Proyek JSS Lebih Prioritas Ketimbang JSM

NERACA

Jakarta----Kementerian Pekerjaaan Umum (PU) menegaskan pihaknya lebih mengutamakan pembangunan proyek Jembatan Selat Sunda (JSS) ketimbang Jembatan Selat Malaka (JSM). "Harus JSS dulu diselesaikan. Nasionalismenya begitu," kata Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto kepada wartawan di Jakarta, Senin, 31/10.

Lebih jauh kata Djoko, pemerintah lebih mementingkan pembangunan di dalam negeri dulu. “Kita tidak akan pernah ke Jembatan Malaka dulu. Sebelum kita berhubungan dengan luar negeri, masalah dalam negeri dulu kita bereskan,” paparnya.

Menurut Djoko, penerbitan peraturan presiden (perpres) terkait penyelenggaran badan pengelola kawasan khusus Jembatan Selat Sunda (JSS) ditargetkan tuntas pada akhir 2011. "Akhir tahun ini jadi, karena hal tersebut sudah menjadi konsensus kita semua," terangnya

Diakui Djoko, rancangan perpres tersebut sedang dievaluasi kembali. "Jadi, kemarin setelah kita evaluasi, ada perubahan sedikit karena dalam perpres itu menyebutkan bahwa, pengembangan penataan ruangnya harus sesuai dengan Kawasan Strategis Nasional dari Selat Sunda, ternyata kawasan itu masih dalam proses, jadi kita hapus dan diganti dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional saja,?,”tuturnya

Sebelumnya, peraih gelar Perekayasa Utama Kehormatan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Wuratman Wangsadinata menyebutkan, pembangunan JSS diperkirakan akan menghabiskan waktu selama 10 tahun. "Normalnya dibutuhkan waktu sekitar 10 tahun untuk pembangunan Jembatan Selat Sunda," imbuhnya.

Bahkan Wuratman memperkirakan biaya pembangunan JSS tersebut tidak kurang dari US$9 miliar. “"Total biaya pembangunan dengan menggunakan standar harga pada 2009 diperkirakan mencapai sembilan miliar dolar AS," jelasnya

Biaya tersebut, dikatakan Wiratman belum memperhitungkan eskalasi harga, bunga bank serta tidak termasuk biaya untuk pengembangan wilayah Selat Sunda. Jembatan Selat Sunda direcananakan sepanjang sekitar 29 km akan terhubung dengan jalan tol Jakarta-Merak serta rencana jalan tol Cilegon-Ciwandan sepanjang 14 km dan rencana jalan tol Bakauheni-Bandar Lampung-Metro sepanjang sekitar 80 km.

Konsepnya terdiri atas dua jenis sistem yaitu jembatan gantung ultrapanjang dari baja untuk melangkahi palung-palung lebar dan "Viaduct" beton pracetak "balanced cantilever" untuk lintasan selebihnya.

Wiratman menjelaskan, jembatan viaduct beton dipilih karena bahan dasarnya dapat diproduksi di dalam negeri seperti agregat, semen, baja tulangan. Sedangkan kontruksinya tidak memerlukan teknologi yang tinggi serta akan menyerap tenaga kera lokal dalam jumlah yang sangat besar sehingga sangat berdampak terhadap perkembangan ekonomi lokal maupun regional.

Jembatan Selat Sunda direncanakan memiliki ruang bebas vertikal 85 meter di atas permukaan laut tertinggi agar lebih tinggi dari tinggi udara terbesar serta memperhitungkan efek kenaikan elevasi air laut akibat pemanasan global.

Sementara bebas horizontal jembatan gantung Selat Sunda adalah 2.100 m sehingga memenuhi persyaratan lalu lintas kapal bebas satu arah. Desain struktur atas jembatan mengacu pada desain jembatan Selat Messina yang memiliki bentang 3.300 m, sedangkan desain stuktur bawahnya mengacu pada desain jembatan Akashi Kaikyo di Jepang yang memiliki bentang 1.991 m.

Direncanakan juga jembatan Selat Sunda memiliki lebar total 60 m terdiri atas tiga lajur lalu lintas masing-masing arah selebar 3x3,75 m, dua lintasan kereta api selebar 10 m, lajur pemeliharaan masing-masing selebar 5,05 m. **cahyo

BERITA TERKAIT

Kadin Berharap Pemerintah Susun Regulasi Lebih Pro Dunia Usaha - Sektor Riil

NERACA Jakarta – Kamar Dagang dan Industri Indonesia berharap pemerintah membuat kebijakan dan regulasi bidang kelautan dan perikanan pro dunia…

Pasar Modal di 2019 Lebih Menggairahkan - Tekanan Sudah Mereda

NERACA Jakarta – Bila sebagian pelaku pasar menilai tahun politik di 2019 mendatang, menjadi  kondisi yang cukup mengkhawatirkan di industri…

DPD Usulkan Enam RUU Prioritas di Prolegnas 2019

DPD Usulkan Enam RUU Prioritas di Prolegnas 2019 NERACA Jakarta - Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) akan mengusulkan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Mengganti Terigu Impor dengan Produk Buatan Lokal - Teknologi Pangan

        NERACA   Bogor - Mie memang menjadi santapan favorit masyarakat Indonesia, tanpa pandang usia. Sayangnya mie…

Mewaspadai Inflasi Di Akhir Tahun

      NERACA   Jakarta - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai ancaman…

LPEI Mendorong BUMN Ekspor ke Pasar Prospektif

    NERACA   Jakarta – Pasar prospektif menjadi salah satu alternatif negara tujuan untuk memperluas ekspor di samping Cina…