Bukopin Gandeng China UnionPay - Genjot Commercial Banking

Jakarta - PT Bank Bukopin Tbk menggandeng China UnionPay, untuk menjadi Acquiring Bank UnionPay di Indonesia. Kerjasama ini diharapkan bisa menggenjot segmen commercial banking perseroan.

Perjanjian ini memungkinkan pemegang kartu UnionPay, khususnya pengunjung dan wisatawan asal Cina dan sekitarnya, mengunakan kartu kredit dan kartu debet UnionPay untuk berbelanja di merchant-merchant dalam negeri. "Penandatangan kerjasama Merchant Acquiring ini untuk meningkatkan dan memperkuat jaringan kartu UnionPay di Indonesia,” ungkap Lamira Parwedi, Direktur Konsumer Bank Bukopin, dalam siaran pers, Sabtu (29/10).

Ia mengatakan, dengan lebih dari 2,5 juta pemegang kartu UnionPay di seluruh dunia, cara pembayaran dipercaya akan menarik lebih banyak nasabah baru. Kemitraan ini akan memperkuat pendapatan fee-based income perseroan.

Pendapatan fee based income Bank Bukopin pada semester I 2011 meningkat 29% atau setara dengan Rp 282 miliar dibandingkan periode yang sama tahun 2010 sebesar Rp 218 miliar. Tahun 2011 perseroan menargetkan pertumbuhan fee-based income dari segmen consumer dan commercial banking sebesar 25%.

Segmen ini mampu menopang pertumbuhan laba operasional Bukopin sebesar 42% atau Rp 427 miliar pada 1-2011 dibandingkan periode yang sama tahun 2010 sebesar Rp 301 miliar.

Bank Bukopin akan menyiapkan 5.500 mesin Electronic Data Capture (EDC) di Indonesia untuk tahap pertama. Jumlah mesin EDC tersebut akan bertambah menjadi 15.000 dalam 3 tahun.

Bicara kinerja, Bukopin meraih laba bersih Rp 337 miliar sepanjang semester I-2011, naik 50,44% dari periode yang sama tahun lalu Rp 224 miliar. Pencapaian ditopang dari pertumbuhan pendapatan kredit dan operasional selain bunga (fee based income) dari payment poin dan kartu kredit.

Laba operasional perseroan tumbuh 42% menjadi Rp 427 miliar hingga akhir Juni 2011, meningkat dari periode sebelumnya yang hanya Rp 301 miliar.

Per semester I-2011 rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perseroan mencapai 14,75%, meningkat dari posisi sebelum Penawaran Umum Terbatas (PUT) II, 12,86%. Rasio Return on Equity (ROE) mencapai 18,91% di semester I-2011, tumbuh dari periode yang sama tahun 201017,95%. Kenaikan rasio profitabilitas tersebut didorong oleh kenaikan kinerja profitabilitas perseroan.

BERITA TERKAIT

Investasi Ilegal di Bali, Bukan Koperasi

Investasi Ilegal di Bali, Bukan Koperasi NERACA Denpasar - Sebanyak 12 lembaga keuangan yang menghimpun dana masyarakat secara ilegal di…

Farad Cryptoken Merambah Pasar Indonesia

  NERACA Jakarta-Sebuah mata uang digital baru (kriptografi) yang dikenal dengan Farad Cryptoken (“FRD”) mulai diperkenalkan ke masyarakat Indonesia melalui…

OJK: Kewenangan Satgas Waspada Iinvestasi Diperkuat

NERACA Bogor-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengharapkan Satuan Tugas (Satgas) Waspada Investasi dapat diperkuat kewenangannya dalam melaksanakan tugas pengawasan, dengan payung…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Survei BI : Optimisme Konsumen Menguat

      NERACA   Jakarta - Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) pada November 2019 mengindikasikan optimisme konsumen menguat, tercermin…

Indonesia – Jepang Sepakati Transaksi Dagang Pakai Uang Lokal

    NERACA   Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dan Menteri Keuangan Jepang Taro Aso menyepakati kerangka kerja…

Tinggalkan Otomotif, Radana Finance Fokus UMKM dan Syariah

    NERACA   Jakarta – PT Radana Bhaskara Finance Tbk (Radana Finance) menyiapkan sejumlah strategi untuk menghadapi industri multifinance…