Eksportir Harus Mampu Manfaatkan Peluang

Di tengah krisis yang terjadi di Amerika Serikat dan Eropa, eksportir Indonesia seharusnya lebih jeli melihat peluang ekspor ke benua lain sebagai upaya pengalihan ekspor. Diversifikasi harga dan produk ekspor juga harus dilakukan mengingat adanya perbedaan pasar ekspor. Misalnya ekspor ke Afrika Selatan dan Nigeria produk yang harus kita jual ke bukanlah barang yang eksklusif.

Hal ini dikarenakan penduduk di Afrika Selatan, dan Nigeria lebih mengutamakan produk dengan harga yang murah dibandingkan kualitas. Sebaliknya, ekspor ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab seharusnya lebih eksklusif. Potensi untuk mengekspor produk makanan, pertanian, kehutanan, dan perikanan sangat besar ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Hal ini disebabkan secara geografis lahan subur di kedua negara tersebut sangat minim.Karena itu, impor produk makanan, pertanian, kehutanan, dan perikanan ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab akan terus meningkat seiring meningkatnya pertumbuhan penduduk.

Diversifikasi ekspor selayaknya perlu kita dorong ke negara-negara yang kondisi ekonomi makronya baik. Kondisi tersebut bisa kita lihat dari pertumbuhan produk domestik bruto, tingkat inflasi,dan pengangguran di negara-negara yang bersangkutan.

Salah satu negara yang berpotensi sebagai negara tujuan ekspor Indonesia ialah Afrika Selatan.Pada 2010 pertumbuhan PDB Afrika Selatan 2,8%, tingkat inflasi 4,2%, pengangguran 24,9%, dan populasi penduduk 49,9 juta.

Menurut prediksi IMF, pada 2011 pertumbuhan PDB Afrika Selatan adalah 3,39%, tingkat inflasi 5,9%, pengangguran 24,5%, dan populasi penduduk 50,5 juta. Pasar ekspor Indonesia ke Afrika Selatan pada Januari hingga Juni 2011 baru US$635,7 juta atau 0,8% dari total ekspor Indonesia.

Artinya pasar ekspor Indonesia masih kecil dan perlu ditingkatkan. Menurut data kementerian perdagangan Afrika Selatan, ada beberapa produk impor utama Afrika Selatan dari Indonesia yaitu lemak dan minyak hewani dan nabati, plastik dan barang dari plastik, karet dan bahan dari karet, peralatan mesin dan mekanik, perlengkapan listrik, kendaraan, produk industri kimia, dan banyak lainnya.

Negara lain yang masih memiliki potensi yang sangat baik sebagai negara tujuan ekspor adalah Arab Saudi. Pada 2010 pertumbuhan PDB Arab Saudi adalah 4,1%, tingkat inflasi 5,3%, tingkat pengangguran 10%, dan populasi penduduk 27,5 juta. Prediksi IMF pada 2011 pertumbuhan PDB Arab Saudi adalah 6,4 %, tingkat inflasi 5,4%.

Pasar ekspor Indonesia ke Arab Saudi pada Januari hingga Juni 2011 adalah US$659,8 juta atau 0,83% dari total ekspor Indonesia. Menurut data dari World Trade Organization (2009) produk impor Arab Saudi dari yang terbesar antara lain produk manufaktur, produk otomotif, produk pertanian, makanan, bahan kimia, mesin dan peralatan transportasi, peralatan kantor dan telekomunikasi, serta banyak lainnya.

Namun produk yang akan diekspor ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab wajib memenuhi kriteria yang bagus.Hal ini dikarenakan kedua negara tersebut merupakan anggota Gulf Cooperation Council (GCC). GCC adalah persatuan politik dan ekonomi negara-negara Arab antara lain Bahrain, Kuwait, Oman,Qatar,Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab yang berbatasan dengan Teluk Persia.

Anggota GCC merumuskan peraturan yang sama di berbagai bidang seperti ekonomi, keuangan, perdagangan,beacukai,pariwisata, legislasi, dan administrasi. GCG menciptakan seperangkat standar makanan yang bernama Saudi Arabian Standards Organization (SASO).

SASO adalah organisasi di Timur Tengah yang bertanggung jawab menetapkan standar nasional untuk komoditas. Sejak berdiri pada 1972 SASO telah menerbitkan lebih dari 700 standar pengujian dan produk untuk produk makanan.

Jadi, kalau eksportir Indonesia bisa melihat banyak peluang yang terbuka lebar itu niscaya tidak akan terlalu dipusingkan dengan kemunduran ekonomi AS dan Eropa. Hal itu juga akan memperendah ketergantungan ekonomi kita pada negara adidaya tersebut. Ini tantangan buat eksportir kita, apakah mereka dapat memanfaatkan peluang ekspor ke Timur Tengah dan Afrika tersebut?

BERITA TERKAIT

Sektor Perikanan Dapat Ambil Peluang Perang Dagang AS-China - Niaga Internasional

NERACA Jakarta – Pengamat perikanan Abdul Halim mengharapkan Indonesia dapat mengambil peluang dari sektor perikanan menyusul terimbasnya sektor perikanan China…

Industri Kerajinan Harus Dorong Daya Saing Tingkat Global

NERACA Jakarta – Ketua Umum Dewan Kerajinan Nasional Mufidah Jusuf Kalla mengatakan industri kerajinan harus terus meningkatkan daya saing sehingga…

Aksi Beli Investor Topang Penguatan IHSG - Manfaatkan Saham Terdiskon

NERACA Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (9/10), indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup menguat…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Batalnya Kenaikan Premium Supaya Ekonomi Tetap Stabil

Oleh : Hugo, Pemerhati Ekonomi Politik     Kebijakan pemerintah yang berhubungan dengan masyarakat luas tentu akan mendapatkan perhatian lebih…

IMF : Menguntungkan atau Merugikan Indonesia?

  Oleh: Jasmin Erika, Peneliti LSISI Saat ini, Indonesia tengah menjadi tuan rumah bagi penyelanggaran Annual Meetings of the International…

Sinergi Peran AS – Korut

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi., Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Ketegangan AS - Korut nampaknya sedikit mereda setelah…