Memulai Bisnis Sewa Peralatan Katering

NERACA. Peluang jasa penyewaan peralatan katering cukup lebar, modal awal memang besar, tapi margin juga besar. Kebutuhan akan peralatan katering cukup menggiurkan ini, bukan hanya dari perusahaan katering, tapi juga dari perusahaan dan perorangan.

Bisnis makanan memang tidak pernah mati, tak cuma para pengusaha yang langsung menggarap bisnis makanan, tetapi juga mereka yang menyediakan perlengkapan dan peralatan makanan. Salah satu jenis usaha ini adalah penyewaan alat katering.

Pasar dari bisnis penyewaan alat katering cukup luas, mulai dari perusahaan katering besar sampai dengan rumah tangga. Selama ini tidak semua perusahaan katering mempunyai peralatan sendiri. Maklum, investasi peralatan katering memang sangat besar. Jika secara hitungan bisnis investasi alat itu tidak masuk, perusahaan katering biasanya lebih suka menyewa.

Namun bukan mustahil ada perusahaan katering yang sudah mempunyai peralatan, tapi tetap menggunakan jasa penyewaan alat katering. Umumnya langkah ini diambil lantaran pesanan datang cukup banyak, melebihi kapasitas. Alhasil, peralatan katering yang dimiliki tidak mencukupi. Ketimbang membeli lagi, untuk memenuhi kebutuhan yang tidak selalu terjadi itu, perusahaan katering menyewa alat.

Selain perusahaan katering, pasar bisnis penyewaan peralatan katering ini juga bisa berasal dari perusahaan non katering. Biasanya, perusahaan yang ingin mengadakan acara atau kegiatan di kantor dan harus menyajikan makanan, membutuhkan peralatan makan yang banyak.

Begitupun dengan pasar rumah tangga yang juga terus berkembang. Biasanya, penghuni rumah menggunakan jasa ini lantaran menggelar acara di rumah, seperti arisan, temu keluarga, halal bihalal, atau syukuran. Pelbagai peluang pasar tersebut membuat bisnis ini bisa terus berkembang.

Biaya sewa peralatan katering yang dikenakan oleh perusahaan sewa alat katering memang tidak terlalu besar. Biasanya, tarifnya hanya sebesar Rp 400 sampai Rp 30.000 per unit. Meski nilainya kecil, lantaran kebutuhan penyewa cukup banyak, pendapatan yang diraup para pengusaha juga besar. Dalam sebulan konon mereka sanggup meraup omzet rata-rata sebesar Rp 25 juta. Angka tersebut bisa bertambah besar lagi saat masuk bulan-bulan tertentu di musim kawin.

Tak hanya pendapatan yang bagus, margin dari bisnis ini juga cukup tebal. Para pengusaha bisnis persewaan alat katering mengaku bisa mendapatkan margin minimal 50%. Margin bisa lebih besar lagi jika koleksi barang yang dimiliki cukup lengkap dan banyak, sekaligus memiliki klien tetap. Meski di awal investasi usaha ini membutuhkan modal besar, tapi setelah berjalan, biaya operasional yang harus dikeluarkan cukup minim.

Untuk pengeluaran rutin hanya menggaji karyawan, biaya transportasi, dan beberapa pengeluaran kecil seperti belanja sabun pencuci. Karyawan yang dibutuhkan untuk usaha ini juga tidak terlalu banyak sekitar lima orang, sebab yang dibutuhkan hanyalah tenaga untuk mengangkut barang ke lokasi penyewa dan mencuci peralatan yang kotor.

Terkait jumlah karyawan, masih mungkin dibutuh tenaga tambahan. Seperti bila penyewa minta jasa tambahan, seperti menata peralatan dimeja sampai melayani tamu saat bersantap. Berbeda dengan pegawai tetap yang memang selalu dibutuhkan untuk mengangkut, mengantar, dan membereskan.

Selain tenaga operasional, Anda juga membutuhkan tenaga administrasi jika tak ingin dikerjakan sendiri. Meski sudah berjalan dibisnis yang menjanjikan ini, Anda harus sadar bahwa investasi awalnya butuh dana besar. Sebab, Anda harus belanja pelbagai peralatan untuk disewakan semacam piring, mangkuk, sendok, garpu, dan peralatan lainnya dalam jumlah banyak.

Namun jika tidak mempunyai dana yang cukup besar untuk memulai bisnis ini, Anda bisa membeli sedikit demi sedikit peralatan katering tersebut, seiring pendapatan yang masuk. lengkap. Dan jika ingin lebih menghemat, Anda juga bisa meniru cara lain, dengan membeli barang-barang perusahaan katering lain. Dengan cara ini, Anda pasti bakal mendapatkan harga beli lebih murah.

BERITA TERKAIT

PGN Anggarkan Belanja Modal Rp 5,5 Triliun - Danai Kebutuhan Bisnis di Hulu

NERACA Jakarta – Tahun ini,  PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$ 400…

CELAH BISNIS AKAD PERBANKAN SYARIAH

Pemimpin Divisi Keuangan BNI Syariah Wahyu Avianto (kanan) bersama pakar Akad Perbankan Syariah Agustianto (tengah) memberi pemaparan dalam workshop jurnalis…

ADHI Rambah Bisnis Pengolahan Limbah Migas - Bidik Potensi Bisnis Rp 176 Triliun

NERACA Jakarta – Memanfaatkan potensi sumber limbah minyak dan gas (migas) yang dinilai memiliki nilai bisnis yang cukup tinggi, PT…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

Obligasi Daerah Tergantung Kesiapan Pemda

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penerbitan obligasi daerah (municipal bond) tergantung pada kesiapan pemerintahan daerah karena OJK selaku regulator hanya…

Bank Mandiri Incar Laba Rp24,7 T di 2018

PT Bank Mandiri Persero Tbk mengincar pertumbuhan laba 10-20 persen (tahun ke tahun/yoy) atau sebesar Rp24,7 triliun pada 2018 dibanding…

Pemerintah Permudah Bank Ekspansi di Asean

Pemerintah berupaya mempermudah kesempatan perbankan nasional untuk melakukan ekspansi di kawasan ASEAN seperti Singapura dan Malaysia dengan mendorong ratifikasi protokol…