Persoalan Klasik Menghantui

Oleh: Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Musibah banjir di Thailand yang sudah sepekan lebih telah melumpuhkan perekonomian negara gajah putih itu, khususnya untuk sektor otomotif. Kondisi banjir di negara itu memang sudah di luar batas kewajaran dan bahkan dampak banjir tersebut merembet ke Indonesia, karena ketergantungan pasokan komponen sektor otomotif dan industri teknologi cukup besar. Thailand sendiri sebagai pabrikan produksi mobil asal Jepang mempunyai andil besar untuk penjualan pasar di Asia Pasifik.

Mengapa Indonesia bergantung sangat besar? Alasannya sederhana karena hingga saat ini hampir semua agen tunggal pemegang merk (ATPM) dalam negeri mendapat pasokan mobil CBU (completely built-up) dari Thailand, yang mencapai 20%-30% dari total penjualan. Belum lagi beberapa jenis mobil masih mengandalkan pasokan suku cadang dari negara tersebut.

Maka apa yang dikeluhkan dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) cukup rasional dan bahkan keluhan itu juga dirasakan oleh Gaikindonya-Jepang yang menyebutkan, setiap hari Thailand harus kehilangan 6.000 unit mobil yang seharusnya di produksi. Di negara gajah putih itu produksi pabrikan mobil asal Jepang sangat besar, diantaranya Honda, Nissan, Toyota, Mitsubishi dan Mazda.

Bagaimanapun juga musibah banjir merupakan ancaman bagi roda perekonomian dan Indonesia pernah mengalami hal itu pada 2007. Dimana kondisi banjir Jakarta kala itu mirip dengan banjir yang dialami Thailand saat ini dan dampak banjir tersebut mengakibatkan kerugian sebesar Rp 37 triliun. Kini tidak mau terulang lagi, pemerintah daerah DKI Jakarta mulai berbenah diri yang tengah disibukkan membuat gorong-gorong. Ironisnya proyek pembangunan gorong-gorong untuk menghandapi banjir malah membuat Jakarta makin macet, karena ada penyempitan jalan.

Banjir bagi warga Jakarta menjadi momok yang menakutkan, karena selain memberikan dampak persoalan sosial ekonomi dan juga kesehatan yang selalu mengancam daya hidup masyarakat kota Jakarta. Buruknya pengelolaan tata ruang menjadi faktor utama dibalik rajinnya Jakarta di sambangi banjir tiap tahunnya. Alhasil dampak tersebut, menurut beberapa analis lingkungan, kota Jakarta berpotensi mengalami kerugian Rp 300 triliun tiap tahunnya.

Banjir masih menjadi persoalan klasik kota Jakarta, setelah kemacetan yang belum bisa terpecahkan. Bahkan konon ada guyonan, siapapun gubernur DKI Jakarta tidak akan mampu mengatasi soal banjir dan kemacetan. Bila menoleh ke belakang Jakarta tempo dulu, pemerintah Belanda yang kala itu berkuasa ternyata dinilai berhasil dalam menaklukan banjir dengan menciptakan kanal dan pintu air.

Kini cara itupun dicoba ditiru oleh Pemda DKI Jakarta dengan membangun mega proyek banjir kanal barat dan banjir kanal timur. Namun lagi-lagi persoalan lahan menjadi kendala untuk memuluskan proyek tersebut. Terlepas sejauhmana progres pemerintah membangun proyek banjir kanal barat dan timur, yang terpenting adalah sejauhmana pemerintah daerah Jakarta bisa menyakinkan warga Jakarta untuk tahun ini tidak dipusingkan dengan soal banjir ataupun banjir kiriman.

Ketegasan dalam penerapan kebijakan menjadi kunci utama pemda untuk mensukseskan kota Jakarta terlepas dari banjir dengan mengedepankan kepentingan masyarakat luas ketimbang kelompok. Bisa mengupayakan Jakarta terlepas dari banjir menjadi daya tarik investor asing ke Indonesia disamping soal keamanan, kenyamanan atau birokrasi, karena Jakarta menjadi miniatur Indonesia dan tidak lagi dihantui soal persoalan klasik yaitu banjir tahunan.

BERITA TERKAIT

Persoalan Sanitasi Bukan Hanya Ketersediaan Infrasktruktur

    NERACA   Jakarta - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan persoalan sanitasi bukan semata…

Siti Nurbaya: Prinsip Kepemimpinan Jokowi Sensitif Terhadap Persoalan Rakyat - Bedah Buku Jokowi

Siti Nurbaya: Prinsip Kepemimpinan Jokowi Sensitif Terhadap Persoalan Rakyat Bedah Buku Jokowi NERACA Bogor - Perjalanan kepemimpinan Presiden Jokowi bila…

Siti Nurbaya: Prinsip Kepemimpinan Jokowi Sensitif Terhadap Persoalan Rakyat - Bedah Buku Jokowi

Siti Nurbaya: Prinsip Kepemimpinan Jokowi Sensitif Terhadap Persoalan Rakyat Bedah Buku Jokowi NERACA Bogor - Perjalanan kepemimpinan Presiden Jokowi bila…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Pahami Utang Pemerintah Secara Bijak

Oleh: Achmad Budi Setyawan, Pusat Kebijakan Ekonomi Makro BKF, Kemenkeu *)   Akhir-akhir ini seringkali masyarakat disajikan perdebatan publik masalah…

Perlunya Pembenahan Tata Niaga Impor Pangan

Oleh: Muhammad Razi Rahman Tidak banyak diketahui oleh masyarakat luas, sebenarnya Ombudsman pada 4 Februari lalu telah mengeluarkan peringatan dini…

Aparat Agresif Buru Pelaku Teror di Semarang

  Oleh : Dewi Widyastuti, Pemerhati Sosial Kemasyarakatan Aksi teror pembakaran mobil dan motor sempat membuat gaduh di Kota Semarang,…