Melawan Mitos Masyarakat

NERACA. Menggugah hidup sehat dan bersih bukan perkara mudah, terlebih bila pemahaman dan mitos yang diyakini sebuah lingkungan masyarakat sudah demikian mengental. Inilah tantangan yang dilakukan PT Unilever Indonesia, melalui brand produknya sabun Lifebouy.

Dalam Journalist Class dengan dipandu Wimar Witoelar dan Sophie Navita, dalam menyambut empat tahun perayaan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia di area Parkir Timur Senayan (15/10) lalu, terungkap beberapa mitos dan pemahaman yang salah seputar kesehatan melalui Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS).

Bersama peneliti asal Inggris, Katie Greenland dari London School of Hygiene and Tropical Medicine, Yunita Wahyuningrum seorang peneliti Komunikasi Kesehatan dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, Center for Communication Program-Jakarta dan Senior Brand Manager Lifebuoy PT Unilever Indonesia Tbk Amalia Sarah Santi, pembahasan pelaksanaan hari CTPS dan pemahaman masyarakat akan kesehatan CTPS berjalan sangat menarik.

Salah seorang pembahas, Katie Greenland menuturkan bahwa ada empat jalur pembawa virus kotoran dari makanan ke mulut manusia, yaitu dari air, tanah atau lahan, lalat dan jari tangan kita. Meski CTPS adalah penanganan cara sehat yang paling murah bagi anggaran negara namun jumlah kematian usia balita di Indonesia sekitar 151 ribu per tahun, dan 56 ribu diantaranya adalah karena diare dan pneumonia. “Padahal kebiasaan CTPS dapat mencegah diare hingga 47%,” ungkap Katie.

Namun tingkat pengetahuan murid sekolah dasar pada CTPS sudah lebih baik, harapan itu diutarakan Yunita Wahyuningrum, dikatakan bila akses untuk mencuci tangan masih sedikit jumlahnya. Dan ternyata, kaum lelaki malah lebih susah mengikuti anjuran CTPS, “Rata-rata mereka bahkan menganggap tanpa CTPS tidak bakal mati,” tambahnya.

Hal ini berdasarkan penelitian praktik CTPS di Kabupaten Serang dan Tangerang, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Gorontalo, dan Kabupaten Lombok Barat, yang lebih sering dilakukan anak dan kaum ibu. Alasan? orang menghindari CTPS terutama lantaran malas, lupa dan merasa direpotkan.

Mitos dan keyakinan yang telah mentradisi di sejumlah wilayah, juga dinilai Yunita menghambat perubahan perilaku masyarakat untuk membiasakan diri CTPS. Seperti misalnya keyakinan penyebab diare karena mengkonsumsi makanan pedas ataupun asam, adanya perubahan cuaca, dan dianggap kehendak Tuhan serta sebagai pertanda tubuh si anak tengah berproses menjadi tinggi.

Pelaksanaan CTPS oleh sebagian besar penduduk cenderung hanya karena faktor emosional, antara lain agar tangan tampak bersih, rasa nyaman dan percaya diri, dan bukan didasarkan pada manfaat kesehatan.

Begitupun pada perilaku buang air besar (BAB), yang masih mempertahankan cara lama dengan alasan faktor ekonomi, kenyamanan, biaya penyediaan kloset yang mahal, alasan untuk mudah bersosialisasi dan keterbatasan lahan. “Masih banyak individu penduduk yang menganggap BAB yang tepat adalah di atas air yang mengalir (sungai). Supaya kotoran gampang terhanyut ke tempat lain,” gurau Yuni.

Untuk menumbuhkan kebiasaan CTPS, maka Lifebuoy menggelar program lima cara sehat, yakni CTPS sebelum makan pagi; CTPS sebelum makan siang; CTPS sebelum makan malam, CTPS setelah dari WC, dan mandi menggunakan sabun.

BERITA TERKAIT

Optimalkan Penggunaan Dana CSR - Peran BUMN dan Swasta Gotong Royong Tangkal Covid-19

Musibah penyebaran virus corona atau Covid-19 telah memberikan kekhawatiran bagi masyarakat. Bahkan dampak dari penyebaran virus tersebut, tidak hanya memberikan…

Berperan Melawan Misinformasi - Whatsapp Beri Pelatihan Literasi Digital Perempuan

Di era digital saat ini, segala sesuatunya bisa dilakukan dengan mudah, efisen dan cepat. Begitu juga dengan informasi, dalam hitungan…

Bantu Kesejahteraan Para Santri - Garuda Salurkan CSR Sektor Keagamaan di Aceh Jaya

Kehadiran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam operasional bisnisnya tidak hanya sekedar mencari untung, tetapi juga mampu memberikan pemberdayaan kepada…

BERITA LAINNYA DI CSR

Dukung Gaya Hidup Sehat - SCG Fasilitasi Pipa Air Bersih Bagi Warga Sukabumi

Pandemik Covid-19 tengah menjadi sorotan di seluruh penjuru dunia, pemerintah Indonesia telah menginstruksikan agar seluruh masyarakat mendukung upaya pencegahan sebaran…

Perangi COVID-19 - BCA Donasikan Alat Medis ke Sejumlah Rumah Sakit

Komitmen BCA untuk turut memerangi penyebaran COVID-19 terus digalakkan. Setelah memberikan bantuan berupa donasi alat medis kesehatan yang bekerjasama dengan…

Dukung Tenaga Medis Indonesia - Sharp Indonesia Donasikan Masker N-95

Sejak pertengahan bulan Februari sampai dengan saat ini, Indonesia semakin dibayangi oleh wabah virus COVID-19 atau yang biasa disebut virus…