IHSG Acuhkan Reshuffle

Selasa, 18/10/2011

Oleh : Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Sibuk-sibuk ramai soal reshuffle kabinet dan tantangan para menteri baru ke depannya, rupanya tidak terlalu dipedulikan bagi pelaku pasar modal ketimbang merespon terkini krisis ekonomi di Eropa. Pasalnya, pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia tidak terlalu signifikan pengaruhnya dari dunia politik. Bahkan sebaliknya, indeks sejak awal pekan sejak di awal hingga akhir perdagangan ditutup rebound dan nyaris tembus level 3.800.

Entah apa ini yang disebut, industri pasar modal kita sudah tahan banting atau memang daya tarik soal reshuffle kabinet kurang bergairah pengaruhnya ketimbang isu krisis Eropa. Namun yang pasti, tidak bergeraknya indeks merespon situasi politik saat ini bukan berarti tahan banting, tetapi krisis ekonomi Eropa cukup memberikan pengaruh signifikan dan tidak boleh dilewatkan sedetikpun.

Asal tahu saja, penguatan indeks sudah terlihat pada pekan lalu yang terus menguat hingga mampu bangkit dibawah level psikologisnya. Namun sayangnya, aksi profit taking pelaku pasar menyebabkan indeks Jum’at akhir pekan kemarin terkoreksi tipis tetapi masih berada di posisi aman 3.600.

Menurut beberapa analis pelaku pasar, tren penguatan indeks dalam beberapa pekan tidak bisa lepas dari optimisme investor tentang krisis utang di Eropa akan dapat teratasi. Selain itu, menguatnya nilai tukar rupiah dalam dua pekan menjadi pemicu indeks mampu bergerak melesat tajam.

Kemudian kinerja emiten yang membukukan positif menjadi nilai tambah indeks makin kokoh mempertahankan penguatannya. Maka tidak heran, pelaku pasar ramai-ramai melakukan koleksi saham unggulan yang dinilai sudah murah. Selanjutnya, fluktuasi harga saham yang sudah memasuki titik jenuh jual juga menjadi pertimbangan pelaku pasar untuk kembali masuk ke pasar modal.

Bila sudah begini, perhitungan soal isu politik tidak masuk menjadi bagian pertimbangan para analis dibalik penguatan indeks BEI. Padahal indeks sendiri tidak bisa lepas dari berbagai sentimen isu negatif baik ekonomi, sosial dan politik. Asal tahu saja, kabar soal reshuffle menteri keuangan Sri Mulyani sempat menjadi perhatian para analis pasar untuk tahan melakukan beli saham.

Dalam industri pasar modal, berbagai pertimbangan menjadi bagian yang harus diwaspadai pelaku pasar mencermati pergerakan indeks dan terlebih kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Laksana sebuah bangunan, indeks dalam negeri belum kokoh terhadap berbagai isu dan ini sangat beralasan karena pelaku pasar dalam negeri banyak pemain asing yang hanya mencari untung keluar masuk dananya di pasar modal.

Kita berharap, berbagai isu kedepan tentunya tidak memberikan pengaruh berlebihan terhadap indeks pasar modal dan bukan lembek karena berbagai isu yang dibuat para pemangku kebijakan. Kendatipun demikian, stabilitas politik, inflasi terjaga dan pertumbuhan ekonomi positif menjadi syarat utama agar indeks bisa terus melaju positif kedepannya. Hal ini akan memberikan ketegasan, bagi para pelaku pasar akan investasi pasar modal yang tahan banting dan bukan mudah digoyahkan atau dipermainkan hanya segelontor kelompok yang mempunyai kepentingan.

Saat kini industri pasar modal tidak cemen mudah berubah dengan berbagai isu politik dan terlebih sekedar hanya reshuffle kabinet semata yang hanya menjadi konsumsi partai politik.