Bank Tidak Efisien Berpotensi Too Big to Fail

Sejumlah komitmen yang disetujui oleh para petinggi negara G-20 yang telah melangsungkan pertemuan di Cannes, Prancis, baru-baru ini, adalah dirilisnya data dari 29 bank global yang dapat menimbulkan dampak sistemik apabila mengalami kebangkrutan. Atau dalam istilah populernya ke-29 bank itu bersifat too big to fail.

Memang sejak pertengahan 2011, kondisi perekonomian global kembali terlihat memasuki cuaca buruk. Lembaga peringkat internasional, Standard & Poor, pada awal Agustus menurunkan rating Amerika Serikat dari AAA ke AA+. Ini adalah suatu pukulan telak, mengingat rating Negara Paman Sam itu sejak 1941 selalu berada di level Triple A. Penyebabnya adalah, krisis fiskal dan prospek ekonomi yang negatif di AS menjadi argumen S&P untuk melakukan downgrade atas status kredit AS.

Tidak mengherankan jika ke-29 bank tersebut harus meningkatkan core tier one capital ratio di atas standard Basel III. Mereka adalah perbankan dari AS (8 bank), Eropa (17 bank), Jepang (3 bank) dan China (1 bank). Antara lain Bank of America, Citi, HSBC Holdings, BNP Paribas, Credit Suisse, Societe Generale, ING Groep, Sumitomo Mitsui FG dan Bank of China.

Di Eropa permasalahan krisis fiskal bahkan lebih parah. Secara teknis, sebenarnya Yunani sudah bangkrut dan sepenuhnya tergantung pada bantuan International Monetary Fund (IMF) dan Uni Eropa. Bantuan dana juga diberikan kepada Portugal dan Irlandia yang tengah mendekati kondisi bangkrut. Bahkan kalangan analis memperkirakan, Spanyol dan Italia akan segera menyusul.

Tidak hanya itu. Kejatuhan posisi fiskal negara-negara di Eropa dan AS akan menimbulkan kerugian bagi banyak lembaga keuangan besar dunia. Dengan posisi modal yang belum pulih dari krisis global lalu, hal ini akan memperburuk fungsi intermediasi. Kerugian juga akan dialami sektor riil yang akan menurunkan keyakinan (optimisme) kalangan pebisnis.

Indonesia yang berada di pusaran global tentu tidak dapat menghindar dari perkembangan ekonomi internasional yang negatif itu.Dampak perkembangan ekonomi global akan terjadi melalui jalur perdagangan, keuangan, dan psikologis. Daya tahan yang tinggi seperti ketika menghadapi krisis global pada 2008-2009 dapat saja terjadi, mengingat kontribusi sektor perdagangan hanya sebesar 10%-15% terhadap pembentukan output nasional.

Kendati demikian, dampak tidak langsung terhadap konsumsi dan investasi (yang mencakup 70% kontribusi output nasional) melalui jalur keuangan dan psikologis lebih penting untuk mendapat perhatian dari otoritas moneter di negeri ini.

Bagaimanapun, merosotnya kondisi ekonomi global setidaknya akan mengurangi porsi investasi asing secara drastis. Porsi dana asing yang masuk ke pasar keuangan (portfolio investment, dikenal juga sebagai hot money) mencapai US$15,2 miliar pada 2010 atau 50% dari saldo neraca pembayaran, diperkirakan terjadi sedikit penurunan pada akhir 2011. Namun dengan nilai cadangan devisa yang kini mencapai lebih US$120 miliar hal ini dapat menjaga posisi tetap aman untuk sementara waktu, jika terjadi penarikan dana asing secara mendadak (sudden reversal).

Jadi yang perlu diperhatikan, adalah pengawasan lebih ketat harus diberikan pada sektor keuangan, terutama perbankan. Karena pengelolaan risiko saat ini terdapat dua sumber utama kerentanan perbankan, yakni penurunan kualitas aktiva produktif (KAP) dan kerugian portofolio transaksi dari valuta asing dan surat berharga. Selain itu, tingginya suku bunga kredit juga berdampak negatif bagi perbankan sendiri, karena berpeluang meningkatkan rasio kredit bermasalah (non-performing loan -NPL). Waspadalah perbankan Indonesia!

BERITA TERKAIT

Layanan Digital Bank Muamalat Raih Penghargaan

      NERACA   Jakarta - PT Bank Muamalat Indonesia Tbk (Bank Muamalat) meraih ATM Bersama Award 2018 untuk…

Laba Bank Sampoerna Melonjak 78%

      NERACA   Jakarta - Bank Sampoerna mencatat laba bersih sebesar Rp 52,3 miliar pada kuartal III 2018.…

Tidak Ada Alasan Harga Beras Naik, Stok Cukup - SATGAS PANGAN POLRI KEJAR PELAKU PENGUBAH SPESIFIKASI BERAS

Jakarta-Kementerian Pertanian mengklaim kenaikan harga beras kualitas medium merupakan anomali, karena stok beras di gudang milik Bulog maupun di Pasar Induk…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Pembangunan Infrastruktur untuk Indonesiasentris, Bukan Pencitraan

  Oleh: Winarto Ramadhan, Mahasiswa Ilmu Pemerintahan UIT Makassar   Pemerintahan Jokowi-JK sudah memasuki ambang masanya. Empat tahun pemerintahan sudah…

Pengawasan Perbankan ala Mahathir

  Oleh: Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis   Tak berapa lama Mahathir Mohammad terpilih kembali sebagai…

Trump Berang, Rupiah Terbang, China Senang, Pemerintah Menang

  Oleh: Gigin Praginanto, Pemerhati Kebijakan Publik Tak cuma presiden Donald Trump yang menghadapi pelemahan yuan,  para produsen di Indonesia…