Wastika Karya Bakal Go Public di Kuartal III 2011 - Bidik Dana IPO Rp 900 Miliar

NERACA

Jakarta – Ambisi PT Waskita Karya untuk go public sudah tidak terbendung lagi. Bila dahulu sempat ditunda karena belum mendapatkan persetujuan pemerintah, kali ini ambisi tersebut bisa berjalan mulus karena telah mendapatkan persetujuan Menteri BUMN.

Chief Executive Officer PT Waskita Karya, M. Choliq mengatakan, pelaksanaan Initial Public Offering (IPO) perseroan akan dilakukan pada kuartal ketiga tahun ini dan rencananya, saham yang akan dilepas sekira 35%, “Perusahaan berharap IPO bisa dilakukan tahun ini juga dan memperoleh dana hasil IPO hingga Rp900miliar," katanya di Jakarta, Rabu (16/2).

Rencananya, sekitar 50% dari hasil IPO tersebut akan digunakan untuk melanjutkan pembiayaan proyek pada tahun 2011. Selain itu, akan digunakan juga untuk belanja modal(capital expenditure/capex) untuk tahun 2012. "Waskita berencana akan membangun proyek-proyek infrastruktur seperti jalan tol, pelabuhan, pembangkit listrik serta perumahan," ungkapnya.

Sebagai informasi, Waskita Karya merupakan salah satu BUMN yang telah mendapat izin dari DPR untukgo public.DPR memberikan izinnya kepada BUMN ini pada September 2008. Sebelumnya, rencana IPO Waskita Karya direncanakan akan dilakukan pada kuartal IV-2010 dan kemudian mundur ke tahun 2011 karena perseroan harus menunggu kinerja dan hasil IPO BUMN karya lainnya yaitu PT Pembangunan Perumahan (PP).

Tambah Modal

Asal tahu saja, PT Waskita Karya dan PT Hutama Karya meminta kepada pemerintah untuk tetap bisa melakukanInitial Public Offering(IPO) di tahun ini. Pasalnya, kedua BUMN Karya ini memerlukan tambahan modal untuk ekspansi.

Chief Executive Officer PT Waskita Karya, M. Choliq pernah bilang, saat ini perseroan memiliki modal ekuitas yang relatif lebih kecil dibandingkan BUMN Karya lainnya. "Kalau bisa, kami dimasukkan dalam IPO 2011 untuk meningkatkan kinerja," ungkapnya.

Permintaan untuk memprivatisasi perseroan dilakukan untuk dua hal. Pertama, agar perseroan bisa keluar dari program restrukturisasi oleh PT Perusahaan Pengelolaan Aset (PPA). Kedua, untuk memperkuat perseroan dalam hal ekuitas demi ekspansi ke depan.

Selain itu, Choliq menambahkan total ekuitas yang dimiliki perseroan masih lebih kecil dibandingkan BUMN Karya lainnya. Kondisi perseroan yang baru direstrukturisasi tersebut memungkinkan untuk melantai di bursa tahun ini.

Senada dengan Waskita Karya, Direktur Utama PT Hutama Karya S Subagyono menyatakan keinginan perseroan untuk IPO tahun ini lantaran perseroan ingin meningkatkan size penjualan. "Agar size penjualan naik, kami perlu modal dari masyarakat. Sehingga kami melamar untuk bisa IPO tahun ini," kata Subagyono.

Tahun ini, perseroan menganggarkan belanja modal Rp 109 miliar dan belanja operasional Rp 180 miliar. Serta menargetkan pencapaian laba bersih di tahun ini menjadi Rp 109 miliar, dari Rp 104 miliar di 2010.

Sebagai informasi, perusahaan pelat merahitu pernah berencana bisa meraup dana sebanyak Rp 600 miliar dari pelepasan sahamnya 35% ke publik. Namun kini rencana tersebut berubah angka menjadi Rp 900 miliar.

Selain itu, penundaan go public juga disebabkan masih menunggu suntikan dana dari PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) sebanyak Rp 475 miliar atas bantuan penyehatan perseroan. Dengan suntikan dana tersebut PPA akan mendapat kepemilikan saham di Waskita 14%.

Dengan begitu, jumlahsaham pemerintahyang bakal terdilusi di Waskita totalnya 49%. "Ya biar sehat, jadi habis disuntik, terus kasih infus," ujar M. Choliq.

Hingga akhir tahun 2010, perseroan menargetkan laba bersih sebesar Rp 155 miliar. Perusahaan pelat merahitu telahmengantongi kontrak sebanyak Rp 12 triliun, terbagi atas kontrak lama Rp 5 triliun dan kontrak baru tahun ini Rp 7 triliun.

Menurutnya, sebanyak 90 dari total kontrak tersebut merupakan kontrak dari proyek pemerintahsedangkan sisanya proyek swasta dan luar negeri. "Kalau luar negeri masih kecil hanya 5%," kata M.Choliq.

Dalam rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) tahun 2009, perseroan ditargetkan meraih kontrak Rp 4,5 triliun kontrak dengan laba bersih Rp 90 miliar. Tahun ini, BUMN infrastruktur itu menganggarkan belanja modal ataucapital expenditure(capex) Rp 60 miliar, lebih tinggi dari belanja modal tahun lalu sebanyak Rp 25 miliar.

Related posts