Kesadaran Pentingnya CTPS Sangat Minim - Penelitian PT Unilever Indonesia:

NERACA. Langkah nyata untuk meningkatkan minimnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mencuci tangan, mendorong PT Unilever Indonesia, melalui brand Lifebuoy, mengadakan Gerakan 21 Hari (G21H) dalam membentuk kebiasaan sehat cuci tangan pakai sabun (CTPS).

Aksi nyata G21H cuci tangan pakai sabun ini, diawali dengan pelaksanaan secara serempak oleh 1000 anak sekolah di Senayan, (15/10) lalu, dari sekolah dasar diseluruh Jakarta.

Amalia Sarah Santi, Senior Brand Manager Lifebuoy PT Unilever, menuturkan bahwa sasaran awalnya adalah anak sekolah dasar karena, sekitar 30 persen penduduk Indonesia adalah pelajar sekolah dasar. Selain itu karena mereka yang paling membutuhkan pengetahuan sejak dini. “Namun ke depannya akan ada juga untuk orang tua dan pekerja kantoran,” jelas Sarah.

Mengapa harus 21 hari? Sarah menjelaskan, pencanangan G21H karena untuk menanamkan suatu kebiasaan menjadi sebuah gaya hidup sehat, paling tidak membutuhkan minimal 21 hari. “Tapi seharusnya, seseorang harus menyadari terlebih dulu pentingnya CTPS, kemudian membuat komitmen untuk CTPS di saat penting, dan diperkuat dengan melakukannya selama 21 hari berturut-turut sehingga menjadi kebiasaan,” imbau Sarah.

Dalam acara konfrensi pers di Jakarta (14/10) lalu, PT Unilever Indonesia juga menghadirkan Katie Greenland, peneliti dari London School of Hygiene & Tropical Medicine, dan Yunita Wahyuningrum, peneliti komunikasi kesehatan dari John Hopkins Bloomberg School of Public Health Center for Comunnication Program.

Melalui kedua peneliti tersebut, Lifebouy membeberkan sejumlah fakta tentang pentingnya cuci tangan pakai sabun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia hanya mencuci tangan ketika tangannya dirasa kotor, dan bukan untuk membersihkan berbagai bakteri ditangan ketika tangan dianggap bersih.

“Menurut penelitian, mencuci tangan setelah melakukan berbagai kegiatan bisa mengurangi 47% kemungkinan terserang penyakit. Sabun Lifebuoy bisa membunuh bakteri di tangan sampai dengan 99%,” jelas Sarah.

Hasil studi formatif (CTPS) di Serang, Banten, pada 2011 masih memprihatinkan. Berdasarkan survei tersebut, para ibu yang CTPS sebelum menyiapkan makanan 5%, saat menyajikan makanan 0%, saat sebelum makan 10%, dan sebelum menyusui 1%.

Secara global, bahkan hasil penelitian di Indonesia menunjukkan, bila publik meyakini bahwa kuman ada di tangan. Namun sebagian besar publik belum menjadikan CTPS sebagai kebiasaan sehari-hari terutama di saat-saat penting yaitu sebelum makan, sebelum menangani bayi, dan setelah dari toilet. Menurut Kemitraan Pemerintah Swasta untuk CTPS, persentase CTPS pada saat penting hanya berkisar 0% hingga 34%.

Menurut Katie Greenland, peneliti dari London School of Hygiene & Tropical Medicine, Inggris, yang khusus datang ke Indonesia, mengungkapkan hasil penelitian di 11 negara (Ghana, India, Madagaskar, Kyrgistan, Senegal, Peru, China, Tanzania, Uganda, Vietnam, Kenya) menunjukkan, bahwa kebiasaan masyarakat untuk melakukan CTPS di saat-saat penting masih rendah.

Di antaranya, kebiasaan CTPS sebelum menyiapkan makanan rata-rata hanya 13%, setelah dari toilet rata-rata hanya 17%, dan sebelum memberikan makanan pada anak hanya 5%.

Kata Katie Greenland, bahwa tidak melakukan CTPS disaat penting akan menyebabkan diare termasuk kolera, pneumonia, pandemi influenza, infeksi kelahiran baru, dan infeksi diantara penderita AIDS.

“WHO/Unicef mencatat tiap tahun lebih dari 3 juta balita meninggal karena diare dan pneumonia. Sedangkan di Indonesia ada 151.000 anak di bawah lima tahun meninggal, 56.000 di antaranya karena diare dan pneumonia,” jelas Katie. Upaya mencegah diare dapat dilakukan secara promotif dan preventif berupa CTPS. Berdasarkan penelitian Curtis and Cairncross bahkan menunjukkan CTPS dapat mencegah kejadian diare hingga 47%.

Peneliti lain, Yunita Wahyuningrum dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, Center for Communication Program (CCP)-Jakarta memaparkan temuan utama dari Studi Formatif Perilaku Higienitas yang digelar Water and Sanitation, sebuah program yang menunjukkan perilaku CTPS belum menjadi praktik yang umum ataupun norma sosial.

Ia menerangkan beberapa faktor penghambat perilaku CTPS, meliputi keyakinan bahwa sabun hanya diperlukan apabila tangan terlihat kotor dan mencuci tangan tanpa sabun tidak akan menyebabkan risiko berat, “Waktu penting CTPS yaitu sebelum menyiapkan makanan, setelah dari toilet, sebelum menyusui, setelah menceboki Balita jarang disebutkan,” papar Yunita. Secara kualitatif penelitian menunjukkan perilaku CTPS umumnya dilakukan ketika tangan terlihat kotor dan bau, serta dilakukan setelah makan dan beraktifitas.

Hasil studi tersebut juga didukung oleh hasil studi formatif kerja sama Lifebuoy dengan USAID dan MCHIP pada tahun 2011 ini pada perilaku CTPS ibu-ibu di Serang, Banten. Hasilnya menunjukkan persentase kebiasaan CTPS yang sangat rendah di saat-saat penting, saat menyiapkan makanan hanya 5%, saat menyajikan makanan 0%, saat sebelum makan hanya 10%, dan sebelum menyusui hanya 1%.

Menurut Amalia Sarah Santi, Senior Brand Manager Lifebuoy, hasil penelitian tersebut makin memperkuat pentingnya melakukan kebiasaan CTPS. “Lifebuoy memahami mengenai fakta dari hasil penelitian bahwa ibu-ibu belum melakukan CTPS di saat penting, sehingga berdampak pada tingkat kesehatan anak-anak dan balita. Dengan alasan itulah kami melakukan program sosialiasi yang menyentuh anak-anak dan balita,” kata Sarah.

Related posts