Wawancara Khusus

Program Sustainability Bakrie Telecom

Sabtu, 29/10/2011

Neraca. Di Indonesia, istilah CSR semakin populer digunakan sejak tahun 1990-an. Beberapa perusahaan sebenarnya telah lama melakukan CSA (Corporate Social Activity) atau “aktivitas sosial perusahaan”. Walaupun tidak menamainya sebagai CSR, secara faktual aksinya mendekati konsep CSR yang merepresentasikan bentuk “peran serta” dan “kepedulian” perusahaan terhadap aspek sosial dan lingkungan. Melalui konsep investasi sosial perusahaan “seat belt”, sejak tahun 2003 Departemen Sosial tercatat sebagai lembaga pemerintah yang aktif dalam mengembangkan konsep CSR dan melakukan advokasi kepada berbagai perusahaan nasional.

Di Tanah Air, debut CSR semakin menguat terutama setelah dinyatakan dengan tegas dalam UU PT No.40 Tahun 2007 yang belum lama ini disahkan DPR. Disebutkan bahwa PT yang menjalankan usaha di bidang dan/atau bersangkutan dengan sumber daya alam wajib menjalankan tanggung jawab sosial dan lingkungan (Pasal 74 ayat 1). Berikut ini, wawancara khusus dengan Director Corporate Services PT Bakrie Telecom Tbk. (BTEL); Bapak Rahmat Junaidi mengenai program CSR di perusahaan tersebut.

Tanya : Sejak kapan Bakrie Telecom meng-implementasikan program CSR-nya?

Jawab : Kegiatan CSR sudah kami lakukan sejak dari perusahaan ini berdiri, karena kami bertumpu pada landasan falsafah dari H. Achmad Bakrie (pendiri) yang mengatakan “ Setiap rupiah yang di hasilkan Bakrie, harus dapat memberikan manfaat bagi orang banyak”, Fungsi CSR BTel berada di bawah Unit Corporate Communication, bekerja sama dengan divisi terkait memiliki tanggung jawab untuk memetakan prioritas pemangku kepentingan di setiap wilayah di mana Perusahaan beroperasi. Selain itu, fungsi CSR Btel juga melaksanakan pembangunan hubungan dengan pemangku kepentingan dan pemegang saham dengan memulai pelaksanaan dari pengembangan komunitas masyarakat

Bertolak dari pengembangan komunitas masyarakat, konsep CSR BTEL difokuskan untuk meningkatkan partisipasi aktif pegawai BTEL yang turun langsung ke lapangan sebagai tim relawan untuk membantu masyarakat dalam kegiatan sosial perusahaan.

Pada tahun 2006 kegiatan CSR ini dilakukan dengan mengusung nama BTEL ROCKS (Reaching Out Community and Kids) yang fokus utamanya untuk bergerak di bidang pendidikan, penanganan bencana dan marketing CSR. Program BTEL ROCKS yang pertama adalah “Fun Science Esia” ini yaitu memperkenalkan sarana telpon ke anak-anak sekolah, caranya melalui scientific tetapi fun. Kegiatan Fun Science Esia ini dilangsungkan di kota Jakarta, Bandung, Bogor, Yogyakarta, Surabaya, Makassar, Padang dan Medan. Antusiasme dan sambutan luar biasa didapatkan dari anak-anak yang mengikuti Fun Science Esia, bahkan guru-guru pun menjadi bersemangat mengikuti acara dan berdiskusi lebih dalam dengan team Fun Science Esia mengenai pembelajaran Telekomunikasi ini.

Namun selain untuk pendidikan ROCKS juga siapkan untuk tanggap bencana. Kami memberikan pelatihan khusus bagi karyawan kami sehingga memiliki kemampuan yang “mumpuni” dilapangan. Selain jiwa sosialnya ada, juga harus memiliki kemampuan sehingga tidak menjadi menjadi backfire ke perusahaan. Tim telah turun dalam berbagai bencana seperti di Situ Gintung (Jakarta), Padang, dan Merapi .

Pada tahun 2008 CSR BTEL bekerjasama dengan PMI cab Padang untuk memulai Program Pengurangan Dampak Resiko Bencana di Kota Padang melalui program “School Roadshow Esia” .Kegiatan penyuluhan ini dikemas dalam bentuk games yang menarik yaitu “Ular Tangga Bencana” di lakukan di 10 Sekolah Dasar Kota Padang. Hal ini sejalan dengan Program Internasional Pengurangan Dampak Resiko Bencana dengan tema Pengurangan Dampak Bencana

Kami juga memiliki UBER ESIA yaitu program marketing sosialnya Esia. Program ini dimulai pada 29 Juli 2008, Grameen Foundation, PT Bakrie Telecom, Tbk (BTEL) dan Qualcomm Incorporated melalui inisiatif Wireless Reach Qualcomm meluncurkan Uber Esia, yaitu Program Telepon Pedesaan (Village Phone Program). Kami meyakini bahwa masyarakat tertinggal sebagai masyarakat yang produktif dan mereka juga memiliki hak atas akses telekomunikasi.Uber ESIA, membuka kesempatan bagi masyarakat untuk VPO (Village Phone Operator). Saat ini Uber Esia telah memiliki 6000 VPO yang tersebar di wilayah Bekasi, Tangerang dan Serang. Dengan tambahan pendapatan rata-rata sebesar Rp 100 ribu per bulan, model bisnis ini menunjukkan kontribusi positif bagi peningkatan pendapatan masyarakat tersebut

Kebudayaan Indonesia juga kami sentuh melalui pembuatan buku “9 Pengabdi Seni”,yang mengangkat seniman tua yang mempunyai kontribusi ke masyarakat namun sering terlupakan. Yang menarik adalah buku ini dibuat oleh karyawan BTEL dari penulis maupun fotografer. Ini salah satu cara kami untuk tetap merangsang para relawan kami mempunyai aktualisasi diri diluar dari pekerjaan rutin mereka.

