Bekerja Sebagai TKI/TKW Belum Tentu Sejahtera

Senin, 17/10/2011

NERACA

Cianjur- Hasil kerja keras mencari uang di negeri asing, ternyata tidak serta merta merubah nasib seseorang menjadi lebih baik. Dari sekitar 40.000 warga Cianjur yang menjadi TKI/TKW (Tenga Kerja Indonesia/Tenaga Kerja Wanita) di luar negeri, diperkirakan hanya sekitar 10 % saja yang ketika pulang kampung, kehidupannya mengalami perubahan (sejahtera).

“Menurut pemantauan kami, warga Cianjur yang bekerja sebagai TKI, hanya sebagian kecil saja yang tingkat kesejahteraan keluarganya mengalami perubahan. Perubahan itu, pada umumnya hanya sebatas memiliki rumah dan isinya,” ujar Sekretaris Bale Niaga Cianjur, Hary Sastrakusumah dalam percakapnnya dengan Neraca, akhir pekan kemarin.

Menurut dia, hanya pada saat masih bekerjalah uang masih bisa mengalir untuk dikirimkan kepada keluarga yang ada di kampung. Setelah habis masa kontrak kerja, kemudian pulang kampung, mereka binggung mau kerja apa. Sementara uang hasil kerja kerasnya, telah habis dibelikan barang konsumtif dan biaya makan sehari-hari.

Para TKI (Tenaga Kerja Indonesia) ketika memutuskan untuk mengadu nasibnya di negeri orang, hanya berbekal tekad dan keinginan mendapatkan uang karena upah yang besar. Selebihnya mereka berharap dengan gaji yang besar, mereka bisa mengirimkan uang kepada keluarganya di kampung untuk memenuhi kebutuhan hidup dan merubah nasib keluarganya.

Tapi sangat disayangkan, imbuh Hary, kebanyakan uang yang dikirimkanya, hanya habis dipergunakan untuk bayar hutang dan kebutuhan hidup sehari-hari. Tidak dibelikan kepada sesuatu yang menjadi invesnya di masa datang, baik sebagai modal usaha untuk membuka warung dan usaha lain yang bisa menghasilkan uang.

Mantan TKI asal Desa Sindangasih Kecamatan Karangtengah Kab. Cianjur, Maesaroh mengungkapkan, ketika dirinya bekerja di Saudi Arabia, setiap enam bulan sekali mengirimkan uangnya ke keluargnya antara Rp. 3 juta s/d 5 juta. Bahkan ketika dirinya pulang selama empat tahun kerja dengan membawa uang Rp. 40 juta. Ketika di kampungnya, uangnya dalam tempo beberapa bulan habis hanya untuk membayar hutang dan biaya kehidupan sehari-hari.

“Entah kemana uang yang saya bawa rasanya habis begitu saja. Saya sendiri tidak tahu,”ungkap dia lirih.

Kabid Perekonomian pada Kantor Dinas BAPEDA (Badana Perencanaan Daerah) Kab. Cianjur, Munajat kepada Neraca Jum’at (14/10) mengungkapkan, itulah kenyataan yang dialami para TKI asal Kab. Cianjur. Pada umumnya, ketika mereka pulang kampung nasibnya tidak mengalami perubahan. Bahkan seolah-olah hasil jerih payahnya dengan menjadi TKI mencari uang di negeri orang, habis begitu saja.

“Kejadian seperti itu, bisa disebabkan para TKI tidak memiliki target dan perencanaan yang cukup matang dalam mengelola uang dengan baik, akhirnya uang yang didapat selama bekerja menjadi TKI, habis dengan begitu saja. tidak jelas habisnya uang itu dibelikan kebutuhan sehari-hari atau sekedar membayar hutang, “terang Munajat

Secara umum para TKI, menurut dia, bertujuan untuk merubah nasibnya. Tapi pada kenyataannya banyak dari mereka ketika memutuskan untuk menjadi TKI, ada yang terlilit hutang, ingin beli rumah, sawah dan barang-barang konsumtif. Sehingga ketika pulang nasibnya tidak mengelami perubahan yang cukup signifikan. Mereka tetap masih serba kekurangan. Kalaupun ada yang mengalami perubahan dalam hidupnya, itu hanya terjadi pada para TKI yang sudah memiliki rencana yang cukup jelas.

“Itu kembali ke masalah SDM (Sumber Daya Manusia) yang masih lemah. Ketika memutuskan menjadi TKI tidak punya rencana yang matang, uang hasil kerjanya nanti untuk apa. Tapi jika SDM nya cukup, maka tidak menutup kemungkinan nasib diri dan keluarganya akan mengalami peningkatan. Tapi ada juga dari sekian banyak para TKI yang sukses, kehidupannya mengalami perubahan ke arah yang lebih baik/ sejahtera dibanding sebelumnya,”papar Munjat.

Dijelaskannya, perlu pembinaan dan arahan yang cukup jelas bagi para calon TKI, dari pihak keluarga, sponsor maupun pihak terkait lainnya. Ketika para calon TKI memutuskan mencari kerja di negeri orang, tidak hanya masalah keterampilan, pendidikan, tapi juga mental serta diberikan wawasan atau gambaran mengenai jenis kerjaan yang akan dihadapinya.

“Hal ini bukan saja akan memberikan gambaran tentang kondisi kerjaan yang akan dihadapi, tapi lebih kepada menimalisir terjadinya tidakan yang akan merugikan para TKI.”tukas dia.