Inkud, Jadi Model Koperasi Konglomerat

Kamis, 20/10/2011

Jatinangor - Kementerian Koperasi dan UKM berharap Induk Koperasi Unit Desa (Inkud) dapat menjadi model sebuah koperasi konglomerat dan bukan kumpulan koperasi biasa. "Untuk menjadi koperasi konglomerat, tentunya Induk KUD harus bisa melakukan manajemen terbuka dengan pola komunikasi yang transparan," kata Asisten Deputi Urusan Keanggotaan Koperasi, Dicdic Suhada, ketika menyampaikan sambutan Menteri Koperasi dan UKM di Jatinangor, Rabu, dalam acara Rapat Anggota Tahunan (RAT) Induk KUD ke-31.

Pihaknya meminta Inkud agar menunjukkan diri sebagai lembaga yang bisa dipercaya dan akuntabel serta siap untuk berkompetisi di era globalisasi. Mewujudkan Inkud sebagai koperasi konglomerat seperti yang diharapkan, menurut dia, hal itu sangat besar peluangnya bagi Inkud untuk diwujudkan. "Kita harus mengingat kekuatan besar yang dimiliki Inkud yang beranggotakan 27 Puskud, ditambah Pusat koperasi Serba Usaha dan Pusat Koperasi Pedagang Pasar DKI," paparnya.

Induk KUD juga memiliki jaringan yang luas karena memiliki lebih dari 9.000 KUD dengan jumlah anggota sekitar 13,4 juta orang yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara.

Menurut dia, hal itu merupakan potensi pasar dan sumber perekonomian tinggi yang sangat mungkin untuk dikembangkan. "Saya percaya dan yakin bila Inkud dioptimalkan maka akan menjadi soko guru petani, dan para anggota akan semakin terangkat derajatnya. Dan akan menjadi bukti bahwa Induk KUD adalah salah satu pilar ekonomi Indonesia," ujarnya, menegaskan.

Ia berpendapat pada masa lalu Induk KUD juga memiliki peran besar dalam memberdayakan petani dan anggotanya melalui berbagai kegiatan usaha.

Beberapa kegiatan usaha KUD, kata dia, sudah saatnya direvitalisasi di antaranya dalam kegiatan penyaluran dan penjualan pupuk, pengadaan pangan, waserda, dan usaha simpan pinjam. "Semua kegiatan itu, saat ini nyaris tidak terdengar, padahal kegiatan itu merupakan aktivitas KUD yang sangat membantu para petani dan masyarakat sekitar," tuturnya.

Pihaknya berharap Inkud dapat secara aktif merevitalisasi anggotanya agar menjadi organisasi yang berkualitas. Revitalisasi koperasi harus dimulai dari hal yang amat mendasak yaitu pembenahan kelembaaan seperti berfungsinya dengan baik perangkat organisasi koperasi, di mana salah satunya rapat anggota dapat terlaksana dengan tertib dan tepat waktu.

Pihaknya juga mengapresiasi usaha Inkud yang telah mengembangkan berbagai kemitraan dengan mitra baik dari dalam maupun dari luar negeri.

Salah satu contohnya dalam waktu dekat Inkud akan mengekspor nanas, pisang, dan kelapa ke Korea Selatan. Contoh lain di sektor bisnis ritel, Inkud sedang berencana mengembangkan koperasi konsumen Indonesia berkonsep "Coop Mart" yang sekaligus berfungsi sebagai laboratorium bisnis eceren koperasi di Indonesia.

"Ini perlu diapresiasi karena merupakan upaya untuk mengembangkan koperasi berskala besar agar dapat memberikan pelayanan yang prima kepada para anggotanya. Dan Inkud sudah mulai merintisnya dengan baik," kata Dicdic Suhada.

Buka di 5 Negara

Selain itu, Inkud juga telah membuka kantor perwakilan di empat negara dan segera menyusul di Lisabon, Portugal. "Di luar negeri kami telah memiliki kantor perwakilan di empat negara dan satu negara di Eropa akan menyusul yakni di Lisabon, Portugal," kata Ketua Umum Inkud, Herman Y.L. Wutun di Jatinangor, Rabu. Kantor perwakilan itu berlokasi di Taipe Taiwan, Malaysia, Tokyo Jepang, dan Seoul Korea Selatan.

Menurut Herman, keberadaan kantor perwakilan di luar negeri menjadi cerminan upaya untuk tetap mengembangkan kemitraan dengan berbagai pihak termasuk investor asing. "Kami berharap perwakilan-perwakilan kami di luar negeri dapat menjadi pendorong bangkitnya KUD dan jaringannya," katanya.

Pada akhirnya, kata Herman, hal itu akan berdampak positif bagi petani dan nelayan dengan semakin terangkatnya derajat mereka sebagai basis anggota KUD di seluruh Indonesia.

Menurut dia, dengan jumlah anggota saat ini 13,4 juta yang tersebar di seluruh pelosok nusantara Inkud harus mampu memformulasikan konsep dan pengembangan kerja sama yang mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja.

Oleh karena itu, pihaknya membuka kantor-kantor perwakilan di luar negeri yang bertugas untuk mencari lebih banyak investor dan menjajaki peluang kerja sama. "Kantor perwakilan ini juga yang bertugas memasarkan produk-produk kita ke luar negeri," katanya.

Ia mencontohkan, pemasaran produk singkong kini semakin terbuka ekspornya ke China, Korea, dan Jepang pasca-dibukanya kantor perwakilan di luar negeri. Selain itu produk kelapa sawit pun telah dipasarkan ke pasar ekspor yang lebih luas.

Di samping itu, Inkud juga menggandeng Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk bekerja sama dalam urusan pengadaan pangan di Indonesia. "Kami telah sepakat dengan Bulog khususnya dalam soal pengadaan pangan," kata Herman.

Ia mengatakan, dalam beberapa waktu terakhir pihaknya banyak mengembangkan kemitraan dengan berbagai partner dan Bulog menjadi salah satu mitra yang potensial.

Herman menegaskan, pengadaan beras diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pangan utama di dalam negeri. "Melalui kerja sama ini kami harapkan bisa mendorong peningkatan produksi beras lebih besar lagi," katanya.

Direktur Bisnis Inkud, Arson Libra Putra, pada kesempatan yang sama mengatakan, kerja sama dengan BUMN logistik tersebut bertujuan untuk melibatkan jaringan KUD dalam penyediaan kebutuhan beras dalam negeri. "Ini untuk mendukung swasembada pangan di Indonesia agar tidak perlu lagi impor beras," katanya.

Bahkan, pihaknya berharap Indonesia dapat menjadi pengekspor beras ke pasar dunia. Hal yang akan dilakukan di antaranya memberdayakan petani anggota KUD untuk melakukan penanaman beras di seluruh provinsi. "Anggota kami ada sekitar 13,4 juta orang dan jika seluruhnya diberdayakan maka swasembada beras bukan tidak mungkin terjadi," katanya.