Pengangguran Terus Ditekan di Bawah 6%

Senin, 31/10/2011

NERACA

Jakarta---Pemerintah berupaya jumlah pengangguran bisa menyusut di bawah 6 % dari total populasi Indonesia. Karena itu pertumbuhan ekonomi harus dijaga dan dibarengi dengan penambahan lapangan kerja. "Kalau pertumbuhan kita 6,1%, bisa menghasilkan lapangan kerja sekitar 3,3 juta. Tahun ini pertumbuhan kita 6,5%, pada 2012 6,7%, maka artinya lapangan yang tersedia akan terus meningkat,” kata ungkap Menteri Perekonomian Hatta Rajasa di Jakarta, (30/10)

Menurut Hatta, konsentrasi pemerintah saat ini target pengurangan pengangguran sekitar 6,8%. “Disamping bisa mengatasi angkatan kerja baru, juga dari existing akan terserap sehingga akan terjadi pengurangan pengangguran dari 6,8% sudah susut di bawah enam persen," tambahnya

Pemerintah, lanjut Hatta, juga mengklaim bahwa pihaknya telah menganggarkan dana-dana dan infrastruktur untuk meningkatkan lapangan kerja. "Lapangan pekerjaan dalam program-program pembangunan 2012 nyata sekali dana-dana yang kita spendingkan untuk infrastruktur dan program-program untuk meng-create lapangan kerja," lanjutnya.

Hal ini dikarenakan pemerintah menginginkan setiap pertumbuhan ekonomi satu persen, hal ini akan berdampak pada penambahan lapangan pekerjaan sekira 450.000 tenaga kerja. "Atau berkaca pada tahun 2010 lalu, sekira 550.000 orang per 1% pertumbuhan ekonomi," paparnya

Catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Februari lalu, angka pengangguran Indonesia mencapai 8,1 juta orang atau sekira 6,8% dari total angkatan kerja. Angka tersebut cenderung menurun diban­ding­kan Agustus 2010 lalu yang men­capai 7,14%. Sedangkan jumlah angkatan kerja di Indonesia pada Februari lalu mencapai 119,4 juta orang atau bertambah 2,9 juta dibandingkan Agustus 2010 sebesar 116,5 juta orang.

Ditempat terpisah, Ketua Umum Asosiasi Tenaga Teknik Indonesia (ASTTI), Deddy Adhiyaksa mengatakan, sektor konstruksi masih membutuhkan tenaga tukang bersertifikat dalam jumlah besar untuk percepatan pembangunan infrastruktur. "Kalau tenaga tukang banyak, namun baru sebagian yang memiliki sertifikat," katanya di Jakarta, Minggu.

Deddy mengatakan, kebutuhan tenaga tukang bersertifikat ini mendorong ASTTI secara berkala menyediakan pelatihan bagi tenaga tukang dan mandor, seperti belum lama ini telah menghasilkan 100 tenaga tukang dan mandor dengan sertifikat keahlian. "Mereka mengantongi sertfikat keahlian sesuai kompetensi yang mereka miliki seperti tukang batu, tukang kayu, tukang listrik serta berbagai keahlian lainnya yang nantinya sebagai bekal bekerja di proyek-proyek konstruksi," ujar dia.

Deddy menjelaskan, ASTTI secara periodik terus mengingatkan tenaga ahli di sektor konstruksi untuk membekali diri dengan sertifikat apalagi empat tahun lagi (2015) Indonesia akan menjadi bagian dari ASEAN Community. **cahyo