BI Prediksi Terjadi Deflasi 0,1% Oktober

Senin, 31/10/2011

NERACA

Jakarta-- Bank Indonesia (BI) memperkirakan terjadi deflasi pada Oktober 2011 sekitar 0,1%. Alasanya kemungkinan angka inflasi bisa sangat rendah pada Oktober 2001 yang disebabkan harga emas dan volatilitas makanan (volatiled food) turun.

“Inflasi bulan ini perkiraannya rendah, rendah sekali bahkan bisa deflasi rendah, antara inflasi 0,1% dan deflasi 0,1%. Ini memang karena volatile foodnya terus menurun, juga emas yang cenderung menurun harganya beberapa minggu ini," kata Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution di Jakarta.

Terkait keputusan Uni Eropa menyelamatkan Yunani dari bailout (gagal bayar), menurut Darmin, sebagai kabar yang menggembirakan. Karena dianggap dapat mengurangi kegugupan pasar. Karenanya, dampaknya terhadap perekonomian Indonesia juga akan menambah aliran dana masuk (capital inflow) ke dalam negeri. "Itu berita bagus. Kita melihat ada kejelasan dalam mengambil langkah-langkah walaupun pelaksananannya masih ditunggu,” terangnya.

Disisi lain, kata mantan Dirjen Pajak ini, yang cukup meyakinkan adalah ekonomi AS sudah bergerak positif. “Apalagi kalau saya lihat pengumuman angka terakhir di Amerika Serikat (AS) pertumbuhannya bagus, mestinya gejolak mulai mereda dan kegugupan pasar akibat ketidakjelasan solusi itu akan berkurang," ujarnya

Namun demikian, Darmin tetap optimis aliran dana asing masih terus deras masuk ke tanah air. “Capital inflow akan kembali pada situasi beberapa bulan lalu, tetapi bergantung pada seberapa cepat pelaksanaan keputusan itu," tandasnya.

Sementara itu, Menteri Perekonomian Hatta Rajasa mengungkapkan pemerintah terus mendorong penstabilan harga dan amannya stok bahan makanan. Masalanya hal ini berdampak pada stabilnya tingkat inflasi. "Daya beli masyarakat kita jaga dengan tetap mengendalikan harga-harga dan mengendalikan inflasi sehingga daya beli masyarakat tidak tergerus. Kita terus mempertahankan pasar domestik kita pada harga yang stabil dengan ketersediaan yang cukup," ungkapnya

Oleh karenanya, menurut Hatta, pemerintah menyediakan dana untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok. Tak heran, karena pengaruh inflasi paling besar disebabkan karena bahan pokok ini. "Sebagian besar masyarakat kita yang berpenghasilan rendah, 30%-40% uangnya digunakan untuk pangan," lanjutnya.

Lebih jauh kata Hatta, melihat struktur APBN di 2012, akan terjadi ekspansi besar dengan didasarkan besarnya daya beli masyarakat. Asumsi pemerintah ini, setara dengan sharing dari belanja masyarakat terhadap PDB Indonesia yang bergerak di angka 55 persen. Meski begitu, sampai tahun depan, pemerintah juga tetap berkomitmen manjaga harga bahan pokok. "Kalau bicara menjaga harga bahan pokok disamping tersebar dalam program-program pertanian dan perdagangan. Selain itu, kita juga masih ada space untuk cadangan food security kita bila terjadi gangguan kekeringan kebanjiran dan sebgaainya," tuturnya

Menurut Hatta, pemerintah telah menganggarkan subsidi di sektor pertanian mencapai di atas Rp40 triliun. Dana ini, masih ditambah dengan dana-dana di kementerian lain yang digunakan untuk memperkuat infrastruktur di sektor pertanian. "Disamping itu kita juga menyediakan Rp3 triliun di 2011 untuk membail out adanya puso dan sebagainya," imbuhnya

Pantauan harga emas batangan dari lapangan kini sudah mencapai Rp 504.000-Rp 509.000/gram mulai langka di toko-toko emas. Beberapa emas batangan pecahan kecil masih tersedia, namun melalui pemesanan dalam waktu yang lama. Langkanya emas batangan tersebut disinyalir sulit didapat karena minimnya pasokan dari PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) selaku penyuplai emas-emas batangan tersebut kepada penjual. **cahyo