80 Juta Orang Miskin Belum Nikmati Listrik

Prediksi Bank Dunia

Kamis, 20/10/2011

NERACA

Jakarta---Bank Dunia memperkirakan masih ada sekitar 80 juta masyarakat Indonesia belum terakses listrik. Bahkan lebih dari 50% berada di luar Pulau Jawa. Karena itu sangat penting masalah mekanis dan target pencapaian subsidi yang lebih baik. “Makanya mekanisme subsidi perlu ada pencapaian target yang jelas,” kata Direktur Sektor Pembangunan Berkelanjutan untuk Asia Timur-Pasifif, Bank Dunia, John Roome dalam peluncuran laporan One Goal, Two Paths di Jakarta,19/10

Lebih jauh kata Jonh Roome, selain akses masalah listrik, masyarakat miskin juga membutuhkan peralatan moderan guna peningkatan akses memasak. Sehingga tak membutuhkan bahan bakar padat. ““Mekanisme subsidi yang baru dibutuhkan untuk meningkatkan akses tungku masak yang moderen di daerah miskin yang terpencil yang masih bergantung pada bahan bakar padat,” terangnya.

Menurut John, bantuan Bank Dunia melalui AusAid ini lebih difokuskan pada pencapaian akses listrik universal dan memasak dengan cara yang ramah linkungan (clean cooking) di Indonesia. “Walaupun pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Timur-Pasifik mencapai hasil yang luar biasa. Namun masih ada sekitar 170 juta orang di kawasan ini yang belum memiliki listrik dan sekitar 1 miliar orang lainnya masih menggunakan bahan bakar padat untuk memasak,” tambahnya.

Sementara itu, Maritje Hutapea, Direktur Bioenergi, Dirjen energi baru terbarukan dan konservasi energi, Kementrian ESDM mengatakan program Bank Dunia yang bertema one goal, two paths: (satu tujuan, dua jalan) menjabarkan program ambisius untuk mengatasi masalah kekurangan energi di kawasan pada tahun 2030.

Lebih jauh kata Maritje, penggunaan bioenergi dinilai lebih ramah lingkungan. Apalagi bioenergi ini bersumber dari biomassa yang merupakan materi organik berusia relatif muda dan berasal dari makhluk hidup atau produk dan limbah industri budidaya (pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, perikanan).

Sedangkan Firman lubis dari Koalisi untuk Indonesia Sehat (KIS) mengatakan pemerintah Indonesia sendiri sudah mencanangkan program bioenergi untuk melimalisir angka kematian Ibu dan anak yang di sebabkan polusi ”udara”. Karena angka kematian ibu dan anak di Indonesia dinilai cukup besar di bandingkan Vietnam dan Thailand,” katanya

Sebelumnya, Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Indonesia Shubham Chaudhuri mengkritik kebijakan ekonomi Indonesiam yang rajin memberikan subsidi ketimbang memperbaiki infrastruktur ataupun pendidikan masyarakat. "Memperbesar pengeluaran untuk subsidi ini berarti uang yang dikeluarkan pemerintah akan semakin besar. Padahal harusnya dana tersebut bisa digunakan untuk kebutuhan pembangunan seperti pendidikan, kesehatan, perlundungan sosial, infrastruktur. Dana untuk subsidi ini juga bisa digunakan untuk bantuan tunai pada rumah tangga miskin," tuturnya

Shubham juga menjelaskan soal program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang diluncurkan pemerintah untuk 2011-2025. Program ini berpotensi untuk meningkatkan kondisi infrastruktur di Indonesia. **sahlan