PLN Belum Bisa Lepas Dari BBM

NERACA

Jakarta – BUMN setrum, PT PLN dinilai masih boros dalam menggunakan BBM. Tercatat hingga September ini konsumsinya mencapai 8,5 juta KL, atau setara 96% dari jatah yang diberikan. "Konsumsi BBM untuk PLN cukup tinggi, tercatat September 2011 PLN mengkonsumsi 8,5 juta KL. Itu sudah 96% dari target," kata Kepala Divisi Gas dan BBM PLN, Suryadi Mardjoeki Jakarta, Rabu (26/10)

Lebih jauh kata Suryadi, angka konsumsi tersebut diuangkan, maka biaya yang dikeluarkan sangat banyak sekali. "Itu dihitung saja, 8,5 juta KL dikalikan dengan BBM HSD harga industri, sudah banyak sekali," tambahnya

Sementara untuk pemakaian gas, Suryadi mengatakan pihak PLN sudah menyerap sebanyak 217 ribu bbtud sampai September 2011 lalu. 74% dari target yang ditetapkan tahun 2011 ini.

Sedangkan, untuk konsumsi Batubara, PLN baru menyerap 19 juta ton hingga September 2011, sudah 48% terserap dari target yang ditetapkan tahun ini. "Energy mix kita di tahun ini untuk BBM adalah 23%, sedangkan batubara 43%, dan gas sebesar 22%. Sedangkan dari energi lain sebesar 12%," terangnya

Suryadi berharap, beberapa waktu ke depan PLN akan mendapatkan pasokan gas dari beberapa wilayah di Indonesia. Hal ini demi mengurangi kebutuhan konsumsi BBM yang bisa menghabiskan dana triliunan Rupiah. Selain itu, diharapkan juga pembangunan beberapa PLTU 10.000 MW yang rata-rata menggunakan batubara sebagai bahan bakarnya segera rampung. Sehingga ada diversifikasi pemakaian energi.

"Kalau pasokan gas kita turun, kita terpaksa mengkonsumsi BBM. Sementara ini belum terlihat pasokan gas yang ada. Tapi kemarin kan ada PLTU Indramayu yang baru masuk ke sistem PLN, itu memakai batubara, itu lumayan menutupi. Selain itu, kita baru bisa lihat berapa konsumsi BBM kita yang terbaru di akhir bulan ini," paparnya

Oleh karena itu, lanjut Suryadi, PLN berencana pada 2013-2014 merampungkan pembangunan proyek Pipa TransJava yang merupakan infrastruktur pipa untuk gas sepanjang pulau Jawa. Sehinga diharapkan bisa membantu memenuhi kebutuhan bahan bakar pembangkitnya di pulau Jawa. "Sekarang yang penting adalah Pipa TransJava yang rencananya ingin dibanding dari Jawa Timur sampai Jawa Barat, jadi jika ada kekurangan gas dari Jawa Barat bisa dialirkan dari Timur jika kelebihan gas di Timur," tuturnya

Yang jelas, kata Suryadi, masalah tersebut sudah disusun dalam Head Of Agreement (HOA) bersama dengan Pertagas. Diharapkan pada tahun 2013-2014 infrastruktur tersebut sudah tersedia bersama dengan didirikannya FSRU (Floating Storage Regasification Unit) Jawa Tengah.”Sumber gasnya nanti dari FSRU Jawa Tengah, gasnya berasal dari macam-macam pasokan. Itu masuk ke FSRU Jawa Tengah. PLN sendiri nggak mikir untuk diri sendiri, kalau pipa itu sudah ada, seiring perkembangan konsumen gas di Jawa kita berharap nanti sepanjang pipa ada SPBG, maka itu kita ingin pipa tersebut jadi," tegasnya. **cahyo

BERITA TERKAIT

Harvest Time Targetkan Listing April 2018 - Lepas 1,86 Miliar Saham Ke Publik

NERACA Jakarta – Memanfaatkan melesatnya pertumbuhan indeks harga saham gabungan (IHSG), dinilai waktu yang tepat untuk melaksanakan penawaran umum saham…

BI Nilai Pelonggaran Bunga Masih Bisa Berlanjut

  NERACA Jakarta - Bank Indonesia mengklaim pelonggaran suku bunga kredit perbankan masih dapat berlanjut di 2018, meskipun penurunan suku…

Koperasi Harus Bisa Mengantisipasi Perubahan Zaman

Koperasi Harus Bisa Mengantisipasi Perubahan Zaman  NERACA Jakarta - Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Agus Muharram menekankan bahwa dengan menyelenggarakan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Proyek Kereta Cepat Diperkirakan Rampung 2020

      NERACA   Jakarta - Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan pembangunan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung membutuhkan waktu pengerjaan…

Indonesia Belum Miliki Cadangan BBM Nasional

      NERACA   Jakarta - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mengusulkan harus adanya pengadaan…

CEPA Jangan Batasi Kebijakan Pemerintah Kelola Ekonomi

    NERACA   Jakarta - Perjanjian Kemitraan Komprehensif yang sedang dibahas antara Republik Indonesia dan Uni Eropa, yang kerap…