Reaksi Dari Beberapa Golongan

Sabtu, 22/10/2011

Neraca. Prihatin atas banyaknya pencurian pulsa, gerakan mematikan HP selama dua jam hari ini akan dilakukan. Gerakan yang akan dimulai tepat pukul 10.00-12.00 WIB ini sebagai protes kepada BRTI, operator seluler, serta content provider yang dianggap bertanggung jawab atas tersedotnya pulsa para konsumen.

"Sabtu (15 Oktober 2011) pukul 10.00-12.00 WIB, 11.00-13.00 WITA, dan 12.00-14.00 WIT, 70 juta pengguna akan serentak mematikan ponselnya. Traffic voice, SMS, dan data akan anjlok selama 2 jam," kata koordinator aksi dari Konsumen Ponsel Indonesia dan Komunitas Voice of Humanism, Harja Saputra dalam rilis yang dikirim ke berbagai media.

Angka 70 juta lebih atau 30% konsumen ponsel ini menurut Harja bukan angka yang asal tebak. Harja mengklaim tahu pergerakan penyebaran ajakan untuk mematikan HP sudah sangat mewabah. "Ada hitungan matematisnya dengan perhitungan probabilitas yang tidak mungkin dituliskan di sini karena banyak akun-akun FB Group, forum-forum, hashtag twitter, dan media-media lain yang harus disimpan sendiri," ungkapnya.

Dia memaparkan, gerakan ini bukan tanpa hambatan. Menurutnya pasti ada resistensi termasuk makian-makian di berbagai forum. "Makian di forum-forum itu sudah biasa. Karena pro-kontra itu pasti ada," ucap Harja. Harja mengatakan, tujuan gerakan ini adalah bukan gerakan teror yang menebar ketakutan ke semua orang. Gerakan ini bukan gerakan brutal. Hanya ingin menunjukkan bahwa konsumen itu eksis.

"Bisa melawan dengan cara mereka. Bahkan mereka bisa diarahkan ke satu tujuan tertentu. Gerakan ini secara kasat mata, saya optimis akan diikuti oleh minimal 70 juta konsumen ponsel Indonesia," paparnya. Menurutnya, gerakan ini akan memberikan efek psikologis. Karena menurutnya, ini bisa memberikan pembelajaran bahwa konsumen adalah kumpulan massa yang bisa digerakkan. Jika penggeraknya destruktif maka akan melahirkan kerusakan.

"Untungnya gerakan kami bukan destruktif tetapi gerakan damai. Tapi yakin akan memberikan efek positif dan efektif agar operator, CP, dan regulator berpikir 1000 kali," katanya.

Sementara itu, sebanyak 2.504 pengaduan masyarakat terkait kasus pencurian pulsa diterima posko Lingkar Studi Mahasiswa (Lisuma) sejak awal Oktober 2011 lalu. Dari data itu terungkap bahwa ada tiga operator yang selama ini paling banyak dikeluhkan masyarakat.

Ketua Umum Lisuma, Al Akbar Rahmadillah, mengatakan, tiga operator yang banyak dikeluhkan adalah Telkomsel, Indosat, dan XL Axiata. "Rinciannya Telkomsel 40 persen, Indosat 30 persen, dan XL Axiata 15 persen," ujar Akbar, Jumat (14/10/2011), di Mapolda Metro Jaya.

Keluhan juga ditujukan kepada para perusahaan penyedia layanan konten. Berdasarkan data Lisuma, keluhan paling banyak ditujukan kepada perusahaan penyedia layanan konten yang bekerja sama dengan Telkomsel (42 perusahaan), Indosat (38), dan XL Axiata (17). Menurut Akbar, banyaknya keluhan masyarakat yang diterima Lisuma menunjukkan tingkat ketidakpercayaan akan kinerja pemerintah dalam mengawasi pihak swasta yang menjalankan bisnisnya.

"Banyak masyarakat tidak percaya pemerintah, BRTI, dan operator. Ada yang telepon saya, mending saya telepon ke Mas karena ini cuma dilempar saja. Ini sangat miris," tuturnya. Ia pun berharap agar pemerintah bisa mengembalikan kepercayaan para pengguna telekomunikasi dalam menegakkan perlindungan konsumen. Lisuma, kata Akbar, juga siap mendampingi para korban yang hendak melapor ke polisi.

"Data-data yang kami himpun ini akan kami sampaikan ke Mabes Polri karena kami punya data dari Sabang sampai Merauke. Dan, bagi mereka yang akan melapor, jangan takut, kami siap mendampingi," tandasnya.