Penurunan BI Rate Ditunggu Pelaku Bisnis

NERACA

Jakarta---Langkah penurunan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI) tampaknya sedang ditunggu-tunggu banyak kalangan bisnis. Alasanya hal itu bisa menjadi angin segar bagi kalangan perbankan dan pelaku perdagangan di Indonesia. "Dunia perbankan melihat ada potensi kemungkinan penurunan BI rate menjadi satu hal yang menggembirakan, kita harapkan itu terjadi untuk memacu pertumbuhan ekonomi lebih baik lagi," kata pengamat perbankan Josh Luhukay di Jakarta, Rabu (2/11)

Bahkan Josh memperkirakan banyak kemungkinan yang bakal terjadi terkait BI rate tersebut, apalagi menuju akhir tahun seperti saat ini. Namun soal kemungkian itu, bisa terjadi ada penurunan maupun kenaikan. "Keadaannya, kita tahu direct ekspor ke Eropa dan AS jadi hati-hati banget, tapi juga secondary risk ke China dan lain-lain juga, karena mereka ke Eropa dan Amerika. Itu intinya," tambahnya

Namun saat didesak seberapa besar peluang penurunan BI rate, Josh mengaku tak bisa memastikan. Meski BI rate sempat turun 25 basis poin menjadi 6,5%. "Kita lihat saja, saya bilang bahwa any cut is good," imbuhnya.

Ditempat terpisah, Kepala Pusat Studi Ekonomi dan kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasetiantono mengatakant ekanan inflasi tahun ini berpotensi tertahan di level 4% menyusul catatan deflasi pada Oktober. Rendahnya tekanan inflasi bisa menjadi catatan Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga acuannya (BI Rate).

Lebih jauh Tony memandang catatan ini membuka peluang bagi BI untuk mengkaji potensi penurunan suku bunga acuannya. BI Rate bisa turun dan ditahan pada level 6,25 %. Hanya saja, kata Tony, sebelum memutuskan menurunkan suku bunga acuan, BI perlu mempertimbangkan dengan memperhatikan nilai cadangan devisa. Jika cadangan devisa Indonesia masih berada di atas USD110 miliar, maka BI diperkirakan lebih percaya diri untuk menurunkan BI Rate. “Semestinya bisa menjadi modal bagi penurunan suku bunga selanjutnya,” tandasnya.

Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis deflasi sebesar 0,12% untuk bulan Oktober. Laju inflasi, laju inflasi tahun kalender Januari-Oktober 2011 sebesar 2,85% dan inflasi year on year tercatat sebesar 4,42%.

Penurunan inflasi terutama disumbang oleh penurunan harga emas perhiasan yang turun sebesar 0,11%. Barang-barang lain yang juga turun harganya dan menjadi penyumbang deflasi adalah ikan segar deflasi 0,07%, daging ayam deflasi 0,04%, tarif angkutan udara deflasi 0,04%. "Indeks Harga Konsumen secara mengejutkan turun 0,12% pada Oktober sehingga menurunkan inflasi year on year menjadi 4,42%. Hail ini lebih rendah dari ekspektasi kami dan konsensus," jelas Anton Gunawan, kepala ekonom Bank Danamon dalam rilisnya, Rabu (2/11/2011).

Secara keseluruhan indeks harga pangan mentah turun 0,35%, meski ada sedikit kenaikan harga beras dan cabai. Namun sejumlah harga pangan mentah turun seperti ikan segar, ayam, telur, daging, minyak goreng dll sehingga bisa menutupi kenaikan harga beras dan cabai. "Kami sudah memperkirakan ada penurunan signifikan dari harga emas perhiasan mengikuti penurunan harga emas dunia. Namun penurunan tarif angkutan semacam tidak diprediksi karena libur Indul Fitri sudah berlalu 2 bulan silam. Sepertinya ada efek penundaan penurunan musiman tarif angkutan," jelasnya.

Berdasarkan perkembangan tersebut, Anton mengaku pihaknya merevisi ke bawah proyeksi inflasi menjadi 3,90% secara year on year, dibandingkan proyeksi sebelumnya 4,68%. "Kami memperkirakan Bank Indonesia akan memangkas kebijakan suku bunganya 25 basis poin menjadi 6,25% pada bulan ini, untuk kedua kalinya pada tahun ini karena inflasi saat ini dan kedepan sepertinya relatif tenang," jelasnya. **cahyo

BERITA TERKAIT

Ambisi NFC Raup Pundi Keuntungan Bisnis Digital - Dirikan Perusahaan Baru

NERACA Jakarta – Geliat pertumbuhan ekonomi digital saat ini, menjadi berkah dan peluang bagi PT NFC Indonesia Tbk (NFCX) untuk…

Fitch Rating Nilai Kas Operasional Negatif - Penurunan Peringkat LPKR

NERACA Jakarta – Sempat dituding karena keputusan menurunkan peringkat PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) tidak berdasar, membuat lembaga pemeringkat internasional…

BEI Dorong Pelaku Stratup di Solo Go Public

NERACA Solo- PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Surakarta mendorong pelaku "startup" atau usaha rintisan memanfaatkan fasilitas "IDX Incubator" atau inkubator…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BI Naikkan Suku Bunga Jadi 6%

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuannya pada November 2018 menjadi enam persen,…

Perbankan Diminta Perbaiki Tata Kelola

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani berharap industri perbankan terus memperbaiki tata kelola perusahaan yang…

Bhineka Life dan OJK Gelar Literasi Keuangan untuk Guru

    NERACA   Bandung - PT Bhinneka Life Indonesia (Bhinneka Life) bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional…