RSCM Cangkok Ratusan Ginjal Sepanjang 2015

Direktur Utama Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, dr. Czeresna Heriawan S, menyebutkan bahwa terjadi peningkatan jumlah operasi tranplantasi ginjal pada tahun 2015 dibanding tahun-tahun sebelumnya."(Jumlah operasi transplantasi ginjal yang dilakukan) meningkat. Yang terakhir, 2015 itu ada sekitar 120 lebih," ujar Czeresna di RSCM Kencana.

Czeresna mengaku tak tahu angka persisnya, namun sekitar 30 persen dari seratusan permintaan operasi tersebut ditolak oleh pihak rumah sakit karena tidak memenuhi prosedur ketat operasi transplantasi ginjal. Ia menyebutkan, untuk melakukan operasi transplantasi ginjal, seorang pasien harus rela merogoh kocek sedalam Rp300-400 juta, tergantung kondisi, besar tubuh, riwayat kesehatan, serta berat badan yang dimiliki pendonor dan penerima donor.

Dana tersebut, papar Czeresna, digunakan untuk membayar biaya keperluan operasi, seperti listrik, air, gas medis, alkohol, obat, dan berbagai macam zat. "Itu memang ada unit cost resmi yang harus diadakan. Itu memang harus dibeli," katanya.

Czeresna bercerita, pada tahun 2013 lalu RSCM pernah melakukan operasi transplantasi ginjal kepada beberapa pasien secara gratis, namun ia meyakinkan bahwa tidak ada komersialisasi ataupun transaksi jual beli dalam kegiatan itu.Selain itu, RSCM juga tidak pernah ikut campur mencarikan pendonor ginjal kepada pasien yang membutuhkan ginjal. Ia menekankan, rumah sakit hanya bertugas untuk mengawal ketat proses pengobatan agar pasien dapat segera sembuh dari penyakitnya."Masalah diperjualbelikan itu sama sekali bukan masalah rumah sakit. Kalau ada orang berobat ke rumah sakit, kami lakukan pengawalan ketat supaya dia baik. Itu saja," ujarnya.

Ditempat berbeda, Suji, pegawai negeri sipil (PNS) di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Karangrejo, Malang, Jawa Timur (Jatim), selama menderita gagal ginjal. Dua tahun hidup dalam keterbatasan dan menjadi beban orang lain. Itulah yang dirasakan

Setelah menjalani cangkok ginjal di Rumah Sakit dr Saiful Anwar (RSSA) Malang, pada 17 Januari silam, Kepala Tata Usaha di SMP negeri tersebut merasakan perubahan yang sangat berarti. Dia tidak lagi merasa kepanasan di bawah suhu AC 18 derajat Celcius dan sudah kedinginan pada suhu 24 derajat Celsius. “Saya berharap semoga bisa hidup lebih baik,” tuturnya

Suji adalah pasien cangkok ginjal keenam yang ditangani Tim Transplantasi Ginjal RSSA. Dia tercatat sebagai pasien Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan pertama yang menjalani cangkok ginjal di Jatim. Dalam skala nasional, Suji adalah peserta BPJS ketiga yang melakukan cangkok ginjal setelah pasien di daerah Solo dan Semarang, Jawa Tengah.

Kepala Divisi Regional VII Jatim BPJS Kesehatan, Andi Afdal mengungkapkan, pembiayaan yang terus meningkat atas kebutuhan cuci darah membuat pasien keberatan. “Pada kasus Pak Suji, kami memberikan dana BPJS sesuai ketentuan undang-undang,” ujar Andi.

Dalam terapi yang menghabiskan dana sekitar Rp 440 juta itu, Suji mendapat bantuan Rp 150 juta dari BPJS untuk biaya keseluruhan cangkok ginjal. “Awalnya, mau jual tanah, tapi karena BPJS saya nggak jadi jual tanah,” katanya.

Menurut Suji, gagal ginjal yang dideritanya bermula dari hipertensi dan diabetes. Kedua penyakit itu menyerang tubuhnya akibat sering mengonsumsi obat yang berisiko pada ginjalnya. Bahkan, tekanan darahnya tembus angka 300 mmHg hingga tidak bisa diukur.

Sejak terkena gagal ginjal dua tahun silam, Suji harus menjalani cuci darah dengan mesin atau hemodialisis yang biasa disingkat HD dan cuci darah menggunakan rongga perut (CAPD). Namun, kedua metode itu tidak memberikan hasil yang menggembirakan.“Saya kemudian dipertemukan RSSA dengan pedonor ginjal dan memutuskan melakukan cangkok ginjal,” tuturnya.

Gagal Ginjal

Jumlah penderita gagal ginjal di Malang Raya cukup tinggi. Ada 2.900 penderita gagal ginjal dari 3,54 juta jiwa penduduk di Malang. Angka tersebut cukup memprihatinkan, mengingat secara nasional jumlah penderita gagal ginjal mencapai 194.000 orang dari total 237 juta penduduk Indonesia.

Gagal ginjal disebabkan darah tinggi dan diabetes atau kadar gula darah tinggi. Masyarakat yang menderita dua penyakit ini harus segera ditangani, sebab penanganan yang terlambat menyebabkan gagal ginjal

BERITA TERKAIT

PROVINSI SUMATERA SELATAN - Ratusan Ton Beras Bantuan Disiapkan Perkabupaten

PROVINSI SUMATERA SELATAN Ratusan Ton Beras Bantuan Disiapkan Perkabupaten NERACA Palembang - Dinas Sosial Sumatera Selatan menyiapkan stok beras 100…

Impor Sepanjang Agustus 2017 US$13,48 Miliar - Data BPS

NERACA Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor Indonesia Agustus 2017 mencapai 13,48 miliar dolar AS atau turun…

Sat Pol PP Kota Sukabumi Sita Ratusan Rokok Ilegal - Sepanjang Tahun Ini

Sat Pol PP Kota Sukabumi Sita Ratusan Rokok Ilegal Sepanjang Tahun Ini NERACA Sukabumi - Satuan Polisi Pamong Praja (Sat…

BERITA LAINNYA DI KESEHATAN

Menkes Minta Perempuan Tingkatkan Pengetahuan Tentang Gizi

Menteri Kesehatan Nila Moeloek meminta para perempuan khususnya kepada para ibu untuk meningkatkan pengetahuan tentang gizi guna mencegah terjadinya kasus…

Masalah Kejiwaan di DKI Didominasi Tekanan Ekonomi

Penyebab timbulnya masalah kejiwaan atau gangguan kesehatan mental di DKI Jakarta didominasi oleh tekanan ekonomi dan situasi sosial keluarga."Penyebab paling…

Pentingnya Deteksi dini Tumor dan Kanker Payudara

Kanker payudara merupakan penyakit yang ditandai dengan tumbuhnya sel abnormal, tidak terkontrol pada kelenjar dan jaringan payudara. Karenanya bagi wanita…