Bank Asing Berlomba Masuk RI - Pasar Indonesia Besar

NERACA

Bali---Perbankan nasional harus berani menuntut perlakuan asas resiprokal (persamaan) terkait pembukaan cabang di luar negeri. Alasanya perbankan nasional di Indonesia memiliki potensi yang besar untuk berkembang. "Kita punya bargaining posisi yang besar, karena pasar kita yang besar dengan 230 juta penduduk, ini juga yang membuat banyak bank asing masuk ke dunia perbankan kita," ungkap Senior Executive Vice President Bank Mandiri Haryanto Budiman, dalam Media Trainning 2011 di Hotel Pullman, Bali, Kamis (20/10/2011).

Menurut Haryanto, investor asing yang masuk ke dunia perbankan nasional tertarik dengan besarnya pasar ini, sehingga Indonesia harus berani menuntut perlakuan yang sama bagi perlakuan investor asing di Indonesia. "Masyarakat Indonesia penetrasinya masih rendah sekali di dunia perbankan, untuk mengambil kredit, deposito, KPR, kartu kredit, dan lainnya, ini berarti pasar kita masih punya kans besar untuk tumbuh," lanjutnya.

Salah satu cara yang akan dilakukan Bank Mandiri untuk memperluas penetrasi perbankan di Indonesia adalah dengan cara menggandeng perusahaan telekomunikasi untuk bertransaksi. "Seperti di Kenya itu ada program m-pesa, jadi nasabah pengguna mobile phone bisa melakukan transfer meskipun dia tidak menjadi nasabah di bank kita," imbuhnya.

Sebelumnya, ekonom Universitas Gadjah Mada, Tony Prasetyantono menilai tingkat kompetisi bank-bank lokal Indonesia secara umum dinilai rendah dan kurang mampu bersaing dengan bank dari negara-negara tetangga. Dengan membandingkan kiprah bank-bank negara tetangga dan bank lokal, tidak salah kalau para pemerhati perbankan menjuluki bank nasional cuma jago kandang. "Di luar negeri, bank asing lebih advanced. Dalam beberapa hal memang bank kita tidak kalah canggih. Masalahnya, kalau bank di Indonesia hanya jago kandang," katanya

Julukan itu, papar Tony, tidak berlebihan. Terbukti, bank-bank asal Indonesia tidak dikenal di negara lain. Akibatnya, mereka kalah bersaing dengan bank asing untuk mengurusi transaksi bagi eksportir di luar negeri. "Eksportir kita kan juga ada yang asing. Jadi dalam waktu dekat yang mendapatkan keuntungan justru bank-bank asing yang ada di Indonesia," katanya.

Menurut Tony, bank lokal perlu memiliki wawasan internasional. Walaupun bank di dalam negeri sudah sangat canggih dan memiliki fitur-fitur layanan yang maju dan kompetitif dengan bank asing, bank lokal masih butuh banyak pembenahan. Padahal BI sudah menerapkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) tentang arus devisa ekspor yang mewajibkan para eksportir menyimpan hasil ekspor-nya di perbankan dalam negeri. “Ini pekerjaan besar, tidak bisa kita buat PBI secara langsung. Namun, kita harus yakinkan eksportir bahwa bank-bank kita bisa dan harus punya cabang di luar," terangnya

Bank-bank lokal harus berjuang membuka cabang di luar negeri dan jangan puas dengan beroperasi di dalam negeri. Eksposur ke luar negeri tetap perlu. Seperti diketahui, perbankan lokal kesulitan membuka cabang di regional karena sejumlah aturan ketat yang berlaku di negara tetangga seperti di Malaysia, China, Hong Kong, dan Singapura. **cahyo

BERITA TERKAIT

Peluang Mata Uang Digital Libra Di Pasar Indonesia

  NERACA Jakarta - Ketua Indonesia Blockchain Society, Ery Punta H, menjelaskan mata uang digital (cryptocurrency) "Libra" besutan Facebook memiliki peluang untuk digunakan…

DPRD Jabar Inisiasi Pembentukan Raperda Pusat Pasar Distribusi

DPRD Jabar Inisiasi Pembentukan Raperda Pusat Pasar Distribusi NERACA Bandung - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat (Jabar)…

Indonesia-Papua Nugini Bermitra Awasi Peredaran Produk Ilegal

Indonesia-Papua Nugini Bermitra Awasi Peredaran Produk Ilegal NERACA Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menjalin kemitraan dengan otoritas…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Penurunan Pajak Obligasi Dinilai Menekan Likuiditas Bank

  NERACA   Jakarta - Penurunan pajak bunga surat utang atau obligasi infrastruktur dinilai efektif bisa menghimpun pendanaan, namun di…

ADB Sebut Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Jadi Contoh Di Asia Tenggara

      NERACA   Jakarta - Presiden Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank (ADB) Takehiko Nakao mengatakan pertumbuhan…

Hadapi Era Industri 4.0, OJK Dorong BPR Syariah Kolaborasi

    NERACA   Jatim - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 4 Jawa Timur mendorong Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS)…