BI Alami Dilema Soal Capital Inflow

NERACA

Jakarta--- Derasnya aliran modal asing (capital inflow) ke Indonesia menimbulkan dilematis bagi Bank Indonesia. Masalahnya selain memberi dampak positif. Namun disisi lain juga memberi tantangan berat. "Masuknya capital inflow seperti pedang bermata dua. Di satu sisi akan meningkatkan cadangan devisa serta mendorong apresiasi rupiah, tapi di sisi lain tantangannya tidak ringan," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Halim Alamsyah di Jakarta, (9/11)

Diakui Halim, sebenarnya ada beberapa hal yang dapat dimanfaatkan dari masuknya capital inflow tersebut. Pertama, mengarahkan modal masuk untuk sektor usaha. "Stimulus pada sektor masuk, korporasi untuk initial public offering (IPO), dan terbitnya obligasi," terangnya

Selain itu, kata Halim, masuknya capital inflow juga digunakan untuk pembangunan infrastruktur di Indonesia. "Kita tahu dengan pembangunan itu akan menciptakan lapangan kerja. Terlebih lagi sektor bank sebagai pembiayaan enggan untuk jangka panjang karena tidak mismatch," ucapnya

Bahkan lanjut Halim, modal asing bisa membuat nilai rupiah terapresiasi. Sehingga cadangan devisa makin meningkat. Sayangnya, tantangan lain yang harus diantispasi adalah adanya pembalikan arus secara besar-besaran saat tidak ada pembauran instrumen investasi jangka panjang. "Banyak pihak bilang, Indonesia akan tahan akan dampak krisis global. Ada situasi yang gembira. Namun jangan terlalu, karena ada tantangan besar. Indonesia memang tumbuh di tengah krisis, Tapi kita hadapi alami masuknya modal," tambahnya.

Berdasarkan catatan BI, selama 2010 ada aliran modal masuk US$ 800 miliar di dunia dari jumlah itu Asia mendapat jatah US$ 400 miliar. "Di mana 70% dari Asia tersebut masuk ke India dan China. Sisanya di emerging market," tuturnya.

Indonesia sendiri sejak 2010 hingga akhir semester I-2011 telah kedatangan modal asing US$ 45 miliar. Selama 2010 sekitar US$ 26 miliar, dan di Januari-Juni US$ 19 miliar.

"Indikatornya bisa dilihat di DJPU Kementerian Keuangan. SBN Asing terus naik hingga September," paparnya.

Sementara investasi langsung oleh pemodal asing juga naik. Tercatat di awal tahun investasi langsung atau foreign direct investment (FDI) mencapai Rp 39,5 triliun, atau setara Rp 4 triliun. Jumlah cadangan devisa di awal tahun juga mencatat kenaikan fantastis, dan hingga Agustus mencapai US$ 124 miliar, dan sedikit turun menjadi US$ 113 miliar di Oktober karena pembayaran utang luar negeri, dan pembayaran impor. "Selama ini ada mismatch pembiayaan," imbuhnya.

Ditempat terpisah, Ekonom Destry Damayanti menilai, derasnya aliran dana keluar (capital outflow) yang terjadi di kuartal III-2011, sehingga menyebabkan neraca pembayaran Indonesia (NPI) mengalami defisit USD4 miliar adalah hal yang wajar.

Menurut Destry, Kondisi global telah mempengaruhi aliran dana yang masuk ke Indonesia Agustus lalu, akibat ketidakstabilan ekonomi di Uni Eropa dan Amerika Serikat. "Sehingga dampaknya di pasar saham dan keuangan kita kemarin itu besar," ujarnya

Destry menambahkan capital outflow mencapai USD4 miliar adalah bentuk kekhawatiran investor karena merasa lebih aman memegang uang tunai. Hal ini, menurutnya, adalah sebuah konsekuensi yang tidak bisa dihindari lagi di pasar. "Namun, di kuartal IV sendiri saya rasa defisit neraca pembayaran tidak lagi sebesar kuartal III kemarin. Foreign direct investment (FDI) bagus, capital outflow tidak akan mengalir keluar sebesar kemarin, ekspor juga masih kuat," lanjutnya. **cahyo

BERITA TERKAIT

Tidak Sinkron, Koordinasi Lintas Lembaga Soal Mitigasi

NERACA Jakarta – Menjadi negara yang rawan akan bencana alam baik itu gempa, kebakaran hutan, banjir dan tsunami, sejatinya perlu…

BNI Belum Putuskan Soal Kerjasama WeChat dan Alipay

    NERACA   Jakarta - PT Bank Negara Indonesia (BNI) masih belum menentukan keberlanjutan kerja sama dengan dua perusahaan…

Kejagung Bantah Penyataan Polisi Soal SP3 Gunawan Jusuf

Kejagung Bantah Penyataan Polisi Soal SP3 Gunawan Jusuf NERACA Jakarta - Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung (Kejagung) Mukri membantah…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Produksi Migas Pertamina EP Lampaui Target

    NERACA   Jakarta - PT Pertamina EP, sebagai anak perusahaan PT Pertamina (Persero) dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama…

Menkeu : Tekanan Global 2019 Tak Seberat 2018

      NERACA   Jakarta - Kebijakan Dana Moneter Internasional yang menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada tahun ini…

BMKG – BPPT Kembangkan Sistem Deteksi Dini Tsuname Bawah Laut

    NERACA   Jakarta - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan BMKG bersama Badan Pengkajian…