BI Rate Turun Bisa Turunkan Bunga Kredit

Kajian International Monetary Fund (IMF)

Selasa, 18/10/2011

Jakarta - International Monetary Fund (IMF) menyatakan, suku bunga acuan (BI Rate) yang turun menjadi 6,5% akan turut menurunkan suku bunga kredit. "Saya pikir kebijakan penurunan BI Rate akan mempengaruhi bunga kredit," ucap Senior Resident Representative for Indonesia, Milan Zavadjil, di Jakarta, Senin (17/10).

Sebagaimana diketahui, Bank Indonesia (BI) telah menurunkan BI Rate 25 bps menjadi 6,5%, setelah selama 8 bulan ditahan di 6,75%. Kemudian hal ini diikuti LPS yang menurunkan tingkat suku bunga wajar simpanan masyarakat di bank umum dan bank perkreditan rakyat (BPR) yang dijamin oleh pemerintah mulai 25 hingga 75 basis points (bps) mulai 15 Oktober 2011.

Milan menjelaskan, perlambatan ekonomi global akan menurunkan foreign direct inevestment (FDI). "Penurunan suku bunga kredit dapat mendukung pertumbuhan ekonomi," tukasnya.

Saat di tanya apakah BI Rate pada akhir tahun ini bisa menembus level 6%, Milan mengatakan, harus dilihat kondisi moneter Indonesia. "Saya tidak bisa katakan BI Rate akan capai 6%. Mereka (BI) harus memantau kondisi moneter dan kegiatan ekonomi serta harga CPI dan pengaruhnya ke inflasi," jelas Milan.

Sementara itu, anggota DPR RI yang menjadi Wakil Ketua Panja Inflasi dan Suku Bunga Komisi XI DPR, Kemal Azis Stamboel menegaskan, tidak ada alasan lagi bagi bank untuk tidak menurunkan suku bunga kredit setelah turunnya BI Rate dan suku bunga penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Politisi PKS ini meminta bank tidak egois dan mencari-cari alasan untuk tidak menurunkan suku bunganya. "Setelah turunya BI Rate dan kemudian diikuti penurunan suku bunga penjaminan LPS maka sudah seharusnya perbankan menurunkan suku bunga kredit. Bank jangan egois, dan terus mencari-cari alasan untuk memperlambat penurunan suku bunga kredit," kata Kemal.

Kemal juga meminta secara tegas, terutama untuk bank-bank BUMN agar menjadi pelopor untuk segera menurunkan suku bunga kredit. Karena market share bank BUMN besar, nanti diharapkan bank lainnya juga akan mengikuti. "Keuntungan yang diraih perbankan pada semester lalu sudah meningkat sangat tinggi, diatas 40%. Perbankan harus peduli untuk mendorong dinamika sektor riil," tuturnya.

"Suku bunga kredit mikro yang masih dikisaran 20 persen, sangat-sangat mahal dan tidak adil. Mereka juga harus peduli dengan kondisi ini. Bank harus memikirkan keberlanjutan dunia usaha nasional ditengah ancaman resesi," imbuh Kemal.

LPS menurunkan suku bunga penjaminan di bank umum untuk simpanan dalam mata uang rupiah turun 25 bps dari 7,25 persen menjadi 7,00 persen. Sementara untuk simpanan dalam valuta asing pada bank umum turun 75 bps dari 2,75 persen menjadi 2,00 persen.

Sedangkan untuk suku bunga simpanan di BPR turun 25 bps dari 10,25 persen menjadi 10,00 persen. Alasan utama penurunan ini karena inflasi relatif rendah dan likuiditas perbankan saat ini cukup baik, sehingga diperkirakan suku bunga simpanan akan turun.

Bagaimana reaksi perbankan nasional? Wakil Direktur Bank Mandiri Riswinandi mengungkapkan bahwa sebelum BI Rate diturunkan, bank yang dipimpinnya telah menurunkan bunga kreditnya. Selain itu, ada sederet alasan lain yang diajukan para bankir agar tidak buru-buru terkena kewajiban menurunkan bunga kredit. Salah satunya, biaya dana mereka masih tinggi. Sebab, untuk deposito, misalnya, masih memakai tingkat bunga lama.

BNI Belum

Sementara Bank Negara Indonesia (BNI) menyatakan belum berminat untuk menurunkan suku bunga kredit terkait penurunan suku bunga acuan BI (BI Rate). Hal itu disampaikan Direktur Utama BNI Gatot Suwondo, saat ditemui wartawan di hotel Borobudur, Senin. "Kita sedang sesuaikan, tapi dibandingkan dengan bank-bank lain kita masih rendah. Selain itu, rate kita masih wajar masak diturunkan lagi," ujar Gatot.

Lebih lanjut ia menuturkan, pihaknya akan melihat pesaingnya untuk menurunkan suku bunga kredit. Menurutnya, suku bunga kredit yang diberikan sudah cukup rendah. Terkait penurunan suku bunga acuan BI itu, Gatot mengatakan, pihaknya membutuhkan waktu satu hingga tiga bulan untuk menyesuaikan penurunan BI Rate.

Perseroan juga belum akan menurunkan suku bunga deposito. Bila diturunkan maka dikhawatirkan akan membuat nasabah beralih ke bank lain. "Kalau bunga deposit diturunkan bisa lari ke bank lain," tambah Gatot.

Pihaknya juga mempertimbangkan seperti premi LPS dan biaya promosi untuk menaikkan dana pihak ketiga (DPK) terkait penurunan suku bunga acuan.

Sedangkan Bank Indonesia (BI) tak mau kalah set. Menurut Gubernur BI Darmin Nasution, kalau ada bank yang tidak menurunkan bunga kredit, pihaknya akan meneliti kembali suku bunga dasar kredit (SBDK) yang ditetapkan. Ia akan mempertanyakan jika ditemukan SBDK yang tidak wajar. Misalnya, sengaja didongkrak supaya menjadi tinggi.

Kecurigaan BI memang wajar. Soalnya, selisih antara SBDK dan bunga simpanan yang ditetapkan bank saat ini sudah sangat lebar. Bank Mandiri contohnya, menetapkan SBDK antara 11-15%. Sementara bunga deposito yang dipasang hanya berkisar 5,25-6,5%.

Akan halnya BCA, mungkin bisa disebut bank yang lebih efisien. Sebab, dengan tingat bunga deposito 5-6,25% mampu menetapkan SBDK di kisaran 7,5-11%.