Keterisolasian Industri Keuangan Mampu Tahan Hempasan

Selasa, 18/10/2011

NERACA

Jakarta---Kemampuan ekonomi Indonesia bisa bertahan dari hempasan krisis global sekarang ini. Karena lebih disebabkan industri perbankan nasional mayoritas masih konvensional, alias sedikit yang terjun ke transaksi derivative. “.Ada beberapa faktor luck dalam 2-3 tahun terakhir. Pertama, di tahun 2008 kita terisolasi, profil industri keuangan kita masih konvensional, kita tidak mengenal transaksi derivatif," kata Kepala Ekonomi BNI Ryan Kiryanto kepada wartawan di Jakarta,17/10

Selain itu, kata Ryan, krisis global juga belum menembus ekonomi nasional dalam jangka pendek ini. Karena kekuatan pasar domestik di Indonesia cukup besar. Dimana konsumsi domestik berkontribusi sekira 70% ke pendapatan domestik bruto "Ini harus bisa dimanfaatkan," terangnya

Menurut Ryan, kekuatan pasar domestic harus bisa dimaksimalkan. Dengan mengandalkan sektor ini, Ryan optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia bica mencapai 6,5% pada tahun 2011 ini, dan 6,7% pada tahun 2012 mendatang.

Disisi lain, lanjut Ryan, ada faktor luck yang lain, yakni kebetulan Amerika Serikat (AS) dan Eropa bukan pasar utama ekspor Indonesia, di mana kontribusi ekspor kedua negara itu cuma 27%. Ekspor pun, lanjutnya bisa mencari pasar ekspor lain selain dua negara tersebut, misalnya ke Afrika Selatan.

Sementara itu,. International Monetary Fund (IMF) menilai akan ada perlambatan ekonomi di Asia pada 2012. Pertumbuhan ekonomi di Asia akan mengalami perlambatan 0,3 persen, sementara di Indonesia secara umum akan melambat -0,2%.

"Negara-negara emerging market di Asia akan tumbuh -0,3% di 2012, dari angka pertumbuhan di tahun ini sebesar -0,2%. Indonesia sendiri akan mengalami perlambatan ekonomi sebesar -0,2% menjadi 6,3% di tahun depan, atau turun 0,1% dari angka pertumbuhan 2011 yang berada di 6,4%," terang Senior President Representative for Indonesia IMF, Milan Zavadjil, di Jakarta,17/10

Namun demikian, kata Milan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Pasalnya, Indonesia memiliki modal yang sangat baik untuk terus tumbuh walaupun negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat (AS) mengalami perlambatan ekonomi. "Indonesia mungkin terkena sedikit pengaruh terhadap perlambatan ekonomi Indonesia, tetapi tidak akan banyak. Hal ini dikarenakan beberapa faktor seperti rendahnya ketergantungan Indonesia pada aset-aset Eropa dan kuatnya konsumi domestik," lanjutnya.

Indonesia, menurut Milan, juga memikiki neraca keuangan yang stabil dan masih sangat likuid, dengan rasio tingkat utang terhadap Gross Domestic Product (GDP) penduduk yang wajar. "Perbankan di Indonesia juga memiliki tingkat kredit yang tinggi tetapi masih wajar, perbankan Indonesia juga sedikit memegang portofolio Eropa, jadi ketergantungannya sangat kecil," imbuhnya

Yang jelas, kata Menteri Keuangan Agus Martowardojo, dana optimalisasi Rp 11,6 triliun bakal menambal defisit APBN 2012 dari 1,55% menjadi 1,53%. Dana ini didapat dari hasil menggenjot penerimaan dan penghematan bunga utang. "Dari 1,55% menjadi 1,53%. Yang penting itu pesannya," tegasnya.

Dari dana optimalisasi tersebut, Agus Marto menyatakan sudah memberikan tambahan untuk porsi daerah. Anggaran tersebut langsung dipotong dari total dana optimalisasi sebesar Rp 19,4 triliun bersama anggaran pendidikan. Dari pemotongan tersebut maka tercipta dana optimalisasi bersih sebesar Rp 11,6 triliun. "Dari total anggaran optimalisasi, ada yang ke daerah. Daerah itu ada kira-kira Rp 5 triliun lebih, karena dari gross 19,4 triliun, ada yang untuk DAU, DAK, dana otomatis, itu jumlahnya Rp 6,1 triliun, sama otsus itu ke daerah," pungkasnya. **munib/cahyo