“Journey of Enlightenment” - Djunadi Satrio, Head of Marketing PT Sony Ericsson Mobile Communications Indonesia

Neraca. Persaingan di dunia telekomunikasi Indonesia, sangat kencang tarik menariknya. Antara produsen saling ‘mengadu’ kelebihan dari produknya, dengan kompetitor. Bahkan saat ini, mucul kandidat baru yaitu produk Blackberry yang langsung mengungguli pasar di Indonesia. Bahkan produk yang selama ini jadi leader, langsung tergerus dengan kemunculan produk baru ini.

Untuk bertahan dalam pertempuran, ada strategi sendiri yaitu melalui inovasi dari produk. Hal ini dilakukan oleh Sony Ericsson. Di bawah tangan dingin Djunadi Satrio sebagai Head of Marketingnya, produk-produk yang dikeluarkan selalu mengikuti keinginan dari pasar.

“Strategi yang kami lakukan lebih fokus. Kami tidak mampu lagi untuk bertarung di pasar-pasar yang low end. Di situ ada pemain dari Cina, maupun lain yang secara cost itu jauh lebih bagus dari Sony Ericsson. Setelah melihat kedalam, maka kami memutuskan akan fokus kepada ponsel-ponsel yang lebih profitable segmen menengah dan menengah atas, dan lebih berat ke smartphone. Dengan berfokus ke arah situ, kami lebih banyak mengeluarkan produk-produk berbasis android, ” papar Djunadi Satrio.

Mengarah ke fokus tertentu, diharapkan Sony Ericsson lebih menciptakan ceruk pasar khusus, dimana produk ini bisa lebih berkreasi dan berinovasi. Produk Sony Ericsson lebih bervisi kepada entertainment communications ke konsumen. Kedua hal tersebut, yaitu entertainment dan communications, merupakan unique selling point dari Sony Ericsson.

Strategi pasar demikian, tidak lepas dari ‘tangan dingin’ sosok Djunadi Satrio. Bergabung ke perusahaan ini sejak Februari 2006 lalu, dengan berbekal berbagai pengalaman bekerja di berbagai perusahaan di negeri Paman Sam. Kecintaannya akan dunia marketing, serta tantangan di depan yang akan dia hadapi di dunia telekomunikasi, membuatnya memutuskan bergabung ke Sony Ericsson. Saat ini, posisinya sebagai Head of Marketing, Business Management and Operator Relations yang meng-handle produk Sony Ericsson dari sisi pemasaran dan promosinya.

Ketertarikannya akan dunia marketing, tidak mempengaruhi latar pendidikannya sebagai civil engineering. Alumnus Teknik Sipil Universitas Trisakti dan peraih gelar MBA dari Colgate-Darden School of Business University of Virginia, melihat dunia marketing bisa memberikan solusi bagi pemenuhan kebutuhan manusia. Untuk itulah, dia melanjutkan kuliahnya dan membambil gelar tersebut di bidang General Management Focus in Finance & Marketing. Bagi Djunadi sendiri, pemasaran adalah bagaimana melihat dunia dari sisi konsumen. Oleh karena itu, seorang pemasar akan melihat konsumen sebagai manusia yang berkembang, bukan hanya obyek yang bersifat pasif semata.

Hobi Travelling

Pada tahun 2002, setelah hampir sepuluh tahun bekerja di Amerika, Djunadi memutuskan untuk pulang ke tanah air. Namun, sebelum kembali ia menyempatkan diri terlebih dahulu untuk travelling ke berbagai negara Asia Tengah. Negeri-negeri yang ia sambangi seperti Cina, Tibet, Nepal lalu negara-negara Asia Tenggara yang kemudian berlanjut ke bagian selatan Selandia Baru maupun Australia. Semua travelling itu, hanya menghabiskan uangnya 5 USD perhari. Hingga saat ini, sudah hampir 60 negara dia kunjungi. Negara-negara di Asia, Amerika Tengah, Eropa, Australia, Selandia Baru dan Amerika Serikat pernah ia kunjungi.

