Peningkatan Kerjasama Perdagangan Kedua Negara

Sabtu, 29/10/2011

Neraca. Tatanan ekonomi dunia yang sempat terhenti karena adanya konflik ideologi dan perang dingin antara timur dan barat, telah berubah dengan cepat menurut pengertian tentang ilmu ekonomi sejak pertengahan tahun 1980, setelah Rusia mengalami keruntuhan. Badan Perdagangan Dunia (WTO) pada tahun 1995 menggalakkan secara resmi sistem ekonomi perdagangan bebas di selumh dunia. Walaupun demikian, persaingan antara Amerika, Eropa, Jepang yang memegang kunci perekonomian untuk mencari negara pasar justru menjadi semakin ketat. Namun bersamaan dengan itu, perekonomian dunia semakin maju dengan adanya politik perdagangan bebas, pengembangan sarana pengangkutan, informasi dan telekomunikasi yang terencana, dan juga keqasama ekonomi serta investasi antar negara yang semakin meningkat.

Di masa mendatang berdasarkan prinsip dasar multilateralisme, sistem WTO yang menuntut perdagangan bebas intemasional akan tetap bertahan, tetapi persaingan dan prosesnya akan semakin meningkat dan berkembang, peran blok ekonomi benua Amerika, blok ekonomi Eropa dan blok ekonomi Asia Timur sebagai tiga pelaku utama ekonomi akan semakin meningkat. Peningkatan ini tidak banya mempengaruhi dalam dan luar negeri saja, tetapi dengan adanya perbandingan keunggulan antar wilayah dalam negeri, menyebabkan pembahan dalam sistem perdagangan barter dan struktur perdagangan akan meluas ke perdagangan luar negeri disertai dengan kebijaksanaan perindustrian.

Dalam pada itu, sejak akhir tahun 1980, Korea Selatan telah membina kejasama dengan negara-negara Asia Tenggara terutama negara-negara ASEAN. Dengan masuknya Vietnam pada tahun 1995, Myanmar dan Laos pada tahun 1997, Kamboja pada tahun 1999 ke dalam AFTA sebagai anggota. Terbentuklah suatu blok ekonomi yang besar di Asia Tenggara yang mencakup wilayah Indocina. Sekalipun saat ini ekonomi dunia menitikberatkan pada wilayah, Korea Selatan berusaha menghadapinya dengan keunikan politik dan ekonominya. Namun ekonomi dunia saat ini dengan aktifnya perdagangan dan investasi antar Negara didukung dengan kebebasan dan kemerdekaan politik, berkembangnya sarana pengangkutan, peningkatan informasi, dan teknologi komunikasi, sangat mempengaruhi aktifitas ekonomi di bidang perindustrian. Kebebasan dan meningkatya sarana angkutan semi berkembangnya informasi dan telekomunikasi seperti tersebut di atas menjadikan transaksi keuangan di pasar modal intemasional menjadi terbuka dan memberikan efek yang sangat buruk yang menjadi salah satu titik kelemahannya. Jika kita tinjau krisis ekonomi yang baru-baru ini menjadi pukulan hebat bagi Asia Tenggara dan Korea Selatan, kita dapat menyimpulkan tanpa adanya penanggulangan secepahya, ekonomi dunia akan menjadi sangat lemah, bahkan tidak punya kekuatan untuk bertahan.

Di lain pihak, Korea Selatan yang karena lemah sumber daya alamnya dan juga sempitpasar dalam negerinya, tidak mempunyai pilihan lain kecuali mengambil strategi menujuke luar negeri, yang karena kekhasan politik ekonomi Asia Tenggara hanya turut serta dan mengikuti teori kedaerahan APEC, dan dalam menghadapinya mengalami kemgian yang cukup besar. Dengan demikian, terbentuknya AFTA membantu Korea Selatan memperkecil kerugiannya dan merasa perlu meningkatkan kerjasama dengan negara-negara AFTA dan menyadari pentingnya turut serta dalam gerak langkah AFTA. Saat ini jika dibandingkan kerjasama politik ekonomi timbal balik dengan Eropa, bagi Korea Selatan, Indonesia adalah negara sasaran pengadaan kerjasama yang paling memberikan harapan.

Dengan populasi, GDP, luas wilayah dan PMA-nya yang sangat besar, Indonesia secaranyata menjadi negara pemimpin baik di ASEAN maupun AFTA. Ditambah lagi denganhasil minyak bumi, gas, hasil hutan, sumber daya alam serta tenaga kerja yang melimpah, Indonesia menjadi negara yang dapat membantu Korea Selatan di bidang ekonomi. Dengan demikian banyaklah perusahaan Korea yang mengadakan hubungan kerjasama dengan Indonesia dengan modal dan teknik yang tinggi. Di AFTA Korea mampu turut dalam gerak majunya, karena mempunyai keadaan ekonomi yang baik, di masa mendatang akan lebih banyak lagi melakukan kerjasama ekonomi dengan negara-negara lain. Mengingat kerjasama Korea dan AFTA yang semakin meningkat, terutama kejasama dengan Indonesia, maka untuk lebih memaksimalkannya kita perlu mempelajari secara seksama ekonomi Indonesia.

Selain itu, Korea Selatan berkomitmen meningkatkan kerjasama bilateral dan ekonomi dengan Indonesia. Negeri Ginseng itu juga siap mendukung pelaksanaan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025. Staf Khusus Presiden bidang Hubungan Internasional, Teuku Faizasyah, menyampaikan hal ini usai mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima Menteri Ekonomi Korsel Choi Joong-kyung, di Kantor Presiden.

Komitmen dukungan tersebut disampaikan Presiden Korsel Lee Myung-bak melalui surat yang dibawa Choi Joong-kyung untuk Presiden SBY. "Surat kepada Presiden, isinya belum disampaikan secara detail. Intinya, komitmen meningkatkan hubungan bilateral dan ekonomi kedua negara," kata Faizasyah.

Dalam pertemuan tadi, Menteri Choi Joong-kyung juga menyampaikan kesiapan Presiden Myung-bak untuk menghadiri KTT ASEAN plus 3 di Bali, November mendatang. Selain itu, dibahas pula kesiapan untuk memperkuat kerjasama dan dialog diantara kedua kepala negara dalam forum-forum internasional, seperti APEC, G20, dan ASEAN plus 3.

Pemerintah Korsel juga mengharapkan dukungan Indonesia atas kampanye Korsel untuk menjadi tuan rumah Konferensi Perbuahan Iklim 2012 (COP ke-18) nanti. "Pemerintah Korea mengharap dukungan Indonesia sebagaimana Korea dulu mendukung Indonesia sebagai tuan rumah di COP tahun 2005 lalu," Faizasyah menjelaskan.

Menurut Faizasyah, Menteri Choi Joong-Kyung tadi juga melaporkan hasil Korea Working Group yang digelar di Bali pada 18 Mei 2011. Laporan tersebut adalah bagaimana meningkatkan hubungan bilateral kedua negara dalam kerangka kemitraan strategis. Dalam upaya peningkatan kerjasama bilateral, disepakati untuk membentuk kelompok kerja di kedua negara.