Bahasa dan Pilar Bangsa

Oleh: A Eko Cahyono

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Jakarta - Banyak kejadian penting pada bulan Oktober, mulai dari Hari Kesaktian Pancasila, Hari jadi TNI dan Sumpah Pemuda. Bahkan karena adanya Sumpah Pemuda itulah hampir setiap tahun pada bulan ini selalu ditetapkan sebagai bulan bahasa Indonesia. Karena bahasa selain menunjukan identitas, juga sekaligus menunjukkan bangsa yang maju dan beradab.

Bulan bahasa sebenarnya bisa dijadikan momentum untuk meningkatkan kualitas kehidupan bermasyarakat, terlebih lagi dalam kualitas pergaulan sosial. Semakin terbiasa berbahasa dengan baik, semakin menolong kita untuk terus meningkatkan kualitas kehidupan berbangsa

Bahasa Indonesia pula-lah yang mempersatukan dan sekaligus memperkuat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia(NKRI) menjadi sedemikian rupa. Dengan kekuatan bahasa Indonesia-lag, maka 4 pilar bangsa, yakni NKRI, Kebinekaan Tunggal Ika, Pancasila dan UUD 1945 menjadi lebih kokoh menjaga keutuhan nusantara.

Meski disana-sini persoalan bangsa makin rumit, mulai tawuran pelajar-wartawan, tawuran antar kampong, korupsi, serangan pelemahan KPK dan lainnya. Namun 4 pilar bangsa tersebut mestinya menjadi pegangan para penyelenggara negara, baik legislatif, eksekutif dan yudikatif.

Keutuhan bangsa melalui, pemahamanan UUD 1945 juga sedang diuji. Karena bukan cuma “perkelahian” pelajar, tapi juga “perkelahian antar lembaga negara, mulai konflik DPR-KPK, Polri-Kejaksaan Agung dan KPK-Kepolisian dan lainnya.

Yang jelas, langkah MPR-RI menggelar sosialisasi empat pilar berbangsa dan bernegara, Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika perlu mendapat apresiasi. Tak penting medianya, apakah bentuk cerdas cermat sampai Wayang Kulit sebagai media komunikasinya. Yang penting sosialisasi itu bisa mencapai sasarannya, yakni masyarakat.

Namun yang paling penting dari sosialisasi 4 pilar kebangsaan itu adalah pencapaian target pembangunan yang bisa mengentaskan kemiskinan serta pengangguran. Setidaknya 4 pilar tersebut bisa disandingkan dengan program 8 tujuan percepatan pencapaian MDGs pada 2015 dan proyek Master Plan Percepatan Pembangunan (MP3EI).

Delapan target pencapaian MDGs yang dimaksud adalah penanggulangan kemiskinan dan kelaparan, kedua mencapai pendidikan dasar untuk semua, ketiga mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, keempat menurunkan angka kematian anak, kelima meningkatkan kesehatan ibu, keenam memerangi HIV, AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya, ketujuh memastikan kelestarian lingkungan hidup, kedelepan membangun kemitraan global untuk pembangunan. Target pencapaian MDGs 2015 agar bisa tercapai, paling tidak mendekati pencapaian kesejahteraan yang dipersyaratkan dunia.

BERITA TERKAIT

Korupsi dan Transaksi Bursa

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi., Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Perdagangan bursa di awal tahun 2019 mencetak IHSG…

Polemik Harga Tiket, Dugaan Kartel dan Penyelamatan Maskapai

Oleh: Royke Sinaga Pesawat terbang sebagai moda transportasi harus diakui tetap menjadi favorit bagi masyarakat. Selain dapat menjelajah jarak ribuan…

BEI Suspensi Saham BDMN dan BBNP

PT  Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara waktu perdagangan dua saham perbankan yang direncanakan akan melakukan merger usaha pada perdagangan…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Neraca Perdagangan Indonesia Berada di Level Aman

    Oleh: Safrizal Fajar, Pemerhati Ekonomi Pembangunan   Sebagai negara berkembang dengan pertumbuhan ekonomi yang meroket, permintaan pasar dalam…

Debat Perdana Sebagai Momentum Kemenangan Demokrasi

    Oleh:  Ahmad Harris, Mahasiswa FISIP Universitas Dharma Agung               Debat perdana capres-cawapres dalam menyongsong Pemilu 2019 menarik…

Mengaborsi Koperasi

Oleh: Suroto, Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES) Profesor David Henly, pakar hukum adat dari Universitas Leiden yang meneliti koperasi…