Krisis Global Berimbas Pada Rasio Utang

NERACA

Jakarta--- Meski krisis global terus menguat. Namun Kementerian Keuangan tetap yakin menurunkan rasio utang terhadap gross domestic product (GDP) hingga mencapai 24%. Artinya, terjadi penghematan senilai Rp900 miliar untuk pembayaran bunga utang. Sedangkan debt to GDP ratio negara Eropa sekarang masih berada di atas 100%. "Implikasi krisis Eropa dan Amerika tidak hanya volume, tapi juga terlihat penurunan harga produk dunia,” kata Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawaty kepada wartawan di Jakarta,3/11

Anny menambahkan turunnya debt to GDP ratio Indonesia terjadi karena turunnya suku bunga SPN tiga bulan. Sehingga memberikan impact turunnya pada harga-harga komoditas global. Disisi lain krisis global juga menurunkan demand atau permintaan terhadap komoditas. "Kita lihat inflasi kita sudah mengalami deflasi karena turunnya harga emas dunia, karena turunnya harga yang lainnya," paparnya

Menurut Anny, dengan adanya penurunan harga komoditas maka akan terus mengkoreksi angka inflasi Indonesia. Oleh karena itu Indonesia optimis akan terus bisa menekan suku bunga utang. "Kita berharap debt to GDP ratio akan menurun hingga angka 24%, kalau inflasi rendah, suku bunga rendah, bunga utang bisa kita koreksi. Maka kita akan berhemat Rp900 miliar," jelasnya.

Lebih jauh kata Anny, penurunan ekonomi dunia akan terus terjadi, dan permintaan pun akan menurun. Makanya melihat adanya gejala penurunan ekonomi dunia yang terus terjadi. Sehingga Indonesia tetap harus waspada. "Namun fundamental kita kuat, tidak perlu khawatir namun tetap waspada," paparnya

Sebelumnya, Anny juga sempat mengungkapkan keseriusan pemerintah mengurangi utang melalui peningkatan dari sector pajak. Data terakhir utang pemerintah sudah mencapai Rp 1.754,91 triliun dengan rasio 27,3% dari PDB. "Rasio utang terhadap PDB kita upayakan pada level yang memang sudah harus kita sepakati bersama dan kita jaga pada level 24%," tuturnya

Diakui Anny, penerimaan dari sector pajak sudah mengalami peningkatan significant. "Sampai hari ini penerimaan pajak kita melampaui targetnya untuk periode yang sama. Jadi kalau itu bisa kita lakukan, maka otomatis utang yang kita perlukan untuk biayai defisit bisa kita kurangi," tandasnya

Dalam APBN 2012, pemerintah menargetkan penerimaan perpajakan bakal mencapai Rp 1.032,6 triliun dalam APBN 2012. Angka tersebut naik Rp 13,2 triliun dari perkiraan awal Rp 1.019,3 triliun yang dibacakan Presiden SBY dalam Nota Keuangan 2012.

Meskipun begitu, pemerintah dalam APBN 2012 tetap berencana untuk menambah utang sebesar Rp 133,56 triliun yang dilakukan untuk menambal defisit anggaran tahun depan yang nilainya diperkirakan mencapai Rp 124,02 triliun, atau 1,5% dari PDB.

Sementara Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR Melchias Markus Mekeng mengatakan pemerintah berencana menyicil bunga utang Rp 122,2 triliun tahun depan. Jumlah tersebut sebanyak 12,6% dari total belanja pemerintah pusat di 2012. "Bunga utang dalam negeri Rp 88,5 triliun dan bunga utang luar negeri sebesar Rp 33,714 triliun," ujarnya

Jumlah beban bunga utang di 2012 ini lebih rendah dari rencana awal yang sebesar Rp 123,1 triliun. Seperti diketahui, total utang pemerintah Indonesia hingga September 2011 mencapai Rp 1.754,91 triliun. Dalam sebulan jumlah utang itu naik Rp 10,57 triliun dibanding posisi Agustus 2011 yang sebesar Rp Rp 1.744,34 triliun.

Dibanding jumlah utang di Desember 2010 yang sebesar Rp 1.676,85 triliun, jumlah utang hingga September 2011 bertambah Rp 78,06 triliun. Secara rasio terhadap PDB, utang RI juga naik dari 27,15% pada Agustus menjadi 27,3% pada September. **cahyo

BERITA TERKAIT

Gejolak Persaingan Ekonomi Global vs Cashflow yang Sehat - Studi Kasus Unrealized loss PLN

  Oleh: Sudimara Pati, Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Swasta Belakangan kita diberitakan bahwa Perusahaan Listrik Negara (PT PLN) milik BUMN…

Beban Utang vs Defisit APBN

Belakangan ini sejumlah pihak membuat “gaduh” melihat membengkaknya utang pemerintah Indonesia. Meski demikian, total utang Indonesia terus bertambah dari tahun…

BFI Finance Siapkan Dana Rp 335 Miliar - Utang Sebelum Jatuh Tempo

NERACA Jakarta – Perusahaan pembiyaan, PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) mengungkapkan kesiapan perseroan memenuhi kewajiban pembayaran utang yang akan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Founder KahmiPreneur Raih Sertifikasi Internasional

  NERACA Jakarta - Pemerintah saat ini tengah gencar mencanangkan kebijakan industri nasional sebagai negara industri maju baru dan menargetkan…

PII Dorong Insinyur Bersertifikat

    NERACA   Jakarta – Persatuan Insinyur Indonesia (PII) mendorong para insinyur Indonesia untuk tersertifikasi. Ketua Umum PII Hermanto…

Utang Luar Negeri Naik Jadi Rp5253 Triliun

    NERACA   Jakarta - Jumlah utang luar negeri Indonesia pada akhir kuartal III 2018 naik 4,2 persen (tahun…