Mantan Anak Buah Ingatkan SBY Soal Krisis

NERACA

Jakarta--- Bank Dunia mengingatkan pemerintah Indonesia agar menjaga tingkat kewaspadaan yang tinggi. Hal ini terkait dengan dampak krisis Eropa terhadap terhadap perekonomian Indonesia bisa mengganggu sisi perdagangan, investasi, dan pariwisata.

"Tergantung tingkat seberapa serius krisis ini mempengaruhi baik melalui jalur perdagangan, investasi, pariwisata maupun dari sisi remitansi. Saya rasa semua harus meng-cover sebelah sana," kata Managing Director Bank Dunia, Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, Selasa (8/11)

Menurut mantan anak buah SBY ini, saat ini banyak negara maju yang memprediksi ekonominya akan menurun sekitar 0,6% akibat krisis di Eropa. Di kawasan Asia, perekonomian juga akan menurun. "Seluruh proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia saat ini sedang dalam proses untuk dievaluasi kembali karena krisis terjadi di Eropa sudah pasti akan mengurangi potensi pertumbuhan ekonomi dunia," tambahnya

Lebih jauh mantan Menteri Keuangan ini juga meminta agar pemerintah lebih berani menyusun kebijakan makro ekonomi seperti merancang APBN yang sehat baik di sisi penerimaan maupun di sisi belanja negara. "Kemudian membangun infrastruktur yang strategis untuk bisa menciptakan pemerataan ekonomi dan konektivitas yang lebih efisien,” ungkapnya

Selain itu lanjut Ani-panggilan akrabnya, memperkuat program jaring pengaman social dan melindungi kaum miskin. “Kemudian program sosial safety net atau menjaga terutama pada kelompok termiskin agar mereka tidak mudah atau tidak menjadi rentan terhadap guncangan harga makanan atau harga bahan bakar," tandasnya

Ani menambahkan pertumbuhan ekonomi global sedang mengalami perlambatan. Hal ini menyebabkan sejumlah negara-negara besar memangkas belanjanya. Meski begitu, pertumbuhan ekonomi Indonesia dikatakan tidak akan terseret pemangkasan belanja tersebut. Oleh karena itu, ketahanan dalam mengahadapi krisis global tentu saja akan sangat dipengaruhi oleh kewaspadaan terhadap kemungkinan gejolak ini akan ditransmisikan. "Melalui jalur apa? Apa jalur perdagangan atau kah itu melalui jalur arus modal yang ada (capital flow)" ungkapnya

Namun Any yakin, dengan beragamnya ekspor di Indonesia, maka akan memperkuat fundamental Indonesia dalam menghadapi krisis. "Indonesia akan terpengaruh lebih pada second round effect-nya, karena mungkin destination yang berasal dari Asia. Jadi baru akan terkena sesudah mereka (Asia)," terangnya.

Selain itu, Sri Mulyani mengingatkan efek dari sentimen yang berhubungan dengan persepsi risiko, terkait volatilitas atau gejolak arus masuk dan keluar. "Menjadi sangat penting untuk tidak volatile atau tidak terlalu bergejolak," papar dia.

Akan tetapi, dia tetap mengingatkan pemerintah untuk waspada terhadap semua kemungkinan gejolak dan pengaruhnya. "Baik itu melalui jalur perdagangan, jalur moneter, ataupun APBN kita yah," imbuhnya.

Yang jelas, kata Any, dirinya menjelaskan peranan Bank Dunia dalam memonitor dan mengobservasi situasi yang terjadi dan dampaknya terhadap beberapa negara terutama negara berkembang. “Tentunya untuk menghadapi tekanan atau kondisi krisis ekonomi Eropa tersebut," tuturnya

Kemudian Sri Mulyani dan SBY juga membicarakan soal kerjasama Indoensia dengan negara berpendapatan menengah untuk bisa membantu investasi di Indonesia sehingga ujungnya bisa menciptakan pemerataan kesejahteraan. Negara-negara berpendapatan menengah itu antara lain adalah Brasil, Meksiko, India, dan China. Peranan negara-negara kelas menengah tersebut saat ini dinilai Sri mulyani sangat penting karena mereka bisa bertahan di dalam situasi krisis. **cahyo

BERITA TERKAIT

Dukung Program Penghapusan Stunting - Indocement Beri Makanan Tambahan Anak Sekolah

Sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan dan juga dukungan kepada pemerintah dalam menghapus stunting atau gizi buruk, manajemen industri…

Mantan Ketua MK - Milenial Rugi Kalau Tidak Memilih

Mahfud MD Mantan Ketua MK Milenial Rugi Kalau Tidak Memilih  Jakarta - Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD menilai…

Pertimbangkan Kondisi Pasar - Anak Usaha BUMN IPO di Paruh Kedua

NERACA Jakarat – Sejak pembukaan perdagangan di tahun 2019, baru tiga perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kondisi…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Anehnya Boikot Uni Eropa Terhadap Sawit Indonesia

      NERACA   Jakarta – Industri kelapa sawit Indonesia menjadi penopang terhadap perekonomian. Data dari Direktorat Jenderal Pajak…

Meski Naik, Struktur Utang Indonesia Dinilai Sehat

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menilai struktur utang luar negeri (ULN) Indonesia yang naik 4,8 miliar…

Pentingnya Inklusivitas Sosial untuk Pertumbuhan Berkualitas

    NERACA   Jakarta - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyatakan, inklusivitas sosial atau memastikan seluruh warga mendapatkan…