BI Prediksi Inflasi Oktober -0,1%-0,1%

NERACA

Jakarta----Bank Indonesia (BI) memprediksi kemungkinan tekanan inflasi pada Oktober 2011 hanya mencapai -0,1%-0,1%. Karena itu ada trend lebih rendah dibanding angka inflasi September 2011. "Oktober ini, inflasi rendah, mungkin malah deflasi rendah. Kalau saya perkirakan antara -0,1% sampai 0,1%," kata Gubernur BI Darmin Nasution di Jakarta, Senin (24/10)

Meski BI memperkirakan kemungkiann inflasi sampai akhir 2011 ini di bawah 5%. Namun kata Darmin, BI pihaknya masih akan mengkaji apakah perlu melakukan ebijakan moneter. "Kita akan evaluasi dan kaji apa yang terbaik. Bukan hanya inflasi sekarang saja tetapi juga expected inflation yang jadi perkiraan. Kalau sampai tahun depan kita yakin juga inflasi masih berada di bawah 5%," lanjutnya.

Sementara itu, Deputi gubernur BI Hartadi A Sarwono bahkan yakin inflasi Oktober bisa sebesar nol persen. Lebih lanjut, Hartadi melanjutkan, meskipun ada aliran dana masuk (capital inflow) tetapi hal ini tidak bisa mengembalikan cadangan devisa Indonesia di angka USD124 miliar seperti Agustus lalu.

Sebelumnya, Direktur Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Perry Warjiyo mengaku yakin pasca penurunan tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) sebesar 6,5%, bank sentral optimistis tingkat inflasi sampai tahun ini dapat ditekan di level 4,5%-4,7%. Optimisme bank sentral ini, menurutnya telah memperhitungkan wacana kenaikan tarif dasar listrik dan juga volatilitas harga pahan pangan. "Kita sudah memperkirakan arah kebijakan BI rate yang turun, jadi inflasi yang tahun ini bisa 4,9% (year on year) atau sampai tahun depan 4,7%, itu kita sudah memperhitungkan dari policy-policy itu, termasuk kenaikan TDL sekira 0,25% (dampaknya terhadap kenaikan inflasi)," ujarnya

Menurut Perry, Bank sentral juga telah melihat volaitilitas harga bahan makanan seperti beras sebelum memutuskan menurunkan BI Rate. Pemerintah, menurutnya juga telah melakukan upaya-upaya seperti melakukan impor beras guna mengurangi dampak besarnya inflasi di bidang bahan makanan. "Pemerintah sudah lakukan impor kan ya beberapa waktu lalu, sebagian juga sudah masuk kan, mereka juga sudah bicarakan yang dari Thailand itu (impor beras). Kalau tidak bisa, kemungkinan pemerintah kan masih punya plan B seperti impor beras dari Vietnam atau dari mana. Lagi pula panen kan tahun ini relatif baik tahun ini, sehingga tekanan inflasi dari volatilitas harga makanan itu manageable," lanjut dia.

Kecenderungan BI sendiri, menurut calon deputi gubernur BI ini, adalah inflasi di bulan Oktober sampai November ini masih bisa dalam tataran wajar. Kenaikan inflasi sediri baru diperkirakan akan terjadi pada Desember. "Ya karena seasonal-nya memang begitu, Oktober ini (inflasi) agak sedikit turun dan sedikit meningkat di November Karena biasanya ending di November itu agak sedikit meningkat, tetapi itu gejala seasonal saja," pungkasnya. **cahyo

BERITA TERKAIT

Biaya Kesehatan Lebih Tinggi Dibandingkan Inflasi

    NERACA   Palembang - Perusahaan asuransi AXA Mandiri mengungkapkan laporan sebuah survei menjelaskan biaya kesehatan di Indonesia meningkat…

Inflasi Akhir 2017 Ditaksir 3,5%

      NERACA   Jakarta - Inflasi akhir 2017 "sangat memungkinkan" mendekati 3,5 persen (year on year/yoy) dari posisi…

ESDM : Divestasi Freeport Selesai Oktober 2017

      NERACA   Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan optimis permasalahan divestasi dengan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Darmin Prediksi Inflasi Dibawah 4%

      NERACA   Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan laju inflasi Indonesia bergerak ke arah…

Menkeu : Proyeksi IMF Berikan Kewaspadaan

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan proyeksi pertumbuhan ekonomi global Dana Moneter Internasional…

Sumbangan Devisa Pariwisata Masih Terbatas

      NERACA   Padang - Bank Indonesia (BI) menilai sumbangan sektor pariwisata terhadap cadangan devisa Indonesia, masih relatif…