Tantangan Kerja Menteri Ekonomi

Jumat, 21/10/2011

Ada pertanyaan yang menarik terkait reshuffle kabinet, apakah kinerja tim ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II pasca reshuffle akan mengalami perubahan berarti di tengah ancaman krisis global dan virus Wall Street?

Pasalnya, tantangan ekonomi ke depan baik pada skala global maupun domestik ibarat pelari, butuh tenaga sprinter yang mampu meningkatkan kecepatan dan kapasitas pembangunan di negeri ini. Sebab untuk menghadapi tantangan global, kementerian ekonomi dapat dikategorikan dalam tiga pilar pokok strategik, yaitu bidang keuangan, industri,dan perdagangan.

Bagaimanapun, kita masih menghadapi ketidakpastian perekonomian global. Karena belum lama ini dalam pertemuan G-20 di Prancis, proyeksi pertumbuhan global terkoreksi secara signifikan, terutama pada 2012. Perlambatan perekonomian global memang baru akan terasa dampaknya secara serius tahun depan.

Kementerian Keuangan yang mendapat amunisi baru dengan hadirnya Mahendra Siregar sebagai wakil menteri, dan masuknya Gita Wiryawan sebagai menteri perdagangan, setidaknya mampu meningkatkan lini depan tim ekonomi Indonesia menghadapi ancaman krisis global termasuk demam Wall Street yang sudah di depan mata kita.

Kementerian Perdagangan ditantang mampu memperluas diversifikasi dan tujuan ekspor kita dalam jangka pendek, mengingat AS, Eropa dan Jepang tidak bisa lagi diandalkan menopang penerimaan devisa Indonesia. Sedangkan Kementerian Keuangan harus banyak berkoordinasi pada tingkat global, serta terlibat langsung dalam perumusan kebijakan bersama-sama negara lain, baik di tingkat regional maupun global. Tugas beratnya dalam jangka pendek, merancang protokol krisis yang solid guna mengantisipasi gejolak lanjutan di pasar keuangan.

Kita menyadari belakangan ini pasar keuangan mulai tenang, terkait dengan optimisnya penyelesaian masalah Eropa. Namun, kita tetap mawas diri jika gejolak akan muncul lagi. Apabila gejolak di pasar modal dan obligasi terjadi, Kementerian Keuangan harus cepat meresponnya. Untuk itu saatnya sekarang segera merampungkan Undang-Undang (UU) Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK).

Krisis yang melanda kawasan Eropa memang masih jauh dari selesai. Sementara perekonomian Amerika Serikat masih terus dibayangi peningkatan beban fiskal pemerintah yang disertai dengan prospek pertumbuhan yang rendah. Akibatnya, penyerapan tenaga kerja serta indeks produktivitas terus menurun.

Dengan demikian, dinamika ekonomi dan bisnis, baik di AS maupun Eropa, akan semakin sulit. Meski guncangan krisis yang diakibatkan oleh situasi global tidak akan separah 2008, durasi krisis tampaknya akan jauh lebih lama. Dalam jangka menengah, perekonomian global masih akan berada dalam posisi pertumbuhan rendah akibat melemahnya dinamika ekonomi negara maju. Penyelesaian dalam tataran global dibutuhkan keseimbangan baru, mengingat akar dari krisis global adalah ketidakseimbangan dinamika global.

Kita melihat pertumbuhan ekonomi China 2011 sudah terkoreksi dari 9,5% menjadi 9,1%. Tahun depan pertumbuhan akan terkoreksi lebih tajam lagi. Juga dengan India yang tahun ini pertumbuhannya masih di kisaran 7,5%.

Kemungkinan pada 2012 bisa di bawah 7% mengingat India memiliki exposure ekspor yang cukup tinggi ke kawasan Eropa. Jika China dan India mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi, Indonesia juga akan terkena dampaknya. Sekitar 60% ekspor kita tertuju pada China dan India, terutama komoditas. Dua bidang yang akan terpengaruh secara drastis adalah pertumbuhan sektor industri dan ekspor. Waspadalah!