IMF Minta Asia Siap Hadapi Krisis

NERACA

Beijing – Dana Moneter Internasional (IMF) meminta negara-negara Asia tak mengangap remeh dampak krisis Eropa. Masalanya saat ini perekonomian dunia menghadapi risiko terjun ke ketidakpastian dan ketidakstabilan finansial. Karena itu perlu kewaspadaan dan kesiap-siagaan yang tinggi di Asia. "Asia tidak kebal. Apakah ini berhubungan dengan perdagangan atau sektor finansial yang dapat beroperasi sebagai pemicu krisis, Asia harus bersiap," kata Managing Director IMF Christine Lagarde dikutip dari AFP, Rabu (9/11)

Oleh karena itu, kata Lagarde, Asia harus membantu secara bersama-sama mengatasi perekonomian dunia. "Jika kita tidak beraksi bersama, perekonomian di seluruh dunia mengalami risiko spiral dari ketidakpastian, ketidakstabilan finansial," tambahnya

Lagarde yang sedang menghadiri forum International Finance Forum di Beijing China selama 2 hari mengaku sedang s fokus membahas krisis utang di Eropa yang tak juga selesai. Namun belum jelas siapa saja yang akan ditemui Lagarde dalam kunjungannya tersebut, namun diperkirakan membahas kontribusi China untuk lembaga bailout Eropa, European Financial Stability Facility, yang akan membantu kawasan Eropa keluar dari krisis.

Pimpinan dari EFSF, Klaus Regling sudah berkunjung ke Beijing untuk melakukan pembicaraan tentang kemungkinan kontribusi China, namun sejauh ini belum ada konfirmasi komitmen negeri tirai bambu tersebut untuk bantuan finansial membantu Eropa.

Eropa sudah berdiskusi dengan China dan investor lain tentang bagaimana membuat struktur lembaga investasi dengan tujuan khusus dan mengeksplorasi kemungkinan mengkaitkannya dengan IMF. "Kami semua di dalamnya bersama dan keberuntungan kami akan meningkat atau jatuh bersama," ujar Lagarde lagi

Dari perkembangan krisis Eropa, Perdana Menteri Yunani George Papandreo sebelumnya telah menyatakan mundur usai mengusulkan rencana referendum atas bailout yang kontroversial dan memicu kemarahan pemimpin Eropa. Dan kemarin, Perdana Menteri Italia, Silvio Berlusconi menyatakan siap mundur setelah pengesahan UU APBN negara tersebut, sehingga memunculkan harapan penanganan krisis utang yang lebih agresif di negara tersebut.

Ditempat terpisah, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Halim Alamsyah mengatakan

Krisis ekonomi global yang saat ini melanda Eropa dan Amerika Serikat (AS) lebih karena sifat rakus dari para pelaku pasar yang tamak. "Krisis global saat ini, merupakan kelanjutan dari krisis pada 2008-2009. Diakibatkan sifat rakus pelaku pasar yang akibatnya banyak menanggung utang dan terlalu besar mengambil risiko," jelasnya.

Dia menjelaskan, pemain pasar yang ingin memperoleh keuntungan besar-besaran secara serampangan, telah mengakumulasi utang di luar kemampuan mereka untuk membayarnya kembali. Hal tersebut diperparah dengan sikap para kreditur yang dengan mudahnya memberikan pinjaman tanpa ada mitigasi risiko yang baik. "Situasi seperti ini dimanfaatkan oleh para kreditur," tegas dia. **cahyo

BERITA TERKAIT

MK Minta Kejaksaan Jadi Pihak Terkait Uji KUHAP

MK Minta Kejaksaan Jadi Pihak Terkait Uji KUHAP NERACA Jakarta - Mahkamah Konstitusi (MK) meminta Kejaksaan Agung untuk menjadi pihak…

Investasi Energi, Jepang Minta Regulasi Diperbaiki

    NERACA   Jakarta – Managing Director The Energy Conservation Center Japan (ECCJ), Masahide Shima menyatakan bahwa banyak investor…

OJK Minta BPR Jaga NPL

      NERACA   Denpasar - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta BPR di Bali untuk menjaga pengelolaan kredit lebih…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Mengganti Terigu Impor dengan Produk Buatan Lokal - Teknologi Pangan

        NERACA   Bogor - Mie memang menjadi santapan favorit masyarakat Indonesia, tanpa pandang usia. Sayangnya mie…

Mewaspadai Inflasi Di Akhir Tahun

      NERACA   Jakarta - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai ancaman…

LPEI Mendorong BUMN Ekspor ke Pasar Prospektif

    NERACA   Jakarta – Pasar prospektif menjadi salah satu alternatif negara tujuan untuk memperluas ekspor di samping Cina…