BI Rate Bisa Dipangkas Lagi

Senin, 17/10/2011

Jakarta - Analis Citi Indonesia Helmi Arman menyatakan, suku bunga acuan (BI Rate) bisa dipangkas lagi dari posisinya sekarang. Beberapa waktu lalu BI menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 6,50%dari 6,75%. "Dalam kebijakan moneter, Bank Indonesia (BI) tampaknya tetap membuka pintu untuk penurunan BI Rate di masa mendatang. Itu dilakukan untuk memitigasi perlambatan kondisi perekonomian," urainya dalam keterangan resminya, akhir pekan lalu.

Menurut Helmi, pemangkasan BI Rate sebesar 25 bps merupakan efek dari stabilnya pasar obligasi dan pasar modal. "Sehingga itu membuat otoritas moneter percaya diri bahwa risiko depresiasi telah berkurang," tukasnya.

Dengan turunnya BI Rate, imbuhnya, akan diikuti dengan turunnya suku bunga Fasilitas Bank Indonesia (FasBI). "Selain itu, akan memengaruhi secara maksimal suku bunga deposito yang diberikan perbankan kepada nasabahnya yang saat ini di set di level BI Rate plus 50 bps," tutupnya.

Sementara menurut pengamat perbankan Fauzi Ichsan, penurunan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin oleh Bank Indonesia dinilai tidak akan berpengaruh banyak terhadap investasi di Indonesia karena bayangan krisis gobal masih menghantui. "Saya perkirakan BI Rate akan turun ke arah 6 persen sampai dengan akhir tahun ini. Atau triwulan pertama tahun depan, karena itu akan lebih terasa ke sektor rill," jelas Fauzi.

Fauzi menambahkan, penurunan BI rate bisa saja berdampak pada aliran dana asing (capital inflow/out flow). Namun begitu semua tergantung apa yang akan terjadi di Eropa dan Amerika. "Itu sifatnya global dan bisa saja terjadi. Kita melihat bahwa bagaimana keluarnya dana investor global negara berkembang itu dipicu atas kekhawatiran akan penunggakan utang Yunani, Portugal dan Irlandia dimana dampak negatifnya ke Spanyol, Italia dan tentunya di Amerika deadlock politik antara pemerintah dengan kongres jadi itu sifatnya global," tukas dia.

"Tentunya BI memberi alasan kenapa menurunkan suku bungannya dan ada alasan khawatir bahwa akan ada dampak krisis global 2012 yang akan berpengaruh negatif dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia makanya diturunkan. Oleh sebab itu penuruan BI Rate tersebut sehingga diikuti penurunan suku bunga untuk menopang investasi," papar Fauzi.

Sedangkan Direktur Konsumer Bank BJB Arie Yulianto mengatakan, kebijakan Bank Indonesia menurunkan suku bunga atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,5% dari sebelumnya 6,75%, dinilai akan berdampak positif terhadap perekonomian dalam negeri. Kebijakan ini akan berimbas pada penurunan atau tetapnya suku bunga deposito maupun kredit perbankan. "Bagus sekali. Positif sekali. Penurunan BI rate akan membantu masyarakat dan pertumbuhan ekonomi lebih baik," ujar Arie kepada wartawan di Bandung.

Tetapi, pihaknya tidak bisa memprediksi besarnya penurunan suku bunga dari deposito, tabungan, maupun kredit dari penurunan BI Rate tersebut. "Untuk penentuan turun atau tidaknya suku bunga, masih harus dikaji dengan tim khusus. Baru diberlakukan," imbuhnya.

Penetapan suku bunga yang baru tersebut akan berlaku setelah waktu perjanjian dengan nasabah mengambil produk perbankan selesai. "Seperti deposito, perubahan suku bunga akan berlaku setelah habis waktu perjanjiannya. Begitu juga untuk kredit. Jadi suku bunga tidak langsung berlaku pada saat diputuskan," tukasnya.

Rupiah Stabil

Bank Indonesia menyatakan, turunnya BI Rate menjadi 6,5% menyebabkan nilai tukar rupiah terhadap US$ stabil. "Confidence pasar ada dan antisipasi pasar ada, dan yakin kenapa setelah mengambil kebijakan itu rupiah stabil. Dan ada rebound di pasar saham dan ada obligasi pemerintah dan tren capital inflow akan tetap masuk," jelas Direktur Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI, Perry Warjiyo di Jakarta, Jumat (14/10).

Menurut dia, evaluasi terhadap BI rate terus dilakukan setiap bulan. "Setiap bulan kita tetap evaluasi, dan kita tetap kan itu. Kalau direction-nya itu kesana, kalau magnitude dan timing arahnya ke sana dan Dewan Gubernur (DG) yang memutuskan sesuai kondisinya," katanya.

Terkait cadangan devisa, BI meyakini neraca pembayaran akan kembali surplus. "Sumber dari migas tetap akan masuk. FDI atau foreign direct investment juga akan masuk, portfolio yang keluar juga tetap akan kembali masuk. Dan kemarin neraca pembayaran akan kembali surplus," jelas Perry.