Right Issue Mandiri Sudah Mulai Diperdagangkan

NERACA

Jakarta – Setelah menunggu cukup waktu cukup lama, kini para investor sudah bisa mengoleksi saham hasil right issue Mandiri melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETB). Pasalnya, saham right issue PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sudah mulai diperdagangkan Rabu (16/2) kemarin hingga akhir Februari mendatang.

Hal tersebut disampaikan Sukoriyanto Saputro, Corporate Secretary Bank Mandiri dalam keterbukaan informasi di BEI, Rabu (16/2). Sementara, dijelaskan, untuk proses alokasi dan penjatahannya baru dilakukan 24 Februari 2011.

Bank Mandiri telah menerbitkan 1.558.152.476 saham baru seri B dengan nilai nominal Rp500. Adapun saham baru seri B hasil pelaksanaan HMETD bagian Negara RI dijual di harga Rp5.000. Negara RI telah menjual HMETD yang menjadi bagiannya kepada Mandiri Sekuritas dan Danareksa Sekuritas selaku penjual yang ditunjuk kepada investor domestik maupun asing melalui penawaran terbatas dan mendistribusikan saham tersebut ke rekening efek para investor setelah transaksi.

Saham Pemerintah Diminati

Sebelumnya, sebanyak 7 investor tercatat membeli saham rights issuePT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang menjadi hak pemerintah yang tak dieksekusi senilai Rp 8,8 triliun pada perdagangan saham kemarin.

Kabar tujuh investor membeli saham right issue Mandiri, dibenarkan salah seorang pelaku pasar. Dijelaskannya, transaksi ini ditangani oleh PT Mandiri Sekuritas (CC) sebanyak 1.149.721.000 HMETD BMRI dan PT Danareksa Sekuritas (OD) sebanyak 529.672.000 HMETD BMRI. Totalnya sebanyak 1.679.393.000 HMETD, lebih banyak dari rencana semula 1.559.372.392 HMETD.

Tujuh investor membeli sahamrights issueBank Mandiri milik pemerintah yang tidak dieksekusi tersebut melalui PT CLSA Indonesia (KZ), PT Deutsche Securities Indonesia (DB), PT Merryll Lynch Indonesia (ML), PT Mandiri Sekuritas (CC), dan PT Danareksa Sekuritas (OD).

Transaksi dilakukan di harga Rp 5.250/HMETD di mana sebesar Rp 5.000/saham akan masuk ke kas Bank Mandiri, sedangkan Rp 250/saham akan masuk ke kas negara.

Artinya, dari jumlah tersebut, sebesar Rp 8,3 triliun akan masuk ke Bank Mandiri, sedangkan sebesar Rp 419,848 miliar akan masuk ke kas negara. Nilai yang masuk ke kas negara lebih besar dari rencana semula Rp 389,843 miliar.

Asal tahu saja, PT Bank Mandiri Tbk giat melakukan roadshow ke beberapa negara di luar negeri untuk mencari investor pada penawaran umum saham terbatas (rights issue). Roadshow dilakukan dibeberapa negara diantaranya, Hongkong, Amerika Serikat, Singapura dan London.

Direktur Utama Bank Mandiri, Zulkifli Zaini mengatakan, roadshow yang dilakukan bertujuan mencari investor sebanyak-banyaknya dan diharapkan bisa terserap banyak. Pelaksanaan roadshow dalam negeri sudah dilakukan pada hari Rabu 5 Januari 2011. “Untuk roadshow di luar negeri, sebagai negara tujuannya antara lain Singapura, New York, London dan Hongkong,’kata Zulkifli di Jakarta.

Dirinya pernah menyampaikan, melalui roadshow ini nantinya akan terhimpun dana yang mencapai Rp 14 triliun untuk mendukung ekspansi organik maupun non organik. Untuk ekspansi organiknya sendiri, Zulkifli mengatakan kredit BMRI di 2011 akan mencapai 22% atau lebih tinggi dari tahun 2009 yang ditargetkan mencapai 6%.

Seperti diketahui BMRI akan menerbitkan 2.336.838.591 lembar saham baru harga penawaran di Rp 4.000-6.150 per lembar. Total dana yang akan diraup bank terbesar di Indonesia itu berkisar antara Rp 9,3 triliun hingga Rp 14,4 triliun.

Setiap pemegang 8.985 saham lama yang namanya tercatar dalam Daftar Pemegang Saham Perseroan tanggal 10 Februari 2011, berhak atas 1.000 Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD). Dan setiap 1 HMETD memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli sebanyak 1 saham baru di harga Rp 4.000-6.150.

Sebelumnya, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Senin (27/12) tahun lalu telah mendaftarkan rights issue ke Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK). Dan rights issue ini sudah dimulai 28 Januari 2011.

Momentum ini perlu dipertahankan dan untuk itu dibutuhkan penguatan modal jangka panjang yang cukup besar. Sebagai bank terbesar milik pemerintah, Bank Mandiri berkomitmen untuk terus meningkatkan fungsi intermediasi, khususnya di sektor produktif yang berdaya saing.

Kinerja BMRI 2010

Selama tahun 2010 Bank Mandiri berhasil mencatat pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dari pertumbuhan kredit nasional. Sampai dengan akhir triwulan III/2010 kredit Mandiri tumbuh sebesar 23,1% dari Rp186,9 triliun di posisi September 2009 menjadi Rp230,1 triliun, dengan rasio NPL net 0,74%. Sedangkan pertumbuhan kredit nasional tercatat sebesar 21,2%.

Dengan pertumbuhan kredit tersebut, aset Bank Mandiri meningkat dari Rp365,7 triliun pada akhir September 2009 menjadi Rp408,3 triliun di akhir September 2010. Laba bersih pada periode yang sama tumbuh 36,4% menjadi Rp6,4 triliun, atau naik Rp1,7 triliun dari Rp4,7 triliun tahun sebelumnya. Bahkan, sesuai dengan laporan keuangan hasil review bulan Oktober 2010, laba bersih Bank Mandiri untuk periode 10 bulan telah mencapai Rp7,33 triliun, lebih tinggi dibanding satu tahun penuh 2009.

Sebelumnya, BNI juga melakukan aksi yang sama. Dimana BNI mengusulkan harga right issue sebesar Rp3.100 per lembar saham. Namun, pemerintah juga ingin memperoleh tambahan untuk penerimaan negara dari hasilright issuetersebut.

Related posts