Banjir Thailand Dikhawatirkan Pengaruhi Inflasi - Beras Jangan Telat Disalurkan

NERACA

Jakarta----Banjir besar di Thailand mestinya membuat Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) mengambil sikap cepat terkait dengan persediaan stok beras nasional. Sehingga ketersediaan pangan bisa menjaga inflasi. "Persediaan beras yang diimpor dari Thailand kan sudah ada yang masuk kemarin-kemarin. Ini masalahnya bisa mempengaruhi inflasi,” kata pengamat ekonomi, Purbaya Yudhi kepada wartawan di Jakarta,31/10

Purbaya meminta Bulog merespon secara cepat dan mengambil langkah-langkah guna mempersiapkan berbagai kemungkinan yang terjadi. “Jadi tinggal Bulog yang harus bisa menyalurkan ke masyarakat," ucapnya

Lebih jauh kata Purbaya, Bulog harus menyalurkan beras tepat waktu karena hal ini bisa berpengaruh pada angka volatilitas makanan (volatiled food) akan naik. Buntutnya, akan berakibat pada besarnya angka inflasi. "Kalau Bulog telat masuk pasar di saat paceklik, seperti Desember bisa inflasi lagi," terangnta.

Ditempat terpisah, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Bambang PS Brodjonegoro mengatakan kemungkinan inflasi pada bulan Oktober 2011 masih akan lebih rendah dari inflasi bulan sebelumnya atau bulan September 2011. Hal ini melihat siklus tahunan dimana inflasi Oktober selalu lebih rendah daripada inflasi bulan September. "Kalau ada yang bertanya inflasi bulanan seperti Oktober ini akan lebih rendah dari bulan September ini juga memperhatikan siklus tahunan, dimana inflasi Oktober akan lebih rendah dari inflasi September," katanya

Menurut mantan Dekan FEUI ini, dalam siklus tahunan, inflasi pada Nofember dan Desember justru akan sedikit naik karena adanya musim tanam dan juga banyaknya liburan sekolah, Natal dan akhir tahun.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa sendiri mengklaim pemerintah terus menjaga inflasi dengan menjaga daya beli masyarakat dan menjaga pasokan barang-barang kebutuhan pokok. "Daya beli masyarakat kita jaga dengan tetap mengendalikan harga-harga dan mengendalikan inflasi sehingga daya beli masyarakat tidak tergerus,”terangnya.

Yang jelas, kata Hatta, pemerintah tidak tinggal diam terkait ketersediaan pangan yang cukup. “Kita terus mempertahankan pasar domestik kita pada harga yang stabil dengan ketersediaan yang cukup, ini penting karena sebagian besar masyarakat kita yang berpenghasilan rendah, 30%-40% pendapatannya digunakan untuk membeli kebutuhan pokok," imbuhnya

Diberitakan sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi pada September berada pada 0,27% dengan demikian inflasi inti tahunan mencapai 4,61%.

Deputi Bidang Statistik, Distribusi, dan Jasa BPS Jamal mengungkapkan inflasi September lebih rendah ketimbang bulan sebelumnya. Meski demikian, yang patut menjadi perhatian adalah inflasi inti bulanan yang lebih tinggi. "Inflasi inti bulanan berada pada 0,39%. Dibandingkan inflasi umum bulan ini, inflasi inti lebih tinggi," ungkap Jamal.

Dengan demikian, selama Januari hingga September ini, inflasi telah berada pada kisaran 2,97% dengan inflasi year on year sebesar 4,61%. Adapun tekanan inflasi, berasal dari beras sebesar 0,08% cabai merah sebesar 0,08% dan emas perhiasan yang bulan lalu sempat tinggi, kini hanya memberikan tekanan sebesar 0,05%. **cahyo

BERITA TERKAIT

Mewaspadai Inflasi Di Akhir Tahun

      NERACA   Jakarta - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai ancaman…

Jangan Politisasi Nasehat Ulama

  Oleh: Zarima Sakun, Pemerhati Sosial Politik Belakangan kita mendengar pernyataan dari cawapres kubu Jokowi yaitu KH Maruf Amin yang…

Urus Beras, Lupa Lahannya

Oleh: Sarwani Ribut-ribut mengenai jumlah produksi beras nasional bermula dari keputusan pemerintah untuk mengimpor sedikitnya 2 juta ton beras.  Kementerian…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Mengganti Terigu Impor dengan Produk Buatan Lokal - Teknologi Pangan

        NERACA   Bogor - Mie memang menjadi santapan favorit masyarakat Indonesia, tanpa pandang usia. Sayangnya mie…

Mewaspadai Inflasi Di Akhir Tahun

      NERACA   Jakarta - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai ancaman…

LPEI Mendorong BUMN Ekspor ke Pasar Prospektif

    NERACA   Jakarta – Pasar prospektif menjadi salah satu alternatif negara tujuan untuk memperluas ekspor di samping Cina…