Energi Terbarukan Didorong Untuk Industri

Rabu, 19/10/2011

NERACA

Jakarta—Pemerintah berencana menerapkan program pemanfaatan energi baru terbarukan bagi industri yang boros listrik. Hal ini karena pemanfaatan energi terbarukan baru sebesar 4,4%. "Program mandatory pemanfaatan energi baru terbarukan itu akan dirumuskan bagi industri boros listrik," kata Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Kardaya Warnika di Bali, 18/10

Menurut Kardaya, industri-industri yang menyedot banyak energi tersebut diwajibkan memasang listrik yang berasal dari energi terbarukan, misalnya energi matahari. Dengan program itu maka para pemilik modal yang memiliki gedung atau industri dengan konsumsi listrik besar diwajibkan menerapkan hal tersebut. "Penerapan program ini selain untuk menggiatkan penggunaan energi baru terbarukan, juga guna memberikan dampak positif pada lingkungan," terangnya

Lebih jauh kata Kardaya, penerapan program tersebut diproyeksikan bagi seluruh industri, termasuk hingga kontraktor migas atau tambang akan tetap dikenakan. Karena itu pemerintah melalui Dirjen EBTKE tidak akan memotong penggunaan energi.

Pada konteks ini, pemerintah hanya melakukan efisiensi terhadap energi fosil. Penerapannya, semisal pada gedung dengan enam ton equivalen minyak setahun, bangunan itu harus punya manajer energi. "Kami akan memberikan tindakan jika mereka tidak menerapkannya,” tambahnya.

Dikatakan Kardaya. sejumlah kota besar yang banyak tamannya atau mungkin semacam hutan kecil kini sudah berubah menjadi mal. Maka gedung mal yang banyak berdiri itu diwajibkan memasang pembangkit listrik dari "renewable energy" di atapnya. “Kita akan melaksanakan audit energi kepada setiap instansi termasuk juga kontraktor migas dan tambang,”tuturnya.

Jika ada salah satu dari mereka yang pemakaian energinya mencapai 6 ton ekuivalen minyak, maka mereka harus memiliki manager energi. Itu akan disiapkan untuk berlaku secara menyeluruh. Jika tidak dipenuhi maka akan dikenakan sanksi.

Sementara itu, Ketua Umum Masyarakat Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Hilmi Panigoro mengatakan, berbagai regulasi dari Kementerian ESDM melalui Dirjen EBTKE akan didukung sepanjang penggunaan renewable energy. "Kami sangat mendukung kebijakan yang akan dikeluarkan oleh pemerintah tersebut," imbuhnya

Ditempat terpisah, Kepala Bidang Operasional PT Inter Pacific Energy Rudy Hartajo mengatakan sejumlaha daerah sudah menerapkan Smart Hydro Energy (SHE) seperti Jawa Timur, Sumatra Selatan, Riau, Batam dan Kalimantan Timur baik untuk skala perumahan hingga industri. "Teknologi ini sebagai jawaban atas krisis energi di Indonesia karena tidak perlu sumber daya alam cukup dengan memanfaatkan air," ungkapnya

Rudy menjelaskan, air tawar yang telah ditampung untuk menggerakkan generator kemudian menciptakan angin yang akhirnya bisa menghasilkan energi listrik. Pendek kata, lewat sirkulasi air itulah yang kemudian prosesnya melahirkan energi listrik.

Dari sekitar 30 meter kubik air misalnya, lewat teknologi SHE ini akan menghasilkan sekira 250 kilowatt sehingga cukup sebagai sumber pasokan listrik suatu desa. Dia berharap masyarakat di pedesaan bisa memanfaatkan teknologi ini karena sangat menopang go green dan mencegah kerusakan lingkungan. **cahyo