Ancaman Overheating Dinilai Masih Jauh

Indonesia Diprediksi Aman

Rabu, 19/10/2011

NERACA

Jakarta---Kondisi ekonomi global yang terus memburuk tak perlu terlalu dikhawatirkan, termasuk posisii obligasi dan risiko terjadinya overheating di negara berkembang. Yang jelas posisi Indonesia masih jauh dari ancaman “overheating.”. "Jadi Indonesia itu kalau dilihat ciri-cirinya belum terjadi overheating, karena penyerapan dana masih ke infrastruktur, sekitar Rp4.000 triliun dalam 5 tahun ke depan," kata ekonom EC-Think Indonesia, Aviliani di Jakarta, Selasa (18/10).

Menurut Avi-panggilan akrabnya, posisi Indonesia berbeda dengan China dan India. Kedua negara itu terancam overheating, di mana banyak dana terserap bukan di sektor riil. “Indonesia beda dengan China dan India,”tegasnya.

Lebih lanjut Aviliani menyatakan, jauhnya Indonesia dari ancaman overheating juga bisa dilihat dari inflasi yang rendah saat ini, bahkan suku bunga juga paling rendah sepanjang sejarah. "Jadi seharusnya kebijakan moneter di Indonesia itu tidak boleh mengikuti inflasi,” paparnya.

Komisaris BRI ini menambahkan kalaupun ada tekanan dan kenaikan inflasi itu bukan disebabkan oleh faktor moneter. Tetapi inflasi lebih disebabkan faktor distribusi yang kurang baik, terutama terkait dengan masalah infrastruktur. "Karena inflasi kita bukan disebabkan kebijakan moneter, tetapi inflasi kita lebih disebabkan karena distribusi," jelasnya.

Sementara itu, Peneliti EC-Think Indonesia Telisa Falianty menilai krisis global yang tengah bergejolak saat ini tidak hanya membuat negara-negara maju dan emerging market perlu waspada. Dampak krisis dipastikan akan berpengaruh ke berbagai sektor, dan sektor pertambangan dinilai memiliki tingkat kerentanan tertinggi.

Lebih jauh Macro economic specialist EC-Think ini menambahkan krisis tentunya memiliki pengaruh yang berbeda-beda terhadap setiap sektor. Menurutnya, semua itu tergantung dari besaran nilai indeks untuk skenario full-blown crisis (FBC) sebagai pengukur kerentanan sektor.

Telisa menjelaskan, indeks FBC mengukur sejuh mana pengaruh krisis terhadap ouput suatu sektor dengan membandingkan secara relatif terhadap GDP. Bila persentase penurunan output sama dengan penurunan GDP, maka nilai indeks kerentanan 100.

Dari kajian yang dilakukan, lanjut Telisa, pengaruh krisis global di Indonesia saat ini sector yang paling rentan dan jangka pendek terimbas adalah bidang pertambangan. "Sektor pertambangan yang paling rentan (terkena dampak krisis global). Dimana nilai kerentanan di sektor ini mencapai 319," ungkapnya

Dikatakan Telisa, bisnis pertambangan ini merupakan sektor yang memiliki rasio ekspor paling tinggi. Sehingga wajar kalau menjadi sektor yang paling rentan. Karena pada saat krisis di Eropa dan AS permintaan industri menurun. Selain pertambanga, kata Telisa,

sektor lain yang juga memiliki kerentanan cukup tinggi adalah industri kayu yang berada di posisi kedua dari sektor pertambangan. Kemudian di posisi ketiga dari sektor yang rentan terhadap krisis global adalah perikanan, perhotelan, industri pemintalan, dan lainnya. Konstruksi dan listrik juga gas memiliki tingkat kerentanan yang cukup rendah.

Sektor-sektor yang kurang rentan terhadap krisis global, kata Telisa, pada umumnya adalah yang lebih berorientasi domestik. Secara empiris ada bukti bahwa yang menjadi pengaman adalah sektor yang memiliki orientasi domestik yang tinggigi. "Yang paling tidak rentan adalah restoran dengan kerentanan 1. Jadi kalau buka warteg, kerentanannya terhadap krisis global sangat rendah," pungkasnya. **cahyo