Mobil Murah Masih Sebatas Impian

NERACA

Jakarta- Masyarakat Indonesia memang sejak dulu menginginkan adanya program mobil dengan kualitas yang baik dan dengan harga yang terjangkau. Namun program mobil murah yang dari dulu didengung-dengungkan oleh produsen mobil, ternyata belum dapat direalisasikan hingga kini. Entah apa sebabnya?

Pemerintah pada era Orde Baru misalnya, pernah mencetuskan Program Mobil Nasional (Mobnas) Timor, lalu ada Mazda MR90, dan Daihatsu Ceria. Kemudian ada program tandem antara Toyota dan Daihatsu yang memproduksi tipe mobil kembar Avanza dan Xenia.

Namun harapan masyarakat untuk mendapat mobil murah dari produk mobil kembar itu, ternyata pupus semua. Semula dicanangkan harga mobil itu di bawah Rp 50 juta, ternyata setelah jadi harganya melejit menjadi di atas Rp 100 juta. Akankah program mobil murah itu hanya baru sebatas mimpi belaka di siang bolong?

Menurut ekonom kepala LIPI Dr. Latief Adam, ada banyak kendala dalam menciptakan mobil murah. ”Yang jelas, kita belum punya kemampuan memproduksi sukucadang mobil secara menyeluruh. Mayoritas masih diimpor, sehingga sulit mencapai biaya efisiensi yang optimal. Ketergantungan impor sukucadang membuat kita sulit untuk mengembangkan inovasi sektor otomotif, apalagi menciptakan mobil murah,” katanya di Jakarta, Rabu (9/11).

Menurut dia, tetapi sebenarnya bukan hanya soal sukucadang. Masalah baja juga menjadi kendala. Indonesia punya produsen baja seperti Krakatau Steel, namun selama ini KS seringkali ditolak produknya karena dianggap tidak memenuhi standar.

”Dengan produksi baja yang minim, mobil murah akan sulit direalisasikan,” katanya.

Latief mengatakan, manfaat mobil murah ini tidak akan signifikan. Secara makro, mobil murah hanya akan membuat konsumsi BBM melonjak. Apalagi pemerintah belum punya kebijakan subsidi yang baik.

”Konsumsi BBM akan membengkak karena sektor yang paling banyak menyerap BBM adalah sektor transportasi,” tuturnya.

Menurut dia, bisa jadi produsen mobil tidak merasa untung dengan ikut program mobil murah. Apalagi kalau produksinya di Indonesia. Tentu pemerintah tidak ingin semua sukucadang dari produk impor.

”Barangkali ada kekhawatiran mereka akan terjadi alih teknologi jika dilaksanakan produksinya di Indonesia. Ada ketakutan mengenai alih teknologi, seperti halnya dengan rencana program Mobil Nasional Timor pada era Orde Baru,” katanya.

Apabila program Mobnas itu berhasil, maka kemungkinan ketergantungan kita kepada produsen di luar negeri akan berkurang, sehingga ada upaya untuk menggagalkan program itu.

Awal Tahun 2012?

Berbeda dengan Mukiat Sutikno, Managing Director Hyundai Indonesia. Dia mengatakan optimistis proyek mobil murah di Indonesia akan dapat terealisasi awal tahun 2012. Karena itu, Indonesia perlu memperbaiki infrastruktur yang ada terlebih dahulu. “Memang baru rencana sih, tetapi kemungkinannya juga cukup besar,” kata Mukiat.

Tetapi, lanjut Mukiat, meski namanya mobil murah tetap saja tidak bisa dipatok dengan harga di bawah Rp 60 juta. Karena saat ini harga baja juga sedang mengalami kenaikan. “Kalau mau bikin yang asal-asalan sih bisa di bawah Rp 60 juta, tetapi tetap saja harga tidak bisa membohongi kualitas, idealnya sih mobil murah dengan kualitas cukup baik ini dipatok di angka Rp 75 juta -Rp86 juta,” jelasnya.

Sementara itu, mengenai gagalnya proyek mobil murah seperti Timor, Mazda MR, disebabkan karena kualitasnya kurang baik. Bahkan dalam hal ini Indonesia sempat menuai komplain dari Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

“Kalau kegagalan Mazda MR terletak di jaringan distribusinya, selain itu juga soal market positioning-nya sendiri,” ujarnya.

Untuk mendukung proyek mobil rakyat ini, yang utama adalah komponen suplemen. Selain itu juga sistem perpajakan akan sangat membantu. Kalau ini bisa diatasi baru Market Indonesia akan tumbuh dengan pesat. ”Kalau ini terealisasi maka akan banyak ATPM yang meliriknya,” tegasnya.

Sementara itu, Hyundai sendiri memang belum merealisasikan mobil murah ini seperti yang telah mereka lakukan di India dengan produk Hyundai Eon. Hal ini dikarenakan, tingginya pajak yang dipatok sehingga walaupun mobil tersebut murah, ketika masuk ke Indonesia akan menjadi mahal harganya. ”Mobil seperti itu sulit masuk ke Indonesia,” tuturnya.

Secara terpisah, anggota Komisi VI DPR Prof. Dr. Hendrawan Supratikno mengatakan karena masyarakat Indonesia saat berkeputusan akan membeli mobil, yang dilihatnya terlebih dahulu kualitas dari mobil tersebut, serta layanan purna jual, dan spare part yang mudah dijangkau dan berkualitas.

“Kalau mobil murah tapi hal tersebut tidak memenuhi kepuasan pengguna untuk apa dibeli, jangan sampai terjadi lagi kasus seperti motor China,” katanya.

Salah satu yang perlu diperhatikan dari produsen mobil ini adalah mengembangkan atau memberikan inovasi teknologi yang berkualitas tapi bisa dijangkau oleh masyarakat, mulai dari tingkat pelayanan purnajual, sukucadang yang berkualitas. munib/ahmad/novi/agus

BERITA TERKAIT

Jumlah Investor Masih Kecil - Reksadana Berpeluang Tumbuh Besar

NERACA Jakarta – Pertumbuhan industri reksadana tiap tahunnya selalu mengalami pertumbuhan seiring dengan mulai meleknya masyarakat berinvestasi di pasar modal.…

Sentimen Positif Global - Laju IHSG Masih Bertahan di Zona Hijau

NERACA Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (22/1) berhasil ditutup menguat 0,27% atau 17,73 poin di…

Ford Rencanakan Teknologi Nirkabel Baru Untuk Mobil

Ford Motor Co mengatakan pada Senin (7/1) bahwa pihaknya berencana untuk meluncurkan teknologi nirkabel untuk model kendaraan baru di Amerika…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

PALING LAMA PARKIR DEVISA TIGA BULAN - DHE Wajib Disimpan di Dalam Negeri

Jakarta-Pemerintah akhirnya resmi menerbitkan aturan yang mewajibkan pengusaha untuk memarkir devisa hasil ekspor  (DHE) di dalam negeri paling lama 3 bulan,…

RATUSAN JADWAL PENERBANGAN DIBATALKAN - Kenaikan Tarif Pesawat Diprediksi Pengaruhi Inflasi

Jakarta-Menko Perekonomian Darmin Nasution memprediksi tingginya harga tiket pesawat akan berdampak pada laju inflasi Januari 2019. “Tentu akan ada pengaruhnya.…

IMF Ingatkan Soal Utang, Menkeu Berdalih Bukan untuk RI

NERACA Jakarta - Ketika berpidato di konferensi pers Prospektus Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde menyebutkan…