Awas Krisis Sudah Mengimbas China

Ada Pengalaman Hadapi Krisis

Kamis, 20/10/2011

NERACA

Jakarta---- Pemerintah mengatakan krisis ekonomi global mulai merembet ke China. Namun demikian pemerintah telah siap menghadang. Apalagi pengalaman krisis 2008/2009 menjadi pelajaran. "Secara umum, kita waspada dan kita tidak terlalu khawatir, karena kita banyak belajar dari 2008/2009," kata Menteri Keuangan Agus Martowardojo kepada wartawan di Jakarta, (19/10)

Namun Agus menegaskan pemerintah telah menyiapkan beberapa strategi guna menghadapi krisis tersebut dan mengajak semua unsur kabinet mengatasi krisis ini secara bersama-sama. "Secara umum kita siap, kalau berdampak berkembang termasuk ke Indonesia," tambahnya

Lebih lanjut Agus menambahkan pihaknya akan berkoordinasi dengan semua menteri yang terkait. "Presiden sudah sangat memahami situasi ini, mengajak semua kabinet untuk bersama menyatukan upaya yang baik mengatasi hal ini," jelasnya.

Mantan Dirut Bank Mandiri ini menambahkan pemerintah selalu siap siaga dan memperhatikan perkembangan dunia saat ini. Bahkan pasar financial termasuk yang selalu memantau kondisi dalam maupun luar negeri. "Kita prinsipnya terus memperhatikan perkembangan dunia, sekarang yang kita awasi bukan hanya kondisi dalam negeri, pasar modal, pasar uang, pasar komoditi tapi kita juga memperhatikan kondisi umum ekonomi kita, yang di global kita perhatikan Eropa dan Amerika," imbuhnya

Meski begitu Agus mengakui Eropa sekarang ini juga telah mengupayakan untuk memperbaiki perekonomiannya. "Di Eropa 23 Oktober 2011 ada pertemuan pemimpin pemimpin Eropa untuk menjawab rencana penyelamatan Eropa khususnya Yunani dan negara-negara lain," paparnya

Berdasarkan data Departemen Perdagangan China yang dikutip AFP, menyebutkan pertumbuhan investasi asing di China melambat pada bulan September. Hal ini disebabkan sektor perdagangan global menghadapi situasi yang cukup parah terkait krisis ekonomi di dunia barat.

Investasi asing langsung tumbuh 7,88% secara tahunan (year on year/yoy) di bulan lalu mencapai US$ 9,05 miliar, dibandingkan dengan pertumbuhan 11,1 persen pada Agustus dan 19,83% pada Juli 2011.

Pada sembilan bulan pertama tahun ini, investasi asing di China mencapai total US$ 86,68 miliar, meningkat 16,6% dari periode yang sama pada tahun lalu. Jika dibandingkan dengan periode Januari hingga Agustus yang tingkat pertumbuhan 17,7%.

Kementerian Perdagangan mengatakan, investasi dari negara-negara besar di Asia terus berkembang sepanjang bulan lalu. Sementara investasi Eropa jatuh, namun laju penurunan investasi AS melambat bulan lalu.

Juru bicara Kementerian Perdagangan Shen Danyang mengatakan kepada wartawan bahwa perdagangan luar negeri akan menghadapi situasi yang cukup parah dalam dua triwulan ke depan. Pasalnya, krisis utang di zona Eropa semakin mengkhawatirkan dan Amerika Serikat juga masih berjuang untuk bangkit.

Ditempat yang sama, Presiden SBY mengakui dunia saat ini tengah mengalami krisis ekonomi baru. Dia meminta jajaran pemerintah yang baru, untuk meningkatkan efektivitas kinerjanya. "Ekonomi Indonesia selamat dari krisis ekonomi 2008/2009 lalu yang ekornya masih kita rasakan dan sekarang dunia mengalami krisis ekonomi baru. Perlu dilakukan peningkatan di berbagai bidang termasuk efektivitas kerja pemerintah di pusat dan daerah," tuturnya

SBY mengatakan tidak puas dengan kinerja pemerintahan saat ini. Harus ada peningkatan kinerja pemerintahan karena krisis ekonomi dunia menjadi tantangan baru. "Perkembangan situasi global utamanya di sektor perekonomian ada tantangan baru. Kita tidak sepenuhnya pulih dari krisis 3 tahun lalu karena kini dunia mengalami krisis baru," jelas SBY. **cahyo