Pada tahun 2010, kami mengkristalkan kembali program CSR nya dengan benar-benar masuk ke arah green concept. BTEL mulai mencanangkan ‘Hijau Untuk Negeri” (HUN). Ada anggapan orang, bahwa ‘green movement’ program seperti menanam pohon. Itu bukan hal yang salah, namun ada lebih mendasar yaitu pengurangan karbon di dalam perusahaan, lalu teknik free cooling di BTS-BTS kami, penggunaan perangkat kerja lebih efisien seperti penggunaan kertas recycle, lalu penggunaan kartu voucher yang banyak nilai nominalnya dalam satu lembar sehigga bisa menghemat kertas.

CSR Program di fokuskan kepada edukasi perubahan sikap (green life stlye) di mulai dari anak-anak hingga ke orang tua mereka melalui KELAS HIJAU ESIA. Targetnya tidak hanya anak tetapi juga sekolah, guru dan orang tua murid sehingga mampu mendorong mereka menjadi manusia yang berprestasi, santun, hormat dan mencintai lingkungannya.

Terjadi peningkatan inisiatif dan gagasan dari para relawan BTEL terkait dengan program KELAS HIJAU ESIA. Hal ini menunjukkan besarnya kepedulian internal BTEL terhadap kepentingan dan kebutuhan masyarakat sekitar serta selain itu memperlihatkan bagaimana pegawai BTEL terkait secara langsung dalam kebijakan perusahaan untuk mendorong peningkatan kualitas hidup dari masyarakat sekitar BTEL

Jadi secara keseluruhan, CSR konsep di kami bukan hanya untuk orang luar saja, akan tetapi harus punya manfaat buat di dalam. Setelah program CSR ada sustainability, harus sustain luar dan dalam perusahaan. Sehingga saat ini semua program CSR kami shifting, yaitu ada manfaatnya juga ke internal perusahaan. Kita lihat dari kalimat sustainability itu, tidak akan sustain di luar kalau di dalam juga demikian.

Tanya : Ada beberapa anggapan di luar, bahwa program CSR cukup melakukan pemberian bantuan belaka? Bagaimana dengan Bakrie Telecom sendiri?

Jawab : Kami memang pernah berada di tahapan itu, namun itu pada tahun 2003-2004 lalu. Kemudian kami menyadari, CSR itu bukan hanya memberi bantuan. Lalu kami masuk ke tahap kedua, yaitu CSR memberikan bantuan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Saat ini, perkembangan selanjutnya program kami selain memberikan manfaat ke masyarakat umum, juga memberikan manfaat kedalam perusahaan.

Selain itu, dapat dilihat dari konsep CSR BTEL juga difokuskan untuk meningkatkan partisipasi aktif pegawai BTEL untuk membantu masyarakat dalam kegiatan sosial perusahaan. Sehingga akhirnya dapat terlihat bahwa CSR di BTEL memang juga menjadi nadi kehidupan karyawan kami sehingga juga memperkuat nadi kehidupan perusahaan

Kami saat ini sudah mencapai tahap, sustainability dimana bukan hanya memberikan manfaat ke luar namun juga ke dalam perusahaan. Kita bisa lihat sendiri, dengan adanya sustain itu bisa memberikan manfaat ke dalam, dampaknya ialah penghematan cost. Cara kerja karyawan bisa lebih efektif. Bayangkan saja, penghematan yang kami lakukan bisa mencapai Rp. 20 miliar setahun

Tanya : Program ke depan CSR dari Bakrie Telecom?

Jawab : Kami selalu melakukan evolusi terhadap konsep dan kegiatan CSR kami, namun yang kami pastikan adalah baik konsep dan kegiatan CSR jangan hanya memberikan manfaat keluar namun juga memberikan manfaat ke dalam. Sekarang itu yang sedang kami gunakan, dan kami akan terus mengikuti perkembangan sehingga konsep dan kegiatan CSR kami sesuai, tepat sasaran dan bermanfaat bagi banyak orang.

Ada anggapan bahwa program ‘Hijau Untuk Negeri’ program CSR kami, itu bukan. Hijau itu strategi perusahaan karena HUN adalah penciptaan produk dan layanan yang lebih menguntungkan dan ramah lingkungan, pengurangan biaya operasional dan meminimalkan sisa pembuangan dan resiko terhadap alam.

Jika ada orang bertanya kepada saya, berapa bujet CSR Bakrie Telecom? Saya akan jawab tidak terbatas. Apapun yang kami lakukan, itulah CSR. Jika orang kembali bertanya, sejak kapan? Dari pertamakali perusahaan ini berdiri.