Anggaran TNI Disesuaikan Kekuatan Makro Ekonomi

Modernisasi Alutsista Capai Rp 150 T

Kamis, 27/10/2011

NERACA

Bandung--Pemerintah telah menyediakan anggaran sebesar Rp150 triliun selama lima tahun (2009-2014) guna memodernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI. Yang jelas ada penambahan dana sekitar Rp 50 triliun dari rencana awal yang rencananya hanya Rp 100 triliun. "Besarnya anggaran dari pemerintah sudah diperhitungkan kekuatan makro ekonomi makin baik dan anggaran berimbang," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro kepada wartawan di Jakarta, Rabu (26/10)

Menurut Purnomo, peningkatan anggaran untuk alutsista ini hingga 2014. Karena tantangan menjaga kedaulatan negara semakin rumit. Apalagi menghadapi berbagai ancaman dari luar. "Akhir kabinet Indonesia bersatu kedua, kekuatan TNI bakal meningkat secara signifikan dengan hadirnya kekuatan tempur dan kekuatan baru,” ungkapnya.

Selain itu, kata mantan Menteri ESDM ini, selain untuk mengamankan NKRI. Disisi lain kekuatan TNI juga bisa dimanfaatkan untuk operasi kemanusiaan. “Kekuatan TNI juga bisa dipakai untuk operasi militer selain perang seperti kemanusiaan, bencana, dan bakti sosial," paparnya

Lebih jauh kata Purnomo, pemerintah telah memesan sebanyak 9 unit pesawat baru tipe CN295 dari PT Dirgantara Indonesia (PT DI) untuk operasional TNI. Anggaran yang disiapkan mencapai US$ 325 juta. "Diharapkan pada semester I-2014 selesai 9 buah CN295. PT DI merupakan salah satu BUMN yang patut dikembangkan karena posisinya strategis dalam konteks pertahanan," jelasnya sambil menjelaskan hari ini, PT DI dan Airbus Military berkolaborasi dalam pembangunan pesawat CN295.

Dikatakan Purnomo, kerjasama ini menguntungkan PT DI dengan bertambahnya kemampuan serta adanya alih teknologi. Kemudian kerjasama ini bisa menyerap 2.000 tenaga kerja.

Lewat kerjasama ini diharapkan PT DI bisa bersaing di level Asia Pasifik. Apalagi kebutuhan pesawat di wilayah ini sangat tinggi. "Pembelian CN295 ini untuk memenuhi kebutuhan Alutsista TNI," tuturnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT. DI, Budi Santoso menargetkan dapat mencapai realisasi kontrak Rp2,54 triliun untuk pengadaan pesawat dan komponen pesawat sepanjang 2011. Untuk itu PTDI mengharapkan pencairan pinjaman jangka pendek Rp 675 miliar dari PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) cepat cair. "Kontrak kami yang masih harus di-deliver sekitar Rp 3 triliun. Target kami Rp 2 triliun terealisasi tahun ini," katanya.

Kontrak tersebut, lanjut Budi, pengadaan dua unit pesawat CN 235 ke Korea, serta komponen untuk pesawat komersil Airbus 320 dan 380. Ini masih ditambah sebagian dari tiga unit pesawat patrol maritim dari TNI-AL. "Kita berharap adanya dana dari PPA yang Rp 675 miliar. Bulan ini mudah-mudahan sudah cair," ungkapnya.

Budi menambahkan, perseroan memang dalam kondisi kekurangan modal. Untuk itu kesepakatan kerja sama dengan Airbus Military (CASA) diharapkan dapat memperluas pasar industri dirgantara dan dapat bersaing di kawasan Asia Pasifik.

Program revitalisasi dan restrukturisasi PTDI pun terus berjalan. DPR juga telah menyetujui program penyelamatan PTDI, dalam bentuk PMN non cash Rp 3,8 triliun di 2011, serta Rp 2,06 triliun di 2012. "PTDI kan butuh dana Rp 5,8 triliun. Ada konveri utang yang lama Rp 3,8 triliun, yaitu utang kepada pemerintah. Utang ini dikonversi menjadi modal.,” papar Dirut PPA, Boyke Mukijat. **cahyo