Super Holding BUMN Belum Jadi Prioritas

NERACA

Jakarta--- Rencana pembentukan "super holding" Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tampaknya bisa molor. Karena Kementerian BUMN akan meminta “nasehat” dulu dari Presiden, Menteri Koordinator Perekonomian dan DPR. "Saya dengar dulu seperti apa keinginan Presiden, Menteri Perkonomian dan DPR, mau seperti apa," kata Menteri BUMN, Dahlan Iskan kepada wartawan di Jakarta,23/10

Lebih jauh kata Bos Jawa Pos Group ini, mengenai "super holding", privatisasi, maupun restrukturisasi, dirinya belum akan membicarakan hal itu lebih lanjut. Saat ini lebih baik mengerjakan yang menjadi prioritas dan jangka pendek lebih dahulu. “Lebih baik saya kerjakan yang di depan mata sambil menyusun konsep dasar. Lalu lintas surat, laporan, dan jumlah rapat harus turun 50%,” tambahnya.

Disisi lain, kata Dahlan, pihaknya juga akan mengurangi intervensi Kementerian BUMN terhadap perusahaan-perusahaan BUMN. Namun akan mengubab pola dan mekanisme system kerja yang mementingkan hasil ketimbang proses. "Sistem kerja yang tadinya mementingkan proses, menjadi sistem yang mengutamakan hasil dengan proses yang tetap baik dan efisien," paparnya

Bila langkah tersebut dapat dilaksanakan dalam tiga bulan, diharapkan akan terjadi perubahan besar di BUMN. Intinya adalah penekanan pada pentingnya hasil dari proses kerja adalah untuk lebih meningkatkan produktivitas kerja para pejabat BUMN.

"Kapan orang bisa kerja kalau sibuk membuat laporan," katanya.

Sebelumnya, pemerintah menargetkan pembentukan "super holding" BUMN tuntas pada 2014 mendatang setelah merampungkan pembentukan lima hingga enam "holding" BUMN. Bahkan Kementerian BUMN sempat menargetkan "Pembentukan Super Holding BUMN menjadi bagian dari cetak biru Master Plan BUMN 2010-2014. Pada 2015 ditargetkan jumlah BUMN hanya tinggal 87 perusahaan, dari saat ini (2011) sebanyak 141 perusahaan," kata Deputi Menteri BUMN Bidang Restrukturisasi dan Perencanaan Strategis, Pandu A Djajanto.

Menurut Pandu, keenam sektor usaha yang pembentukan holdingnya sedang dalam penanganan yaitu BUMN Perkebunan, BUMN Kehutanan, BUMN Farmasi, BUMN Pariwisata, BUMN Karya, BUMN Jasa Kepelabuhanan.

Holding BUMN Perkebunan akan rampung pada 2011, kemudian menyusul holding lainnya pada tahun-tahun berikutnya. Dalam menangani pembentukan holding BUMN akan dibentuk Tim yang terdiri atas Kementerian BUMN, Kementerian Keuangan, Perusahaan Sektor yang bersangkutan, dan Sekretariat Negara. "Holding BUMN Perkebunan akan menjadi pilot project bagi pembentukan holding BUMN lainnya," tegas Pandu. *cahyo

BERITA TERKAIT

Menteri BUMN Harapkan Ibu Ibu Mekaar PNM Menabung

Menteri BUMN Harapkan Ibu Ibu Mekaar PNM Menabung NERACA Padang - Menteri BUMN Rini M Soemarno menyerahkan secara simbolis buku…

Indonesia Defisit 2.500 Tenaga Pialang - Bursa Berjangka Belum Optimal

NERACA Palembang – Mendorong Indonesia menjadi tuan di rumah sendiri dalam acuan harga komoditas dunia dan mensejahterakan para petani, merupakan…

Inovisi Infracom Belum Catatkan Pendapatan

NERACA Jakarta – Ancaman delisting terhadap PT Inovisi Infracom Tbk (INVS) membuat kekhawatiran sebagian investor yang dananya terlanjut mengendap di…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Darmin Prediksi Inflasi Dibawah 4%

      NERACA   Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan laju inflasi Indonesia bergerak ke arah…

Menkeu : Proyeksi IMF Berikan Kewaspadaan

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan proyeksi pertumbuhan ekonomi global Dana Moneter Internasional…

Sumbangan Devisa Pariwisata Masih Terbatas

      NERACA   Padang - Bank Indonesia (BI) menilai sumbangan sektor pariwisata terhadap cadangan devisa Indonesia, masih relatif…