

Sebelumnya, Menteri BUMN Dahlan Iskan mengakui sejumlah BUMN rugi berskala kecil akan dilepas dari program restrukturisasi yang ditangani PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA). Dengan demikian, jumlah BUMN rugi yang ditangani PPA dipastikan menyusut. "Saya sudah minta PPA untuk menangani BUMN yang besar-besar, tidak perlu yang kecil,” terangnya

Lebih lanjut dia menjelaskan, untuk BUMN rugi yang diakuisisi BUMN lain akan dilepas dari program restrukturisasi oleh PPA. Adapun, BUMN rugi yang akan diakuisisi BUMN lainnya sebanyak 15 BUMN.

Akuisisi tujuh BUMN ditargetkan rampung pada akhir tahun ini. Mereka adalah Perum Produksi Film Negara (PFN) akan diambil alih oleh PT Adhi Karya Tbk (Adhi), PT Pradnya Paramita dan PT Balai Pustaka setelah di-merger akan diakuisisi PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom), PT Energy Management Indonesia (EMI) Persero diambil alih PT Surveyor Indonesia.

Selanjutnya, PT Survey Udara Penas diambil alih PT Angkasa Pura (AP) I, PT Industri Sandang diambil alih PT PP dan PT Sarana Karya diambil alih PT Wijaya Karya Tbk (WIKA).

Sementara itu, 8 BUMN rugi lainnya akan menyusul pada tiga bulan berikutnya. Namun, Dahlan menjelasakan, untuk BUMN rugi dengan status Perum akan dilakukan kajian ulang lantaran sulit bagi BUMN untuk mengakuisisinya. Pasalnya, setelah akuisisi, BUMN merugi tersebut akan dijadikan anak usaha dari BUMN yang mengakuisisi.

Mengenai BUMN skala kecil yang akan dilepas dari program restrukturisasi oleh PPA, di antaranya PT Industri Kapal Indonesia (IKI), PT Industri Gelas (Iglas) dan PT Kertas Leces.

Bahkan, Dahlan mengaku, telah memberi solusi kepada BUMN tersebut untuk bisa memparbaiki kinerjanya. Misalnya, untuk PT Kerta Leces disarankan hanya memproduksi kertas tisu MG dan ketas sekuriti (security paper) agar bisa bersaing di pasar ekspor. **cahyo

BERITA TERKAIT

BTN Berangkatkan 1520 Orang Pemudik - Mudik Bareng BUMN

Tren mudik gratis kini mulai banyak dilakukan perusahaan swasta, maupun BUMN dan salah satunya PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk…

Meneg BUMN Resmikan Masjid Pintar Telkom

NERACA Jakarta –Menawarkan berbagai fitur dan fasilitas berbasis digital, Smart Mosque Al Istiqomah Telkom Landmark Tower diresmikan langsung oleh Menteri…

Tumbuh Pesat, Perlu Strategi Hadapi Ekonomi Digital

Oleh: Lutfiana Nadzroh, Staf Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu *) Melalui diterbitkannya Paket Kebijakan Ekonomi XIV, pemerintah menargetkan Indonesia…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Jadi Temuan BPK Bila Pemda Tak Cairkan THR

    NERACA   Jakarta - Kementerian Keuangan mengingatkan pemerintah daerah (Pemda) yang tidak menyalurkan Tunjangan Hari Raya (THR) maupun…

PPATK Keluarkan Surat Edaran Tentang Gratifikasi

      NERACA   Jakarta - Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Kiagus Ahmad Badaruddin mengeluarkan Surat…

Produksi Avtur Kilang Cilacap Meningkat

  NERACA   Jakarta - Produksi avtur atau bahan bakar pesawat terbang dari kilang Pertamina Refinery Unit IV Cilacap, Jawa…