Hotman: Ini Bukan “Nebis in Idem” - Perkara Sugar Grup Companies

Jakarta - Perkara Sugar Grup Companies kembali bergulir, kemarin. Kali ini, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menggelar sidang empat perusahaan yang tergabung dalam Sugar Group Companies menggugat pembatalan dua notaris yaitu akte notaris nomor 4 dan akte notaris nomor 5 26 Januari 2011 Europe Plc dan tujuh pihak lainnya. Sidang kali ini menampilkan saksi ahli dan fakta dari pihak Sugar Grup Companies, yaitu Faisal Basri dan Johannes Johansyah.

Menurut kuasa hukum Sugar Group Hotman Paris Hutapea, “nebis in” idem merupakan sebuah perkara dengan obyek sama, para pihak sama dan materi pokok perkara yang sama, yang diputus oleh pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap yang mengabulkan atau menolak, tidak dapat diperiksa kembali untuk kedua kalinya. “Tetapi, masalah yang dihadapi tidak sama antara perkara 2006 dan 2010. Dengan masalah yang berbeda ini, maka kami akan menggugat kembali dalam persidangan ini,” tambah Paris.

Memang, memang sidang tersebut, terjadi polemik tentang istilah “nebis in idem” yang diatur dalam pasal 1917 KUHPerdata.

Secara hukum, saksi fakta Sugar Grup Prof Johannes Johansyah menjelaskan, suatu gugatan dapat dikatakan nebis in idem apabila apa yang digugat dan diperkarakan sudah pernah diperkarakan dan telah ada putusan yang telah berkekuatan hukum tetap dan bersifat positif seperti menolak gugatan atau mengabulkan. “Dengan demikian putusan tersebut sudah litis finiri opportet”, ungkap mantan Hakim Agung itu.

Kalau putusannya masih bersifat negatif, tidak mengakibatkan nebis in idem. Hal ini dapat dilihat dalam putusan Mahkamah Agung tanggal 27 Juni 1979 dalam putusan kasasi no. 878 k/ Sip/ 1977 yang menyatakan, antara perkara ini dengan perkara yang diputus Pengadilan Tinggi tidak terjadi nebis in idem, sebab putusan Pengadilan Tinggi menyatakan gugatan tidak dapat diterima oleh karena ada pihak yang tidak diikutsertakan sehingga masih terbuka kemungkinan untuk menggugat lagi. “Dengan objek, subyek dan materi pokok yang sama, maka itu bisa disebut nebis in idem” imbuh Johannes.

Dia menambahkan, nebis in idem adalah prinsip hukum yang berlaku dalam hukum perdata maupun pidana. Dalam hukum perdata, prinsip ini mengandung pengertian bahwa sebuah perkara dengan obyek sama, para pihak sama dan materi pokok perkara yang sama, yang diputus oleh pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap yang mengabulkan atau menolak, tidak dapat diperiksa kembali untuk kedua kalinya.

Dalam persidangan, Johannes berharap, hakim untuk memutuskan harus membaca semua jawaban, bukti-bukti, fakta-fakta yang ditimbulkan maka hakim akan mempunyai pertimbangan untuk memutuskan suatu perkara. “Hakim dalam setiap pertimbangan harus memandang dalam segi filosofis, sosiologis dan yurudisnya”, ujar Johannes. (mohar)

BERITA TERKAIT

IMF Ingatkan Soal Utang, Menkeu Berdalih Bukan untuk RI

NERACA Jakarta - Ketika berpidato di konferensi pers Prospektus Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde menyebutkan…

Agresif Investasi di Sektor Energi - Tahun Ini, WIKA Targetkan Laba Rp 3,01 Triliun

NERACA Jakarta – Seiring pertumbuhan target kontrak baru di tahun 2019, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) juga menargetkan pertumbuhan…

Sentul City Raih Indonesia Living Legend Companies Award 2019

Perusahaan properti, PT Sentul City Tbk (BKSL) meraih penghargaan Indonesia Living Legend Companies Award 2019. Penghargaan diberikan kepada perusahaan di…

BERITA LAINNYA DI HUKUM BISNIS

Ketua DPRD DKI Laporkan Harta Kekayaannya Rp20 Miliar ke KPK

Ketua DPRD DKI Laporkan Harta Kekayaannya Rp20 Miliar ke KPK NERACA Jakarta - Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetyo Edi Marsudi…

GKR Hemas Ajukan Sengketa Kewenangan Lembaga Negara

GKR Hemas Ajukan Sengketa Kewenangan Lembaga Negara NERACA Jakarta - Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas dan Farouk Muhammad yang menjabat…

Menhub Libatkan Perempuan Lawan Praktik Korupsi

Menhub Libatkan Perempuan Lawan Praktik Korupsi NERACA Jakarta - Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi melibatkan kaum perempuan untuk melawan…