Usaha Mikro Kecil Perlu Kemudahan Permodalan

Senin, 17/10/2011

Jakarta - Langkah Induk Koperasi Wanita Pengusaha Indonesia (Inkowapi) memberdayakan usaha mikro dan kecil (UMK) semakin melaju. Setelah meluncurkan program Co Entrepreneur sebagai salah satu sarana pendukung meningkatkan jiwa kewirausahaan anggota koperasi, kali ini giliran para UMK yang berada di kawasan bisnis Thamrin City Jakarta yang akan diberdayakan Inkowapi dari sisi permodalan.

“Jumlah usaha mikro di Indonesia itu sudah mencapai 53 juta unit usaha. Namun, masih banyak yang belum mendapat sentuhan bantuan permodalan”, ungkap Ketua Umum Inkowapi Sharmila, dalam seminar “Cara Mudah Mengakses Modal Untuk Usaha Mikro dan Kecil”, yang diselenggarakan Inkowapi, di Jakarta, Jumat.

Menurut Sharmila, bila para UMK mendapat permodalan, tidak tertutup kemungkinan mereka akan “naik kelas”. “Rata-rata kendala para UMK itu seragam yaitu, permodalan”, tukas dia.

Di tempat yang sama, Prof Phillips dari Amerika Serikat yang juga menjadi pembicara dalam seminar tersebut mengamini pendapat Sharmila. Menurut dia, saat ini Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) sudah menyadari pentingnya keberadaan usaha mikro untuk dikembangkan. “Usaha mikro kecil sekarang sudah menjadi ideologi baru bagi PBB”, tandas Prof Phillips yang selama ini berkecimpung dalam urusan pengembangan UMK di seluruh dunia.

Prof Phillips mengakui, usaha mikro di Indonesia sudah berkembang secara signifikan. Namun, dia menegaskan bahwa lebih baik bantuan permodalan lebih diprioritaskan untuk kaum perempuan. Alasannya, selain disebut lebih pintar dan disiplin dalam menjalankan roda usaha, kaum hawa juga lebih fokus dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga. "Saya setuju bila kredit lebih difokuskan untuk mengembangkan usaha para perempuan", kata Prof Phillips yang bersama Sharmila akan membuat institut wanita pengusaha di seluruh Indonesia. Di tempat itu akan akan diajarkan bagaimana mengelola keuangan, bisnis plan, training usaha, dan sebagainya.

Prof Phillips mengungkapkan bahwa semua franchise besar dari Amerika Serikat seperti KFC, Mc Donalds, dan yang lainnya, berasal dari usaha mikro dan kecil. Bahkan, ada “raksasa” bisnis yang dulunya berasal dari kalangan home industry. “Kalau mereka bisa besar dan mengglobal, tidak tertutup kemungkinan akan lahir raksasa bisnis dari UMK di Indonesia”, papar Prof Phillips lagi.

Pembicara lainnya, Direktur Bisnis Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Kementrian Koperasi dan UKM Warso Wijanarto:menjelaskan bahwa sebaiknya UMK bergabung ke dalam koperasi agar koperasi bisa menyalurkan dan bergulir kepada anggotanya. “LPDB akan menyalurkan dana ke koperasi-koperasi. Nah, dari koperasi inilah dana akan disalurkan ke anggotanya yaitu unit usaha yang belum bankable”, kata Warso.

Bicara tingkat suku bunga, Warso mengatakan, untuk koperasi primer maksimal 12 persen. Namun, rata-rata rate normal koperasi primer adalah 9 persen. “Dari koperasi primer ke para anggotanya itu sesuai rapat anggota atau RAT masing-masing koperasi. Tenor untuk koperasi primer maksimal lima tahun”, tukas dia.

Menyoal agunan, Warso menegaskan tidak ada. Agunan yang berlaku adalah piutang lancar dan juga “personal guarantee” dari pengurus koperasi yang bersangkutan. “Tidak ada agunan tambahan”, tegas Warso lagi.