Saat usia 20-an, Djunadi pertamakali melakukan perjalanan sendiri ke Amerika Serikat untuk melanjutkan pendidikannya. Pengalaman pertama dia melakukan travelling sendiri adalah, saat dia melakukan perjalanan dengan kereta api Bima ke Surabaya pada usia 10 tahun. Ada semacam kenikmatan melakukan travelling sendiri. Sejak saat itu, orang tuanya memberikan izin baginya untuk melakukan perjalanan.

Perjalanan pertama ke benua Eropa dia lakukan saat menuntut ilmu di negeri Paman Sam. ”Perjalanan dari New York ke Eropa waktu itu, cuma 8 jam dengan direct flight. Selain itu, biayanya cukup murah. Saat itu, harga tiket pulang pergi hanya 200 USD. Coba kita bayangkan kalau ke Bali saja sekarang, yang terbang hanya 1 jam lebih sedikit memerlukan dana hingga Rp. 2,5 juta, ” cerita Djunadi.

Namun, sebelum pulang ke tanah air Djunadi menyempatkan diri melakukan perjalanan ke beberapa negara Asia dengan uang tabungannya. Negara pertama dikunjunginya adalah Cina. Target awal dia hanya 3 bulan saja di negeri tirai bambu tersebut. Ternyata, selama waktu yang ditargetkan uang tabungannya tidak habis. Kemudian ia memutuskan melanjutkan perjalanan ke negara-negara Asia Tenggara, seperti Kamboja, Vietnam, Thailand dan Malaysia.

Melewati negara-negara tersebut, ternyata uang tabungannya masih ada. Kemudian ia memutuskan untuk berkunjung ke negeri yang ‘agak’ jauh yaitu Nepal. Sebelum menuju negara tersebut, ia melewati India. Kedua negara tersebut dikunjunginya hampir selama sebulan. Malah kemudian ia lanjutkan perjalanan hingga Selandia Baru dan Australia. Semuanya dengan backpacking. Perjalanan-perjalanan tersebut dilakukannya hampir selama setahun penuh.

Perjalanan berkesan yang ia lakukan saat mengunjungi Nepal. Di negeri ’Seribu Kuil’ ini, semua tamu asing yang datang diperlakukan seperti tamu agung. Mereka bersikap ramah kepada tamu yang datang. Di negeri tersebut, berbagai desa kecil dikunjungi oleh Djunadi hingga mencapai kaki rangkaian pegunungan Himalaya, yang menuju ke satu puncak bernama Annapurna.

Di sana ia mengunjungi satu desa kecil, yang mempunyai sebuah sekolah sederhana. Di sana ada pengajar dari orang Eropa yang mengajarkan bahasa Inggris. ”Bule itu bertanya kepada saya, berapa lama saya akan tinggal. Lalu saya bilang, mungkin bisa beberapa hari. Lalu dia menawarkan saya untuk menggantikan dia mengajarkan anak-anak desa tersebut bahasa Inggris. Ternyata, guru di desa itu dilakukan secara bergantian dari setiap orang asing yang datang. Kami hanya dibayar dengan makanan, serta ada sebuah gubuk di belakang sekolah untuk tempat tinggal sementara kami. Setiap hari, baik pagi lalu siang dan malam penduduk desa mengirimkan makanan ke saya. Itulah penghargaan mereka kepada setiap orang asing, yang mengajarkan bahasa Inggris ke anak-anaknya. Padahal mereka berasal keluarga miskin dan tetap mau menyisihkan yang sedikit. Pengalaman seperti inilah, yang nanti saya mati tidak akan terlupakan. Semuanya membekas di hati saya, ” ungkap Djunadi Satrio sembari tersenyum mengakhiri bincang-bincang.

Related posts