Apkomindo Desak Pemerintah Terbitkan Aturan - Penjualan Komputer Lemot

NERACA

Jakarta – Kalangan pelaku usaha komputer mengaku prihatin dengan penetrasi komputer di Indonesia yang hanya berjumlah 15 juta unit atau baru sekitar 5% dari total penduduk sebesar 235 juta jiwa. Jumlah tersebut mengindikasikan betapa lemot-nya penetrasi komputer di Indonesia yang masih jauh dibandingkan negara tetangga lainnya seperti Singapura yang mencapai 90%, Malaysia 73%, Thailand 55%, dan Vietnam 12%.

Oleh karena itu, Ketua Umum Yayasan Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo) Hidayat Tjokrodjojo mendesak pemerintah menambah aturan baru tentang kewajiban tertib administrasi. “Semakin banyak orang pakai komputer, penjualan komputer makin baik. Pemerintah harus menambah aturan agar lebih tertib administrasi,” ujar Hidayat usai jumpa wartawan dalam acara Indocomtech 2011 di JCC, Jakarta, Rabu (2/11).

Dijelaskan Hidayat, penetrasi computer kalah jauh pertumbuhannya dengan pertumbuhan penetrasi ponsel pintar (smartphone). Hal ini, kata Hidayat, disebabkan konsumen di tanah air mulai mengubah kecenderungannya dari memakai produk desktop ke produk ponsel pintar. “Pertumbuhan smartphone luar biasa. Perkembangan komputer tidak secepat smartphone. Makanya kita harus maju selangkah. Pemerintah harus perbaiki sistem perpajakan indsustri dan perdagangan komputer, perbaikan sistem, dan mendorong para pedagang untuk melakukan akuntansi dengan komputer,” lanjutnya.

Dalam hitungan Apkomindo, penjualan komputer desktop 2011 diproyeksikan sebesar 1,5 juta unit sampai akhir tahun, meningkat dari tahun lalu yang hanya sebesar 1,2 juta unit. “Tahun depan kami perkirakan mencapai 1,6 juta unit,” ujarnya.

Sementara pntuk penjualan komputer portable di 2011, lanjutnya, ditaksir capai 3,5 juta unit sampai akhir tahun, meningkat 40% dari tahun lalu sebesar 2,5 juta unit. “Tahun depan diperkirakan mencapai 5,25 juta unit,” imbuhnya.

Akan tetapi, kata Hidayat, nilai bisnis dari penjualan komputer ternyata tidak berbanding lurus dengan kuantitas penjualan computer. Kapitalisasi nilai bisnis untuk desktop tahun ini diperkirakan tembus US$1,12 miliar, sementara untuk komputer portable ditaksir capai US$2,1 miliar. “Tahun depan diperkirakan US$1,5 miliar untuk desktop, sedangkan portable diperkirakan tetap sekitar US$2,1 miliar. Mengapa nilai bisnisnya kelihatan tetap meskipun kuantitasnya meningkat? Karena harga komputer semakin turun,” terangnya.

Lebih jauh Hidayat mengakui perkembangan pengguna teknologi informasi (TI) yang terbilang aneh hingga membuat produsen IT susah menebak perilaku mereka. Memang, kata dia, pihaknya belum memiliki data khusus terkait penurunan jumlah pembeli (komputer) desktop hingga saat ini. Namun perkiraannya, jumlah pengguna desktop dibanding pengguna smartphone sudah mencapai 1:2. "Beberapa tahun lalu, penjualan desktop masih merajai di pusat pertokoan. Sekarang ini produsen (komputer) desktop bisa bangkrut, gara-gara pengguna jarang yang memakai desktop. Semua beralih ke smartphone," kata Hidayat. **Munib

BERITA TERKAIT

BEI Siapkan Relaksasi Aturan IPO

Dorong daya tarik perusahaan untuk go public, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah menyiapkan rencana strategis baru guna melakukan relaksasi bagi…

Ramayana Catatkan Penjualan Tumbuh 3,9% - Berkah Ramadan dan Semarak Lebaran

NERACA Jakarta – Di paruh pertama tahun ini, PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 3,9% atau…

Pemerintah Antisipasi Asumsi APBN 2018

      NERACA   Jakarta - Pemerintah akan terus mengantisipasi pergerakan asumsi dasar ekonomi makro pada APBN 2018 agar…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Pertumbuhan Kredit Juni Double Digit

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan penyaluran kredit perbankan pada Juni 2018 masih di…

Literasi Keuangan Dinilai Masih Rendah

      NERACA   Jakarta - Asosiasi Teknologi Finansial atau Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) mengatakan literasi keuangan masyarakat di…

BI Sebut Ada Capital Inflow Rp6 Triliun - Bunga Acuan Naik

      NERACA   Jakarta - Modal asing masuk melalui Surat Berharga Negara sebesar Rp6 triliun setelah imbal hasil…