BI Rancang ATM Khusus Negara ASEAN

Jakarta - Bank Indonesia (BI) menjadi salah satu inisiator kerjasama antar negara alias cross border cooperation dalam ruang lingkup sistem pembayaran (payment system) antara negara-negara anggota ASEAN. Melalui kerjasama ini, ASEAN akan mempunyai sebuah konsep ASEAN Card Scheme layaknya Visa ataupun Mastercard khusus negara di kawasan Asean.

"Nantinya, kita bisa menarik dana di seluruh ATM di negara ASEAN. Tidak lagi harus memiliki kartu berbasis Visa maupun Mastercard namun melalui suatu bentuk ASEAN Card Scheme," ungkap Direktur Direktorat Sistem Pembayaran Ronald Waas di Jakarta, Senin.

Dijelaskan Ronald, selama ini jika masyarakat RI ingin menarik dana melalui ATM di luar negeri harus memiliki dahulu kartu berbasis Visa maupun Mastercard. Namun, seperti diketahui, dana administrasinya cukup mahal. "Oleh sebab itu, ASEAN memiliki inisiatif membentuk Visa atau Mastercard khusus ASEAN. Jadi bisa lebih murah dan milik lokal sendiri," tuturnya.

Working Grup khusus Payment System ASEAN ini sambung Ronald, berada dibawah Executive Meeting of East Asian and Pacific (EMEAP). Dimana terdiri dari 11 negara ASEAN ditambah 5 negara Hong Kong, China, Australia, New Zealand dan Korea. "Ada tiga inisiatif kedepan dalam hal payment system. Yakni Trade Payment, Capital Market Payment dan Retail Payment System," jelasnya.

Dijelaskan Ronald, Trade Payment misalnya, kedepan nantinya dalam perdagangan antara negara ASEAN tidak lagi menggunakan dollar AS namun menggunakan local currency masing-masing negara. "Terkait Capital Market Payment nantinya payment versus payement antar negara ASEAN tidak lagi perlu settlement dalam bentuk dolar AS," jelasnya.

"Dan yang terkahir yakni Retail Payment System seperti ATM tadi. Dikeluarkan kartu khusus yang bisa bertransaksi menggunakan satu kartu diseluruh negara ASEAN," imbuh salah satu Calon Deputi Gubernur BI ini.

Sebelumnya, BI mengungkapkan transaksi melalui Anjungan Tunai Mandiri (ATM) hingga Agustus 2011 mencapai Rp6,6 triliun per hari. Bank sentral mencatat jumlah kartu yang beredar mencapai 59,5 juta kartu. "Transaksi nilai kecil Sistem Kliring Nasional BI (SKNBI) secara nominal lebih besar, yakni sebesar Rp 7,9 triliun per hari, sedangkan transaksi dengan ATM maupun Debet mencapai 6 juta transaksi per hari," jelas Ronald.

Ronald juga menyampaikan rata-rata harian transaksi real time gross settlement (RTGS) selama 2011 hingga September sebesar Rp 250 triliun per hari dengan 64.000 transaksi, sedangkan rata-rata harian transaksi scripless secuties settlement system (SSSS) sebanyak 504 transaksi dengan nominal sebesar Rp 62,8 triliun. "Sementara itu terkait transaksi dengan uang elektronik atau e-money pada Agustus 2011 mencapai Rp 2,5 miliar per hari dengan 102 ribu transaksi," tuturnya.

Related posts